06 Agt 2021

Kisah Di Balik Pengembangan Fitur Pendaftaran Vaksinasi Jakarta

Oleh:Amira Sofa

Editor:Aditya Gagat Hanggara

06 Agt 2021

Selama masa pandemi, rasanya begitu banyak peristiwa buruk yang menghampiri. Suara sirine ambulans kian akrab di telinga. Berita kematian terdengar lebih sering dari sebelumnya. Nyaris tak ada kabar baik. Hingga pada awal 2021, akhirnya kita mendapat angin segar berkat program vaksinasi di Jakarta. Vaksinasi yang dapat membantu pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga melindungi kita dari virus. 

Kini, tujuh bulan setelah vaksinasi Covid-19 pertama dilaksanakan di ibu kota, vaksinasi mulai menyasar warga berusia 12 tahun ke atas. Berbagai kemudahan pun secara bertahap kita dapatkan. Salah satunya dengan pendaftaran vaksinasi secara daring melalui aplikasi JAKI yang dikembangkan Pemprov DKI Jakarta. 

Keberhasilan JAKI menghadirkan layanan pendaftaran vaksinasi ini tak luput dari kerja keras berbagai pemangku kepentingan. Sebut saja Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Badan Layanan Umum Daerah Jakarta Smart City. Inilah kisah beberapa sosok di balik upaya mengembangkan fitur pendaftaran vaksinasi di JAKI. 

dr. Ngabila Salama - Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

“Semua berawal dari perencanaan vaksinasi tahap lansia,” ujar dr. Ngabila Salama, selaku Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Kala itu, program vaksinasi di Jakarta memasuki tahap kedua bagi petugas pelayanan publik dan lansia. Berbeda dengan sasaran vaksinasi sebelumnya, yaitu tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik, yang pelaksanaannya dilakukan di tempat kerja masing-masing, vaksinasi bagi lansia cukup rumit. Sebab, lansia tersebar di berbagai wilayah dan kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan mencari lokasi vaksinasi yang tersedia.

“Agar lansia di Jakarta dapat terakomodir dengan lebih baik untuk divaksin, akhirnya kami memutuskan untuk menghadirkan platform pendaftaran vaksinasi daring. Saat itu, Dinkes langsung menggaet Jakarta Smart City untuk berkolaborasi, mengingat sebelumnya kami juga telah bekerja sama dalam membangun JAKI melalui JakCLM (Corona Likelihood Metric),” ungkap Ngabila. 

Ajakan tersebut disambut dengan baik oleh Jakarta Smart City (JSC). Baik pihak JSC maupun Dinkes melihat potensi untuk menjadikan JAKI sebagai pusat data dan layanan terintegrasi mengenai Covid-19. Berbagai pemangku kepentingan berkumpul dan strategi pun mulai disusun. Masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tim-tim internal JSC menjalankan perannya masing-masing. Tentunya, semua itu disertai dengan koordinasi yang baik. 

Terkait peran Dinas Kesehatan, dr. Ngabila menambahkan, “Dinas Kesehatan di sini berperan untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan di lapangan ataupun keluhan masyarakat. Contohnya saja, ketika ada masalah kuota vaksinasi yang minim, Dinkes merekomendasikan pemberian kuota dan antrean khusus untuk pendaftar JAKI. Kami juga menambah fasilitas kesehatan yang melayani pendaftaran melalui JAKI, agar lebih banyak warga dapat divaksin.” Sementara itu, penentuan kuota vaksinasi di JAKI dilakukan secara mendetail, dengan menentukan secara spesifik dari lokasi, jam operasional vaksinasi, kuota pendaftaran JAKI di setiap faskes, hingga waktu istirahat. 

Melihat kondisi di lokasi vaksinasi yang fluktuatif, tentu saja diperlukan perbaikan, perubahan, dan pengembangan yang kontinu pada JAKI, agar dapat tetap memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, terkadang ada saja kendala yang ditemui saat proses tersebut. “Pengembangan sistem ini kan melibatkan banyak pihak. Selain Dinkes dan JSC, ada juga PeduliLindungi serta Disdukcapil. Salah satu tantangannya adalah bagaimana agar kita dapat meningkatkan komunikasi antar tim maupun OPD,” ujar dr. Ngabila. 

Meskipun sesekali menemui kendala dan tantangan, dr. Ngabila mengungkapkan bahwa pada akhirnya seluruh tim kembali semangat untuk membantu pelaksanaan vaksinasi lewat JAKI. “Kita punya tim yang solid, mau mendengarkan kritik, dan melakukan perubahan. Proses end-to-end JAKI juga sudah jelas. Jika dilihat dari hasilnya pun, JAKI berhasil mengurangi penumpukan dan memangkas proses di lokasi vaksinasi, sehingga vaksinasi menjadi tiga kali lebih cepat,” katanya. Keberhasilan JAKI sejauh ini, menjadi penyemangat tersendiri bagi seluruh tim yang terlibat. 

