15 Agt 2022

Pahlawan Ibu Kota: Secarik Kisah dari Balik Kemudi JakLingko

Oleh:Amira Sofa

Editor:Aditya Gagat Hanggara

15 Agt 2022

Panas, macet, polusi. Itulah kondisi yang kerap dihadapi pengguna jalan di Jakarta. Berbagai upaya secara konsisten dikerahkan pemerintah untuk meminimalkan masalah ini. Salah satunya dengan mengembangkan layanan transportasi umum yang aman dan nyaman untuk masyarakat. Dengan transportasi umum yang marak dan terintegrasi melalui layanan JakLingko, masyarakat tak perlu lagi memakai kendaraan pribadi untuk bepergian. Kemacetan dapat teratasi, polusi berkurang, dan suhu udara pun tak setinggi sebelumnya. 

Di balik kesuksesan transportasi umum Jakarta melayani warga, ada satu pihak yang jarang disorot perjuangannya, yakni para pramudi. Merekalah yang membawa penumpang dari satu tempat ke tujuan masing-masing, dengan menyediakan rasa aman dan nyaman selama perjalanan. Perjuangan mereka tidaklah mudah dan suara mereka berhak didengar. Terlebih pramudi perempuan yang keberadaannya saat ini masih tak sebanyak pramudi lelaki.

Tim Jakarta Smart City berkesempatan berbincang-bincang dengan Bu Tiaman Simbolon, seorang pramudi armada JakLingko berusia 57 tahun. Ia bercerita tentang perjuangannya mengemudikan JakLingko dan bagaimana pekerjaan ini mengubah hidupnya.

Perjalanan Karir Bu Tiaman sebagai Pramudi 

“Saya baru selesai narik nih, mbak,” ucap Bu Tiaman mengawali pembicaraan kami sore itu. Jadwal kerjanya yang padat dari jam 5 pagi hingga 13.30 siang, membuat kami hanya sempat berbincang lewat voice note WhatsApp. Meskipun begitu, lewat percakapan singkat itu, ia membuka diri dengan bercerita banyak hal tentang pekerjaannya. “Sebelum bekerja sebagai pramudi JakLingko, saya sempat menjadi sopir jemputan anak sekolah. Cukup lama, dari 1994 sampai 2012. Setelah itu, saya fokus jadi ibu rumah tangga, tapi kadang ambil job freelance sebagai driver,” ungkapnya. Namun, pada 2012, Bu Tiaman kembali bekerja sebagai pramudi penuh waktu. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginisiasi program integrasi. Bu Tiaman merupakan salah satu pramudi pengumpan busway rute menuju Harapan Indah. 

Pada masa awal berjalannya program JakLingko, Bu Tiaman merasakan sistem operasionalnya belum serapi sekarang. Ia mengungkapkan, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi sebagai pramudi. “Dulu JakLingko belum teratur seperti sekarang. Pramudi yang datang duluan ke pangkalanlah yang boleh mengambil nomor awal dan armadanya dapat dilepas. Enggak jarang saya berangkat jam 1 malam dari rumah, agar bisa sampai jam 2 di pangkalan dan narik duluan, supaya bisa mencapai ritase,” ujarnya. Semua ini ia lakukan karena pada awal implementasi JakLingko, jumlah upah yang didapat pramudi ditentukan oleh ritase.

Tetapi, seiring program berjalan, PT JakLingko membuat kebijakan baru yang lebih mengutamakan keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan pramudi. Jadwal pengoperasian armada menggunakan sistem rolling yang dibagi tiga jadwal, yakni jam 5.00 pagi hingga 13.30 siang, lalu 13.30 siang sampai 22.00 malam, dilanjutkan dengan Angkutan Malam Hari (AMARI) yang beroperasi pukul 22.00 hingga 24.00 malam. Setiap pramudi pun hanya diperbolehkan maksimal bekerja selama delapan jam. Saat ditanya pendapatnya mengenai peraturan ini, Bu Tiaman menjawab, “Saya sangat bersyukur, JakLingko mau memikirkan kesejahteraan dan keamanan kami para pramudi. Saya enggak harus berangkat jam 1 malam lagi, hanya untuk mengejar target.”

