21 Mar 2023

5 Masjid di Jakarta yang Dekat Transportasi Umum

Oleh:Amira Sofa

Editor:Ramdan Malik Batubara, Aditya Gagat Hanggara

21 Mar 2023

Dalam membangun Jakarta sebagai kota cerdas (smart city), salah satu tantangannya adalah memastikan masyarakat bisa mengakses ruang publik dengan mudah menggunakan transportasi umum, termasuk masjid sebagai tempat ibadah. Di Jakarta ada beberapa masjid yang yang letaknya strategis dan berdekatan dengan stasiun ataupun halte transportasi umum. Buat mempermudah kamu dalam menunaikan ibadah saat harus bermobilisasi, terutama saat bulan Ramadan. Nah, di artikel ini Jakarta Smart City sudah merangkum lima masjid dekat transportasi umum, nih. Berikut daftarnya, yuk simak! 

Masjid Istiqlal

Di pusat kota Jakarta, tepatnya Jl. Taman Wijaya Kusuma, Masjid Istiqlal berdiri kokoh dan megah. Masjid ini dikenal sebagai masjid terluas di Indonesia maupun Asia Tenggara, dengan kapasitas 200.000 jemaah. Lokasi yang strategis, hanya berjarak 650 meter dari Stasiun Juanda dan 550 meter dari Halte Transjakarta Juanda, membuat Masjid Istiqlal cocok kamu pertimbangkan sebagai destinasi ibadah bila sedang bepergian dengan transportasi umum. 

Masjid Istiqlal Jakarta

Sumber: Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat 

Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Istiqlal merupakan salah satu ikon kota Jakarta yang memiliki nilai-nilai ilmu pengetahuan, pendidikan, keagamaan, dan sejarah. Pembangunannya sendiri dimulai setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945. Saat itu, Menteri Agama Republik Indonesia pertama, K. H. Wahid Hasyim, beserta beberapa ulama mencetuskan pembuatan sebuah masjid yang diharapkan dapat menjadi simbol Indonesia. Setelah melalui proses panjang, Masjid Istiqlal mulai dibangun pada 1961. Dalam proses pembangunannya, sederet tokoh penting turut terlibat, seperti Presiden Soekarno yang menjadi Kepala Bagian Teknik Pembangunan Masjid, Ketua Dewan Juri Sayembara Maket Istiqlal, hingga memancangkan tiang pertama Istiqlal. Sayangnya, pembangunan masjid ini sempat terhenti dan baru bisa rampung 17 tahun setelahnya. Peresmian penggunaan masjid pun dilakukan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Nama Istiqlal dipilih karena dalam Bahasa Arab memiliki arti “kemerdekaan”, sesuai dengan tujuan pembangunan masjid ini untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. 

Nilai-nilai keagamaan dan sejarah Masjid Istiqlal juga dapat dilihat dari arsitektur bangunan masjid. Setiap sudut Istiqlal memiliki filosofi terkait keislaman dan kemerdekaan Indonesia. Sebut saja tujuh pintu gerbang di Masjid Istiqlal yang menyimbolkan tujuh lapis langit. Kemudian, kubah Masjid Istiqlal yang berdiameter 45 meter sebagai lambang tahun kemerdekaan Indonesia: 1945. Selain itu, terdapat pula 12 tiang kokoh di ruang utama masjid yang menggambarkan 12 Rabiul Awal, tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menariknya, masjid ini dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen Protestan, membuatnya menjadi ikon pluralisme Masjid Istiqlal. 

Selain untuk beribadah, masjid Istiqlal kini juga berfungsi sebagai tempat pemberdayaan umat, bangsa, dan masyarakat, serta kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia. Beragam kegiatan rutin diadakan di Masjid Istiqlal, seperti pengajian, tablig akbar, perayaan hari besar Islam, penyediaan kebutuhan pokok, pengembangan institusi pendidikan Islami, hingga dialog lintas agama. Pada bulan Ramadan, biasanya Masjid Istiqlal akan mengadakan kegiatan seperti buka puasa bersama, tarawih, kajian yang diisi penceramah pilihan, hingga tadarus bersama.