Sampai saat ini, Dinas Kesehatan, Jakarta Smart City, PeduliLindungi, dan Disdukcapil masih terus berupaya mengembangkan JAKI, agar menjadi super apps yang membantu warga Jakarta, terlebih semasa pandemi. Dr. Ngabila mengungkapkan harapannya terkait JAKI pada masa mendatang, “Kami berharap dapat terus berkolaborasi membangun JAKI, agar dapat mempercepat program vaksinasi dan mitigasi Covid-19 di Jakarta.”

Dwi Yanti Siregar - Tim Development Jakarta Smart City 

Berbicara tentang pengembangan sebuah aplikasi, tentunya tak lepas dari campur tangan para pengembang sistem. Di Jakarta Smart City, salah satu sosok tersebut adalah Dwi Yanti Siregar. Sebagai System Analyst dari Tim IT Development JSC, ia mengakui bahwa peran timnya cukup vital dalam pengembangan fitur pendaftaran vaksinasi di JAKI. “Pada dasarnya, Tim Dev bertanggung jawab cukup banyak hal, mulai dari membuat alur bisnis, menentukan fitur apa saja yang dapat diakses pengguna, sampai mengintegrasikan data dari Dinas Kesehatan dan Disdukcapil,” ungkapnya. 

Seluruh hal tersebut dilakukan secara berkelanjutan, mengingat pembuatan sistem bersifat agile dan mengikuti kondisi di lapangan yang dapat berubah sewaktu-waktu. “Awalnya fitur pendaftaran di JAKI ini kan dikhususkan untuk lansia, penjadwalan vaksin pun secara manual. Namun, seiring Jakarta memasuki vaksinasi tahap berikutnya, kita menyediakan pendaftaran vaksinasi untuk 12 tahun ke atas dan sekarang pendaftar sudah bisa memilih lokasi serta jadwal vaksinasi sendiri,” Dwi menambahkan. 

Mendengar cerita Dwi, dapat dibayangkan betapa cepat dan sigap seluruh pihak yang terlibat, terutama Tim IT Development JSC dalam mengembangkan fitur pendaftaran vaksinasi di JAKI. Belum lagi antusiasme yang tinggi terhadap  vaksinasi menyebabkan data bervariasi dan kuota bertabrakan. “Mengingat ada banyak sekali data sensitif pengguna, tentunya concern utama kami soal data security, dan bagaimana caranya agar data pendaftar vaksinasi di JAKI tetap aman,” ujarnya. 

Sebagai bagian dari tim yang memegang peranan penting dalam pengembangan JAKI, Dwi kerap merasa campur aduk saat fitur dirilis maupun diperbarui. Pernah suatu waktu, seorang temannya sesama developer menggunakan fitur pendaftaran vaksinasi JAKI. Tentu saja Dwi deg-degan, mengingat temannya juga seorang yang piawai mengembangkan aplikasi. “Untungnya, teman saya saat itu cukup senang dengan fiturnya. Ia merasa terbantu karena tak harus mendaftar vaksinasi langsung di lokasi vaksinasi. Lebih aman dan praktis,” ingat Dwi. 

“Tapi kalau dipikir-pikir, kehadiran orang-orang yang merasa terbantu dengan adanya JAKI itu yang membuat kita semua tetap semangat mengembangkan fitur ini. Senang juga, karena tak hanya bekerja, tapi juga dapat sekaligus berkontribusi menolong warga agar lebih terlindungi dari virus, meski hanya dari balik layar,” katanya.

Untuk ke depannya, harapan Dwi terhadap JAKI tak muluk-muluk. Ia hanya berharap, semoga fitur pendaftaran vaksinasi ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat dan semakin banyak orang yang divaksin agar pandemi bisa cepat berakhir. Mari kita aminkan harapan Dwi ya, Smartcitizen.

Andi Sulasikin dan Bahrul Ilmi Nasution - Tim Data Jakarta Smart City 

Pada sebuah fitur pendaftaran vaksinasi yang dipakai oleh warga Jakarta, tentunya banyak variasi data yang masuk. Pihak yang berperan untuk mengolah data-data tersebut adalah Tim Data Jakarta Smart City. Andi Sulasikin dan Bahrul Ilmi adalah dua di antaranya yang menangani langsung pengembangan fitur ini. 

Lalu, apa saja peranan spesifik Tim Data selama mengembangkan fitur pendaftaran vaksinasi? Andi menjelaskan, tugasnya dari melakukan validasi data atau quality control, memberikan laporan dalam bentuk dashboard, hasil analisis pada paparan, ataupun data agregat yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan gubernur, memasukkan data pendaftaran ke P-Care sehingga dapat memangkas proses vaksinasi di lapangan, sampai melakukan pembersihan data. 