JakLingko: Angkutan Kota yang Lebih Teratur, Nyaman, dan Aman

Sejak awal kehadirannya, JakLingko tak hanya membuat segalanya lebih mudah bagi pramudi, tapi juga buat penumpang. Jika dulu warga Jakarta mengenal angkot atau angkutan kota yang identik dengan armada ugal-ugalan, sopir yang tak rapi, maupun kenek yang berteriak mencari penumpang, maka image tersebut tak akan ditemukan lagi pada JakLingko. PT JakLingko memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pengoperasian armada, termasuk mengatur ketentuan bagi pramudi dan penumpang. Pramudi JakLingko memakai seragam, bersikap ramah, serta diwajibkan disiplin dalam berkendara, seperti tidak boleh mendahului sesama armada dan dilarang melebihi kecepatan tertentu saat mengemudikan armada. Penumpang pun memiliki sederet peraturan yang harus dipatuhi jika ingin menaiki JakLingko, seperti tidak boleh membawa barang lebih dari kapasitas yang ditentukan, dilarang membawa binatang serta makanan berbau tidak sedap.

Bagaimana kalau pramudi melanggar peraturan? “Kami tak hanya akan didenda saja, tapi juga diskors minimal tiga hari,” jelas Bu Tiaman. Oleh karena itu, menjadi pramudi JakLingko perlu kedisiplinan dan kesabaran tingkat tinggi. “Kami juga diharapkan bisa mensosialisasikan aturan-aturan yang perlu dipatuhi kepada penumpang,” lanjutnya.

JakLingko Mengubah Hidup Bu Tiaman

Seperti pramudi pada umumnya, alasan utama Bu Tiaman bergabung dengan JakLingko tentunya agar bisa membantu perekonomian keluarga. Sebab, berbeda dengan beberapa pekerjaan Bu Tiaman sebelumnya, JakLingko memberikan gaji per bulan yang terjamin bagi seluruh pegawainya, termasuk para pramudi. “Sebelum bergabung di JakLingko, kami sekeluarga mungkin hanya bisa makan daging sebulan sekali. Tapi, dengan saya ikut bekerja dan menambah penghasilan, kami bisa makan daging satu atau dua kali dalam seminggu,” tuturnya. Perubahan seperti ini mungkin bukan hal yang signifikan bagi sebagian orang, tetapi bagi Bu Tiaman yang menghargai rezeki sekecil apapun, hal ini begitu berarti. “JakLingko benar-benar bawa perubahan ke hidup pramudi, asal kita bersyukur. Tapi, kalau kita enggak bersyukur, mau sebesar apapun nikmat yang didapat, enggak akan pernah puas,” tegasnya.

Ternyata, tak hanya ekonomi keluarga pramudi yang terbantu dengan keberadaan JakLingko, tapi juga pendidikan anak-anak mereka. Dengan nada sedikit lebih tinggi tanda antusias, ia menjelaskan, “Anak-anak dari pramudi JakLingko yang tinggal di Jakarta, bisa mengikuti program masuk sekolah negeri. Memang anak-anak saya sudah tidak usia sekolah, tapi tetap saya turut senang untuk pramudi lainnya.” Dengan kata lain, JakLingko tak hanya bisa membantu perekonomian para pramudi, tapi juga memberikan masa depan yang lebih baik buat keluarga mereka, melalui penyediaan akses pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.

Pekerja Perempuan: Membagi Waktu Bekerja dan Mengurus Keluarga 

Yang menarik ketika mendengar kisah pekerja perempuan adalah bagaimana mereka membagi waktunya untuk menjalani peran domestik maupun non-domestik. Budaya dan pola pikir yang berkembang di sebagian besar masyarakat kerap membebani mereka peran ganda, sehingga harus mengerjakan tugas domestik dan non-domestik sendirian. Namun, tidak demikian dengan Bu Tiaman. Ia bersyukur suami dan kedua anaknya bisa diajak kompromi serta bekerja sama untuk mengurus rumah. “Suami saya pekerja swasta. Kedua anak kami sudah beranjak dewasa. Sebenarnya, enggak banyak yang perlu saya siapkan untuk anak-anak. Tapi, sebagai seorang istri dan ibu, pastinya tetap ingin mengurus keluarga meskipun bekerja,” kisahnya. Terlepas dari pembagian tugas yang diatur bersama suami dan anak-anak, Bu Tiaman masih menyempatkan diri memasak serta melakukan pekerjaan rumah lainnya sepulang kerja. “Biasanya saya masak setelah pulang kerja. Sengaja saya masak lebih banyak untuk makan besok, lalu makanan saya masukin kulkas. Besok subuhnya, sebelum berangkat, saya panaskan untuk makan suami dan anak-anak. Sejak awal memutuskan menjadi pramudi untuk bantu perekonomian keluarga, saya berprinsip tetap ingin mengurus rumah dan keluarga, meskipun mereka ikut mengerjakan pekerjaan rumah untuk meringankan beban saya,” ceritanya.

