Menikmati Hijaunya RTH Taman Suropati

Oleh:Teresa Simorangkir

Editor:Aditya Gagat Hanggara

04 Nov 2021

Situasi Covid-19 di Jakarta kian baik. Level PPKM kembali turun hingga ke level satu (Kepgub Nomor 1312 Tahun 2021). Sebagai warga Jakarta, pasti kita merasa jauh lebih tenang, apalagi kini Ruang Terbuka Hijau (RTH) telah kembali dibuka secara bertahap. Bila di artikel sebelumnya kita membahas rekomendasi RTH yang sudah dibuka, kini kita akan berkeliling dan bersantai di Taman Suropati, Jakarta Pusat.

Hal-hal Menyenangkan di RTH Taman Suropati

Lebih dari satu tahun mendekam di dalam rumah, bukan hal aneh kalau kita merasa jenuh dan stres. Belajar dan bekerja dengan pemandangan tembok kamar yang itu-itu saja mungkin membuat frustrasi. Karena itu, pembukaan kembali RTH Taman Suropati menjadi suaka bagi pencari suasana hijau. Ada beberapa alasan yang membuat Taman Suropati menjadi favorit warga Jakarta untuk melepas penat. Pertama, lokasi RTH ini ramah untuk pengguna transportasi umum dan mudah ditemukan. Kalau kamu pengguna Commuter Line, kamu bisa turun di Stasiun Cikini. Untuk pengguna Transjakarta, turunlah di Halimun yang dilewati rute 4, 4D, dan 6M. Kedua, RTH seluas 16.328 m2 ini dapat dikunjungi secara gratis. Pengunjung boleh berolahraga atau mengajak main sepatu rodamu yang sudah diam teronggok setahun lebih dan berseluncur di taman ini. Ketiga, banyak pohon pelindung yang menawarkan rasa teduh untuk kita yang singgah.

Ketika tiba di Taman Suropati, saya agak kaget karena beberapa akses ke taman ditutup. Sempat ada pertanyaan “Lho, katanya sudah dibuka? Kok masih ditutup?” Ternyata, pada masa PPKM, area masuk RTH hanya dibuka satu arah, yaitu di sisi Jalan Suropati yang sederet dengan Pos Polisi Suropati. Sebelum masuk, kita wajib sudah divaksinasi dan mengisi buku tamu yang tersedia. Setelah suhu tubuh diukur dan diizinkan masuk oleh petugas, saya duduk di bangku terdekat air mancur.

Salah satu air mancur di Taman Suropati

Menurut saya, dibandingkan untuk berpiknik, RTH Taman Suropati lebih pas untuk agenda duduk-duduk atau baca buku. Smartcitizen bisa bawa buku sendiri, bisa juga baca buku yang tersimpan di dalam Bookhive. Banyak bangku taman di sini, sempurna untuk leha-leha dipayungi pepohonan besar nan rindang. Suara gemercik air mancur, kicauan burung-burung yang bersahutan, berpadu dengan angin yang bertiup adem, bikin hampir lupa kalau saya lagi di Jakarta.

Rumah burung yang ada di beberapa titik Taman Suropati

Bookhive yang bukunya bebas dibaca siapapun

Ini adalah kunjungan pertama saya setelah taman dibuka. Suasana hari itu tidak ramai, mungkin karena sedang jam kerja. Hanya ada segelintir pengunjung yang duduk di bangku taman meresapi suasana tenang taman. Terdengar suara sapu dari petugas taman yang selalu sigap mengumpulkan dan membersihkan dedaunan yang berguguran.

Area refleksi kaki

Salah satu spot RTH Taman Suropati yang menjadi incaran pengunjung adalah area setapak bebatuan putih alias area refleksi kaki. Katanya, berjalan bertelanjang kaki di atas bebatuan ini mampu membuat tubuh lebih rileks dan menjaga kesehatan organ-organ tubuh.

Smartcitizen mau cari spot instagrammable di sini? Bisa banget! Dulu, beberapa teman SMA saya bahkan pernah berfoto buku tahunan di area ini. Siapkan kamera dan angle terbaik, percayalah, indah dan hijau taman yang melatarbelakangi fotomu pasti akan terlihat insta-worthy! Saat berfoto, perhatikan di mana kakimu berpijak, ya! Jangan sampai rumput dan tanaman hias yang tumbuh rusak terinjak.

Tak Hanya Rekreasi, RTH Berfungsi Untuk Menyerap Air Hujan

Suasana hijau dan nyaman mungkin membuat kita berpikir bahwa RTH umumnya hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Tapi, kalau kita perhatikan, RTH Taman Suropati ditumbuhi vegetasi yang sanggup mengikat air di dalam tanah. Berdasarkan papan informasi, ada 93 pohon pelindung yang tumbuh di Taman Suropati. Pohon mahoni adalah salah satu bintang di sini. Tumbuh besar dan bercabang tinggi, kehadiran pohon mahoni memberikan rasa betah ketikamenatapnya. Sejak dahulu, mahoni memang dimanfaatkan sebagai pohon peneduh karena kemampuannya menyerap polutan. Rasa sejuk di taman bisa kita rasakan berkat kehadiran pohon ini. Akar tunggang pohon mahoni yang kuat juga mampu menyimpan air yang meresap ke dalam tanah, sehingga bisa menahan air saat musim hujan. Selain mahoni, ada pohon ketapang, tanjung, bungur, khaya, dan sawo kicik yang tumbuh membubung melingkupi Taman Suropati.

Pohon mahoni megah yang melindungi Taman Suropati

Tetap Taat Protokol Kesehatan Saat Berkunjung

Walau sudah dibuka untuk umum, protokol kesehatan masih harus diterapkan karena pandemi belum usai. Jadi, siapkan masker dan hand sanitizer tiap berkunjung ke area publik ya, Smartcitizen! Di RTH Taman Suropati ini, juga ada petugas yang berkeliling untuk mengingatkan pengunjung yang tidak memakai masker dengan benar.

Baca juga: Tips Aman Rekreasi di Jakarta Saat Pandemi

Taman dibuka dari jam 7 pagi sampai pukul 5 sore dan daya tampung pengunjung masih dibatasi. Oleh karena itu, harap perhatikan waktu kunjunganmu. Terakhir, jangan lupa pakai JAKI sebelum masuk dan keluar ruang publik dan laporkan pelanggaran protokol kesehatan atau kerusakan fasilitas lewat JakLapor.Download aplikasi JAKI di Play Store dan App Store. Selamat menikmati yang hijau-hijau!

Penulis dan Editor

Artikel Smart Environment Lainnya

RDF Plant Jakarta di Rorotan merupakan tempat pengelolaan sampah, mengubahnya menjadi bahan bakar alternatif. Yuk, intip inovasi dari Jakarta ini!

Sungai di Jakarta merupakan sumber kehidupan warga. Untuk itu, kamu perlu tahu tiga pencemar utama sungai. Baca juga cara meminimalkannya di sini.

Bertransformasi menjadi kota global, Jakarta perlu terus menjaga lingkungannya. Inilah hal-hal yang dilakukan supaya emisi karbon berkurang.

Musim hujan di Jakarta bikin lingkungan rentan terhadap banjir. Inilah yang dilakukan Pemprov DKI supaya warganya tetap aman.

Curah hujan yang tinggi berpotensi mengakibatkan banjir. Memasuki musim hujan, ini cara mencegah banjir yang perlu kamu tahu.

Tata kelola suatu smart city berjalan berkat salah satu pilarnya, Smart Environment. Dari sini, lahir pula inovasi-inovasi yang membantu warga.