“Selama ini Dinas Kesehatan lah yang bekerja di lapangan. Kemudian, data disampaikan oleh Dinas Kesehatan ke Tim Data. Tim Data dan Tim Dev akan memproses data agar dapat ditampilkan di aplikasi JAKI,” jelas Bahrul. Andi turut menambahkan, “Singkatnya, JSC berperan sebagai penyedia sistem dan pengolah data, sementara Dinas Kesehatan merupakan penghubung dengan sentra vaksinasi. Untuk program vaksinasi di sentra vaksinasi kolaborasi, terdapat juga kolaborator seperti instansi swasta, BUMN, ataupun BUMD.” 

Pada awal pengembangan sistem, Tim Data sempat menemui kendala teknis. “Kita membangun fitur ini dari nol. Jadi, awalnya ada kesulitan untuk mengelola struktur data ke Dinas Kesehatan ataupun kolaborator. Selain itu, ada beberapa data balikan yang tidak sesuai format yang diminta, sehingga butuh waktu lebih lama untuk kita melakukan pembersihan data,” tambahnya.

Untuk menghindari agar tidak terjadi masalah, Tim Data selalu berusaha menerapkan dokumentasi yang baik serta saling backup satu sama lain dalam memberikan laporan. “Untuk mengatasi beberapa kendala teknis saat mengelola data, kami juga melakukan otomasi agar data dapat secara langsung pindah ke databaseReliability dan keamanan data sistem ini sudah pasti lebih terjamin,” ujar Andi. 

Bahrul pun turut bercerita tentang motivasinya mengerjakan project ini, “Mungkin tugas kami terdengar rumit, ya. Tapi, sejauh ini saya sangat senang bisa berkontribusi langsung mengembangkan fitur pendaftaran vaksinasi. Saya mendapat kepuasan pribadi selama mengerjakan project ini, karena dapat mengeksplorasi riset, mengolah data yang cukup besar, dan belajar lebih efisien dalam bekerja. Pokoknya, semua kerja keras ini juga berdampak positif untuk diri saya.”

Tak hanya datang dari dalam diri, semangat Tim Data dalam mengembangkan fitur pendaftaran vaksinasi juga tumbuh dari respons pengguna fitur JAKI. Rupanya, Tim Data sempat melakukan analisis sentimen di platform Twitter mengenai tanggapan warga terhadap JAKI. Rata-rata respons yang diterima positif. “Duh, senang sekali rasanya bisa membantu banyak orang dan menjadi bagian dari gerakan besar yang berdampak positif. Jerih payah kami selama ini akhirnya terbayarkan,” ungkap Andi.

Pada akhir wawancara, Bahrul menyematkan harapan besarnya untuk JAKI, “Semoga JAKI dapat menjadi pusat layanan satu pintu terkait vaksinasi. Adanya kolaborasi berbagai OPD juga diharapkan dapat membuat kita lebih data-savvy.” Harapan lainnya pun disampaikan oleh Andi, “Seiring dengan visi dan misi kita untuk membangun Jakarta menjadi kota pintar, semoga penggunaan teknologi melalui JAKI bisa memberikan solusi yang lebih efektif dan efisien untuk berbagai permasalahan yang ditemukan masyarakat di Jakarta.”

Smartcitizen, begitulah kisah di balik pengembangan fitur pendaftaran vaksinasi JAKI. Ternyata, banyak sekali pihak-pihak yang telah berjuang untuk memudahkan akses masyarakat terhadap vaksinasi, ya. Karena itu, kita yang memenuhi kategori vaksinasi, yuk segera divaksin! Kamu bisa mendaftar vaksinasi melalui JAKI. Aplikasi JAKI dapat diunduh melalui Google Play Storeataupun Apple App Store. Selamat mencoba! 

Artikel JAKI Lainnya

Mudik pas Lebaran butuh perhatian khusus. Mau liburan di Jakarta? Bisa pakai JAKI. Yuk, cek semua tipsnya di sini!

Selamat Tahun Baru 2024! JAKI bisa #bikingampang meraih resolusi-resolusi kamu, lo. Begini caranya!

Ada yang baru dari JAKI! Sebagai kado ulang tahun untuk Jakarta, JAKI merilis versi terbaru. Yuk, kenalan dan intip tampilannya!

Meski jarang dilaporkan, kelima kategori permasalahan ini kerap kamu temukan dan perlu dilaporkan lewat JAKI, loh. Apa saja? Simak berikut ini.

Perlu menghubungi kontak darurat saat keadaan genting? JAKI punya fitur yang membantu kamu. Cek di sini, ya!

Kegiatan utama Hack4ID x JAKI rampung minggu lalu! Selama dua hari, startup founders berinovasi mengembangkan JAKI. Simak keseruannya di sini.