Saat ditanya bagaimana perasaannya meninggalkan keluarga pada pagi buta untuk bekerja, Bu Tiaman terisak pelan. “Maaf, mbak, saya sedikit emosional. Jujur, agak berat buat saya meninggalkan anak-anak. Tapi, bekerja untuk bantu suami sudah jadi keputusan yang saya pilih. Bagaimanapun saya sudah maksimal menjalankan peran sebagai istri dan ibunya anak-anak,” ujarnya. Ia terdiam beberapa saat sambil mengingat-ingat kejadian, lalu melanjutkan kembali, “Terkadang sebelum berangkat kerja, saya cium anak-anak dan suami. Dalam hati, saya minta maaf sama Tuhan. 'Tuhan maaf sudah harus meninggalkan anak-anak dan suamiku sedari pagi, Tuhan'. Sekarang saya hanya bisa bersyukur, masih bisa diberi kesehatan untuk bekerja dan mengurus rumah sekaligus.” 

Semangat Tak Surut Meski Pekerjaan Didominasi Laki-laki

Bekerja sebagai pramudi JakLingko bukanlah hal mudah. Meski JakLingko memiliki serentetan aturan yang ketat, bekerja di lapangan tetaplah banyak tantangan, terutama terkait lalu lintas yang menguji kesabaran. Untungnya, Bu Tiaman memiliki banyak teman sesama pramudi yang suportif. “Kebanyakan pramudi JakLingko laki-laki. Di awal diklat dulu, bahkan saya satu-satunya pramudi perempuan. Tapi, sekalipun saya enggak pernah mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari mereka. Bahkan, semuanya baik dan selalu mendukung saya. Mereka selalu mendorong saya untuk maju. Begitulah mereka menghargai saya, sekalipun saya perempuan yang bekerja di tengah banyaknya laki-laki,” katanya. Bersosialisasi dengan sesama pramudi juga sedikit banyak mengubah diri Bu Tiaman menjadi lebih baik, “Saya jadi lebih bisa mengontrol diri dan emosi saya,” tambahnya.

Ingin Tetap Terus Menjadi Pramudi 

JakLingko sudah mengubah signifikan hidup Bu Tiaman. Sederet pengalaman pun telah berhasil didapatkannya dari pekerjaan ini. Apakah impian dan harapannya ke depan? “Saya hanya berharap, bisa tetap menjadi pramudi hingga usia 70 nanti,” imbuhnya. Ia pun menyematkan harapan kepada PT JakLingko pada masa mendatang. “Semoga ke depannya, PT JakLingko dapat membenahi JakLingko dan semakin meningkatkan kesejahteraan kami para pramudi. Terlebih mengingat transportasi merupakan jantung perekonomian Jakarta,” ucapnya menutup percakapan kami sore itu. 


Itu tadi secarik kisah dedikasi dan semangat Bu Tiaman menjalani pekerjaannya sebagai pramudi JakLingko. Kisahnya dari balik kemudi armada ini mengingatkan kita bahwa inisiasi JakLingko tak hanya membantu pengguna transportasi umum, tapi juga mereka yang mencari sesuap nasi dengan mengemudi. Sosok Bu Tiaman di tengah pekerjaan pramudi yang didominasi laki-laki juga mengingatkan kita bahwa perempuan dapat berperan penting, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun komunitas. Apapun bisa diraih, selagi kita berusaha dan tak membatasi kemampuan diri sendiri. Salut untuk Bu Tiaman dan mereka semua yang telah berdedikasi sebagai pahlawan ibu kota! 

Artikel Smart People Lainnya

Selain mendapat pengalaman, para peserta Data Science Trainee bisa membantu Jakarta menjadi lebih baik. Bahas keseruannya di sini!

Kamu yang suka eksplor Jakarta, mari merapat! Ada bus wisata Transjakarta Monas Explorer baru yang cocok untukmu. Simak selengkapnya di sini.

Abdi Bahasa Kepulauan Seribu menjadi kolaborasi Jakarta Smart City dan Kemendikbudristek untuk berbagi literasi digital di Pulau Tidung. Cek di sini!

Di JSCLab Sharing #7, kita belajar tentang kekuatan yang dimiliki oleh SEO. Ayo, bahas sekarang!

Pengguna transportasi umum, mari merapat! Ada protokol kesehatan baru di transportasi umum, termasuk penggunaan masker. Baca selengkapnya di sini.

Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jakarta 2023 sudah dimulai! Ini syarat, mekanisme, hingga jadwal untuk tiap jenjang pendidikan.