18 Feb 2022

Kisah Sukses Usulan Musrenbang: RPTRA Vlaboean Klender

Oleh:Amira Sofa

Editor:Aditya Gagat Hanggara

18 Feb 2022

Membangun Jakarta bukan hanya tugas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melainkan juga seluruh pemangku kepentingan yang terlibat langsung dengan ibu kota, termasuk masyarakat. Karena itu, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, agar pembangunan Jakarta dapat lebih optimal. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menyuarakan aspirasi dan usulan dalam membangun kota. Dengan begitu, inovasi kota tak hanya lebih optimal, namun juga sesuai kebutuhan masyarakat.

Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) merupakan salah satu wadah aspirasi yang dapat dimanfaatkan. Musrenbang adalah agenda tahunan warga untuk bertemu dan mendiskusikan masalah perkotaan yang dialami dan memutuskan prioritas pembangunan jangka pendek. Terdapat sederet inovasi di ibu kota yang merupakan hasil dari Musrenbang. Dari sekian banyak inovasi ini, ada satu yang terbilang baru dan menarik perhatian, yakni Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Vlaboean di Kelurahan Klender. Yuk, simak kisah sukses pengembangannya.

Berawal dari Keinginan Warga Miliki RPTRA

RPTRA Vlaboean seluas 1.100 m2 adalah RPTRA pertama dan sejauh ini satu-satunya di Kelurahan Klender, Jakarta Timur. Sebelum dibangun, Kelurahan Klender tidak memiliki RPTRA sama sekali. Padahal, RPTRA sudah mulai dibangun di Jakarta sejak 2015, saat Pemprov DKI Jakarta mulai berupaya mewujudkan cita-cita ibu kota yang ramah anak. Hal ini cukup mengusik perasaan warga Klender. Terlebih saat mereka melihat kelurahan lain yang telah memiliki RPTRA sebagai tempat bertemu, berkolaborasi, dan berkreasi warga.

Akhirnya, melalui program Musrenbang 2019, warga Klender menyampaikan keinginannya untuk memiliki ruang terbuka hijau. Tri Budiyanto, sebagai lurah yang menjabat, menerima ide ini dengan antusias. Ternyata, ia pun memiliki kekhawatiran yang sama. Dengan wilayah relatif luas yang terdiri dari 18 Rukun Warga (RW) serta jumlah penduduk cukup banyak, sangat disayangkan bila Klender tidak memiliki RPTRA.

Usulan Musrenbang tersebut pun mulai diupayakan agar terwujud. Berkoordinasi dengan RW, Pak Budiyanto pun melihat potensi lahan di Klender. Hampir setiap pagi ia memutari Klender dan mencari lahan yang sekiranya cocok dijadikan RPTRA. Sampai suatu hari, ia melewati sebuah lahan terbengkalai di dekat Sekolah Dasar (SD) Negeri Klender 14 Pagi. Lahan tersebut kumuh dan tak terurus. Beberapa gerobak teronggok di pinggir lahan. Kandang ayam dan tempat pembuangan sampah berdampingan, tak seperti yang seharusnya. Saat itu pula, Pak Budiyanto menemukan apa yang ia cari selama ini. Lahan kosong yang dapat disulap menjadi ruang bermanfaat bagi warga.

Dari informasi yang didapat, lahan tersebut milik Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta. Pihak Kelurahan Klender lalu bersurat kepada pemerintah tingkat kota dan provinsi terkait permohonan pembangunan RPTRA. Secara paralel, tim juga meminta izin kepada pemilik gerobak dan kendaraan yang kerap parkir di lahan untuk relokasi. Kemudian, Kelurahan Klender menjalani serangkaian rapat terkait dari tingkat RW, kota, hingga provinsi. Melihat potensi lahan yang berdekatan dengan berbagai sekolah dasar dan dapat dijadikan sarana edukasi serta kreasi bagi anak, usulan pembangunan RPTRA Klender melalui Musrenbang akhirnya disetujui sampai tingkat provinsi. RPTRA pun dibangun dengan kolaborasi bersama Wahana Visi Indonesia dalam rangka Corporate Social Responsibility (CSR). Proses pembangunan berlangsung dari 16 Juni hingga November 2021 serta diresmikan pada 2 Desember 2021 lalu dengan nama RPTRA Vlaboean. Hingga kini, setelah dua bulan kehadirannya di tengah Kelurahan Klender, RPTRA Vlaboean telah menjadi ruang hijau, sekaligus tempat warga mengembangkan potensi terbaiknya. Warga Klender menyambut penuh antusias kehadiran ruang terbuka hijau yang mereka nanti-nanti selama ini.

Ruang Kreasi Warga Klender untuk Berbagai Aktivitas

Siapa sangka lahan kumuh yang dulu hanya menjadi tempat parkir kendaraan, gerobak, dan tempat pembuangan sampah bisa menjadi ruang terbuka hijau? Siapa pula yang mengira bahwa lahan yang nyaris tak pernah dikunjungi siapapun ini menjadi tempat beragam kegiatan warga Klender?

Jika sekarang kamu menyusuri RPTRA Vlaboean, kamu akan menemukan tempat tersebut sudah tertata rapi. Di halaman depan, kamu bisa lihat RPTRA dipagar, sehingga lebih aman. Memasuki RPTRA, kamu juga bisa melihat aneka fasilitas untuk warga. Mulai dari ruang terbuka hijau yang bisa menjadi tempat evakuasi bila terjadi banjir, tempat bermain anak, lapangan olahraga, perpustakaan, aula sebagai ruang pertemuan, hingga ruang laktasi sebagai perwujudan konsep ramah anak. Ruang laktasi ini dilengkapi dengan berbagai perlengkapan seperti sofa untuk menyusui, timbangan bayi, meja resusitasi bayi, kulkas, dan wastafel. Berbagai kegiatan pun kerap digelar, baik dari internal warga Klender maupun eksternal.