Masjid K. H. Hasyim Asy’ari

Siapa sangka, dekat Rusunawa Pesakih di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, terdapat sebuah masjid raya pertama di Jakarta? Namanya Masjid K. H. Hasyim Asy’ari. Pembangunan Masjid Raya K. H. Hasyim Asy’ari dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 26 September 2014 dan masjid ini diresmikan pada 15 April 2017.

Jika ingin mampir ke Masjid Raya K. H. Hasyim Asy’ari, Smartcitizen bisa naik Transjakarta, lalu turun di Halte Rusun Pesakih yang terletak 260 meter dari masjid, atau di Halte Pesakih yang terletak 900 meter dari masjid. Memasuki kawasan masjid, kamu akan menemukan keunikan arsitektur bernuansa Betawi. Terlihat dari ornamen gigi balang dan pagar langkan dengan desain atap berbentuk segitiga. Sementara itu, nuansa Islam diwakili lima menara masjid yang melambangkan lima Rukun Islam. Dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektare, masjid ini dapat menampung hingga 12.500 jemaah.

Tak sebatas untuk kegiatan keagamaan, masjid ini juga sering dimanfaatkan untuk beragam fungsi lain. Sebagai contoh, lantai satu masjid digunakan untuk memfasilitasi pertemuan masyarakat. Di lantai yang sama terdapat pula sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sementara itu, lantai dua masjid berfungsi sebagai ruang salat utama dan ruang-ruang sosial yang saat ini masih dipakai Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Pada bulan Ramadan, biasanya kamu dapat menemukan berbagai kegiatan di Masjid K. H. Hasyim Ansyari, dari tarawih, pengajian, hingga bagi-bagi tumpeng atau makanan. 

Masjid Al-Azhar

Melipir ke Jakarta Selatan, ada Masjid Al-Azhar di bilangan Kebayoran Baru. Masjid ini dekat dengan beberapa tempat transportasi umum, seperti Halte Transjakarta Masjid Agung yang terletak di samping Masjid Al-Azhar dan Stasiun MRT Asean yang berjarak hanya 500 meter. Mulanya masjid ini dibangun dengan nama Masjid Agung Kebayoran. Masjid Al-Azhar dibangun pada 1953-1958 dan merupakan salah satu proyek kompleks permukiman dengan konsep satelit di Kebayoran Baru, yakni perumahan dengan fasilitas lengkap di dalamnya yang diprakarsai Presiden Soekarno. 

Pada 1960, Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Mahmoud Syaltut, berkunjung dan memberikan ceramah di Masjid Agung Kebayoran Baru. Beliau kagum melihat kemegahan masjid yang dipimpin Buya Hamka ini, sehingga menamainya dengan nama Masjid Al-Azhar. Sejak saat itu, Masjid Agung Kebayoran Baru dikenal dengan nama Masjid Al-Azhar. Arsitektur Masjid Al-Azhar yang didominasi warna putih pada fasad dan kubah besar berwarna sama menambah kesan suci serta megah pada bangunan. 

Tak hanya kegiatan beribadah, Masjid Al-Azhar menampung berbagai jenis kegiatan, seperti pusat keagamaan, aktivitas umat, pendidikan, hingga perekonomian. Di kompleks masjid ini berdiri Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar yang terdiri dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas Islam. 

Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Al-Azhar juga sungguh beragam, mulai dari pengajian agama, majelis taklim, ceramah, kursus, pelayanan jenazah, pelayanan kesehatan, bimbingan perjalanan haji dan umrah, layanan perbankan, biro perjalanan, hingga masih banyak lainnya. Kegiatan ini bersifat inklusif dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan maupun daerah. Pada bulan Ramadan nanti, Masjid Al-Azhar juga tetap mengadakan tarawih hingga membagikan hampers kepada jamaah. 

