Perbedaan antara Banjir 2020 dengan Banjir 2021

Oleh:Syora Alya Eka Putri

Editor:Aditya Gagat Hanggara

26 Feb 2021

Awal 2021, beberapa wilayah di DKI Jakarta terendam oleh banjir. Hal tersebut mengingatkan kembali pada awal 2020, beberapa wilayah di DKI Jakarta dan sekitarnya juga terendam oleh banjir. Salah satu penyebab banjir pada awal 2020dengan 2021adalah akibat cuaca ekstrem yang ditandai dengan curah hujan tinggi. Namun, adakah perbedaan banjir yang terjadi pada 2021 dengan banjir pada 2020?  


 

Beda Banjir 2020 dengan Banjir 2021

Perbedaan banjir antara kedua tahun tersebut terlihat dari beberapa hal, seperti jumlah RW yang tergenang, jumlah pengungsi, jumlah lokasi pengungsian, dan waktu surut genangan air. Berikut ini data perbedaannya.


 

Sumber: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta(2021)


 

Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan penurunan dari banjir pada 2020 dengan banjir pada 2021. Namun, sebelum kita membahas perbedaan, terdapat sebuah persamaan, yakni curah hujan yang sama-sama termasuk dalam klasifikasi curah hujan ekstrem (lebih dari 150 mm/hari). Curah hujan tertinggi pada 2020 sebesar 337 mm. Sementara curah hujan tertinggi pada 2021 sebesar 226 mm. Perbedaan dapat mulai kita lihat dengan adanya penurunan pada jumlah RW yang tergenang. Pada 2020 sebanyak 390 RW yang tergenang banjir, sedangkan pada 2021 sebanyak 113 RW. Berikutnya, jumlah pengungsi juga berkurang. Pada 2020 sebanyak 36.445 jiwa yang mengungsi, sedangkan pada 2021 ada 3.311 jiwa yang mengungsi akibat banjir. Lalu, jumlah lokasi pengungsian menurun pula. Pada 2020 terdapat 269 lokasi pengungsian yang tersebar di beberapa wilayah, sedangkan pada 2021 terdapat 44 lokasi pengungsian. Terakhir, waktu surut genangan air pun terjadi penurunan. Pada 2020 genangan air surut paling lama empat hari, sedangkan pada 2021 genangan air surut hanya dalam waktu sehari. 


 

Fokus Penanganan Banjir 

Penanganan banjir pada 2021 juga menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan 2020. Hal ini terlihat dari penurunan wilayah yang terdampak banjir, kecepatan waktu surut genangan, jumlah pengungsi dan lokasi pengungsian. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya untuk menangani banjir, seperti:

  • Normalisasi Saluran Air

Normalisasisaluran air merupakan metode yang digunakan agar sungai memiliki kapasitas untuk menyalurkan air, terlebih saat curah hujan tinggi. Langkah yang diambil untuk normalisasi sungai yaitu melakukan pengerukan sungai, membangun sodetan, dan pembangunan tanggul. Pemerintah Provinsi DKI Jakartatetap mendukung program normalisasi sungai yang berintegrasi dengan pemerintah pusat. 


 

  • Membangun Sumur Resapan

Pemerintah Provinsi DKI Jakartajuga membangun sumur resapan. Ada sekitar 3.964 titik sumur resapan di Jakarta. Kedepannya, membangun sumur resapan menjadi program jangka panjang. Targetnya akan ada 300.000 sumur resapan yang akan dibangun. Pada 2020, Dinas Sumber Daya Air telah membuat 2.974 sumur resapan. 


 

  • Mengoptimalkan Pompa 

Sebagai antisipasi banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakartajuga mengoptimalkan pompa dan membangun lima rumah pompa di Jakarta. Kemudian, di musim penghujan, Pemprovmenyiapkan 487 unit pompa stasioner dan 175 unit pompa mobile. Pompa stasioner tersebar di dekat sungai, waduk, dan pintu air, sedangkan pompa mobile disiagakan di titik rawan banjir. 


 

Untuk mendapatkan informasi terkini mengenai banjir di Jakarta, Smarticitizen dapat memantau kanal resmi milik Pemprov DKI Jakarta melalui website Pantau Banjir Jakarta. Selain itu, Smarticitizen juga dapat mengunduh aplikasi JAKI melalui Google Play Store  atau App Store, untuk melaporkan genangan dengan fitur JakLapor.

Artikel Smart Environment Lainnya

Bertransformasi menjadi kota global, Jakarta perlu terus menjaga lingkungannya. Inilah hal-hal yang dilakukan supaya emisi karbon berkurang.

Musim hujan di Jakarta bikin lingkungan rentan terhadap banjir. Inilah yang dilakukan Pemprov DKI supaya warganya tetap aman.

Curah hujan yang tinggi berpotensi mengakibatkan banjir. Memasuki musim hujan, ini cara mencegah banjir yang perlu kamu tahu.

Tata kelola suatu smart city berjalan berkat salah satu pilarnya, Smart Environment. Dari sini, lahir pula inovasi-inovasi yang membantu warga.

Ada alasan ilmiah di balik cuaca panas saat ini. Simak penyebab dan cara menghadapinya, yuk!

Bakar sampah bisa menjadi tindakan ilegal dan kamu bisa melaporkannya. Namun, bagaimana caranya ya? Bahas di sini, yuk!