Sejauh ini, ada satu kegiatan yang konsisten digelar di RPTRA Vlaboean Klender, yakni senam untuk ibu-ibu dan lansia setiap Senin dan Jumat. Sebelum PPKM Level 2 pun, sebenarnya ada lebih banyak kegiatan lain yang rutin dilakukan, seperti pengajian bulanan dan pertemuan RT serta RW terkait Musrenbang.

Namun, semenjak PPKM Level 2 lalu, kegiatan-kegiatan di RPTRA Vlaboean mulai dikurangi dan kapasitas pengunjung dibatasi hingga 25%. Peraturan ini sekarang telah disesuaikan dengan aturan PPKM Level 3 yang sedang berlaku. Selain kegiatan internal warga Klender, RPTRA Vlaboean juga bisa digunakan untuk berbagai kegiatan eksternal. Contoh dari kegiatan yang pernah dilaksanakan adalah sosialisasi tentang kebakaran, lokakarya dari mahasiswa KKN terkait pembuatan sabun dan digital marketing. Warga lokal yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut mengaku sangat senang karena bisa berkumpul, bersosialisasi, dan mendapat ilmu dari pihak luar.

Pengelolaan RPTRA Vlaboean Klender

Di balik RPTRA Vlaboean yang bersih, apik, fungsional, dan mampu merekatkan warga Klender melalui berbagai kegiatan kreatif, tentunya terdapat pengelola yang mumpuni. Di RPTRA Vlaboean, ada enam orang pengelola, mengikuti anjuran pemerintah. Setiap pengelola memiliki tugas masing-masing, seperti bidang tanam dan sebagainya. Namun, terkait kebersihan lingkungan outdoor maupun indoor, setiap pengelola tetap terlibat. Setidaknya dua kali sehari, yakni pagi dan sore hari, mereka selalu membersihkan serta merapikan RPTRA. Di luar itu, pengelola juga bekerja sama dengan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kerja sama tersebut meliputi berbagai ranah, seperti kegiatan kerja sama gotong royong, pendidikan anak usia dini, tanah atau tanaman, kerajinan, dan sebagainya.

Tim pengelola RPTRA dan Pak Budiyanto memiliki harapan yang besar ke depannya. Tim pengelola ingin dapat lebih mengkreasikan lagi setiap fasilitas yang ada, agar lebih menarik dan ramah anak. Dengan demikian, RPTRA Vlaboean kelak bisa menjadi pusat pendidikan informal, seperti kegiatan olahraga atau belajar mengenal tanaman bagi anak-anak yang bersekolah di SD sekitar. Sementara itu, tim pengelola pun terus berupaya menjalin hubungan baik dan berkomunikasi dengan guru serta kepala sekolah dari sekolah-sekolah di sekitarnya. Serupa tapi tak sama, Pak Budiyanto berharap bahwa RPTRA Vlaboean bisa mewadahi anak-anak dan remaja di Kelurahan Klender untuk lebih kreatif dan mandiri lewat kegiatan edukasi. Berbagai pelatihan seperti mengelas, komputer, dan semacamnya turut menjadi agenda kolaborasi mendatang bagi pengelola RPTRA Vlaboean.

Sampaikan Aspirasi, Majukan Jakarta Lewat Musrenbang

Sebagai sebuah inovasi yang lahir dari aspirasi warga melalui Musrenbang, RPTRA Vlaboean sudah dapat dibilang berhasil. Ia mampu memfasilitasi warga dengan aktivitas yang menunjang kreativitas dan kecakapan warga serta berfungsi secara ekologis. RPTRA ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh gagasan yang telah berhasil diwujudkan melalui Musrenbang. Kamu juga dapat lho mengatasi isu-isu perkotaan yang kamu rasakan di sekitar kediamanmu, dengan menyuarakan aspirasi terkait perencanaan program daerah dalam Musrenbang. Saat ini, periode Musrenbang masih berlangsung. Tak perlu takut ribet, kamu bisa menyampaikannya secara daring, melalui websiteMusrenbang DKI Jakarta. Yuk, kirim usulanmu dan buat perubahan kecil tapi berdampak besar bagi Jakarta!

Artikel Smart Governance Lainnya

Kota global Jakarta perlu kapasitas riset yang baik dan terus-menerus. Salah satunya penyajian open data melalui dashboard-dashboard ini.

Inilah smart governance, pilar smart city yang bersinergi dengan warga dan mendorong kota global. Baca selengkapnya di sini, ya!

Tahun ini, 30 tahun Jakarta dan Berlin bersinergi sebagai sister city. AsiaBerlin, merayakannya lewat acara Jakarta x Berlin.

Apa itu kota global? Apakah Jakarta salah satu contohnya? Yuk, cari tahu di sini!

Setelah melepas status ibu kota, Jakarta menjadi kota global. Begini alasan di balik transformasinya hingga upaya yang telah dilakukan Jakarta.

Dalam tiga hari, Berlin dan Jakarta menampilkan kesuksesan hasil kerja sama sebagai sister cities. Yuk, simak keseruannya!