Masjid Al-Hurriyah 

Kalau Smartcitizen bermobilitas di sekitar Stasiun Pasar Minggu Baru, Jakarta Selatan, dari peron, kamu sudah dapat melihat bangunan Masjid Al-Hurriyah. Masjid ini dibangun di Jalan Batu Merah IV, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, oleh MNC Group. 

Mengusung tema industrialis, eksterior dan interior Masjid Al-Hurriyah di Pasar Minggu didominasi warna abu-abu, hitam, serta putih. Meski tanpa pendingin ruangan, masjid ini sejuk karena plafonnya yang dirancang tinggi. Keunikan lainnya terlihat dari atap yang dibuat dari tiga ruas atap miring dengan ukuran lebih kecil. Setiap ruas tersebut membagi tiga area masjid, yakni serambi, tempat ibadah bertingkat, dan area ibadah utama. Area dalam masjid pun sangat selesai dengan bukaan yang luas, pencahayaan yang cukup, dan sirkulasi udara yang baik. Meski masjid terbilang baru, masjid sudah bisa digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, pada bulan Ramadan, masjid ini mengadakan acara menjelang berbuka puasa, yakni marawisan, tausiah, hingga berbagi takjil. 

Masjid Cut Meutia

Jakarta Pusat punya satu masjid yang dekat dengan akses transportasi umum, yakni Masjid Cut Meutia. Masjid ini hanya berjarak 120 meter dari Stasiun Gondangdia, sehingga bisa jadi alternatif buat kamu yang ingin beribadah ketika mau bermobilitas dengan kereta. Dari fasad bangunan bernuansa Eropa yang tanpa kubah, sudah terlihat bahwa Masjid Cut Meutia dulunya merupakan bekas gedung perkantoran pada zaman penjajahan Belanda. Masjid ini memiliki keunikan, yakni mihrab yang diletakkan di kiri saf salat, tidak di tengah seperti masjid pada umumnya. Selain itu, posisi saf juga dibuat miring, karena masjid tidak tepat mengarah ke kiblat.  

Dari tahun ke tahun, bangunan Masjid Cut Meutia telah banyak berganti fungsi. Pada 1912, bangunan tersebut merupakan kantor Biro Arsitektur dan Pengembang bernama N. V. De Bauploeg. Kemudian, sempat pula menjadi kantor Wali Kota Jakarta Pusat, kantor Perusahaan Daerah Air Minum, Kantor Pos, kantor Dinas Perumahan DKI Jakarta, hingga kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Sampai pada akhirnya setelah MPRS pindah, bangunan tersebut ditransformasi menjadi Masjid Cut Meutia. 

Beragam kegiatan yang digelar oleh pengurus Masjid Cut Meutia untuk memberdayakan jamaah. Dari pengajian bagi ibu-ibu, pengajian three in one untuk karyawan di sekitar Menteng, kursus anak yatim, pengajian bulanan, hingga Ramadan Jazz Festival yang menyasar anak muda, milenial, dan generasi Z agar dekat dengan lingkungan masjid. 

Itu dia Smartcitizen, lima masjid dengan akses dekat transportasi umum yang bisa kamu kunjungi bila perlu beribadah saat sedang bermobilitas. Kalau selama berkelana dengan transportasi umum, kamu perlu cek jadwal Transjakarta, MRT, LRT, atau Mikrotrans, cek fitur Transportasi Publik di JAKI, ya. Aplikasi JAKI bisa kamu unduh lewat Google Play Storeatau Apple App Store. Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat!

Artikel Spot Hits Lainnya

Kalau lagi nyari event-event asyik buat isi libur panjang, coba cek ini!

Masjid-masjid di Jakarta ini bisa dijadikan destinasi ibadah kalau lagi bermobilitas. Ada apa aja? Simak berikut ini.