Cerita Para Digital Nomad Bekerja dari Mana Saja

Oleh:-

Editor:Ramdan Malik Batubara, Aditya Gagat Hanggara

13 Jun 2022

Hari Senin itu, kamu terbangun dengan suara ombak yang menenangkan. Hari itu bukan hari liburmu, namun kamu tidak perlu berdesak-desakan ataupun terburu-buru menuju kantormu. Karena kamu bisa bekerja di pinggir pantai, di atas bukit, atau di tengah perdesaan yang asri. Jika kamu digital nomad alias pekerja dunia digital yang bisa bekerja jarak jauh dari mana saja, pengalaman bekerja seperti yang tadi digambarkan bisa jadi keseharian hidupmu.

Semenjak pandemi Covid-19, konsep remote working atau kerja jarak jauh mulai diperkenalkan dengan Work From Home (WFH). Berbagai lembaga dan perusahaan berusaha menekan laju penyebaran Covid-19 dengan meminta para pekerjanya untuk bekerja di rumah. Kini, setelah kasus Covid-19 menurun, para pekerja remote working mulai keluar dari rumah, lalu mencari tempat bekerja yang lebih nyaman di berbagai lokasi. Apakah kamu salah satunya?

Untuk menyelami pengalaman para digital nomad yang bisa bekerja dari mana saja, simak cerita dari Alya, Amira, dan Dafi dari Jakarta Smart City ini, yuk!

Bekerja dari Kafe, Pantai, hingga di tengah suasana Pegunungan

Alya merupakan Content Writer di Jakarta Smart City. Ketika arahan dari kantor membolehkan remote working bagi pekerjanya, Alya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia pernah bekerja dari Padang hingga Bali. Meskipun jaraknya jauh dari kantor, ia tetap memastikan bisa terkoneksi dengan rekan-rekan kerja di kantor dan tetap bisa menulis menggunakan komputer tabletnya. Bekerja dari penginapan, bandara, hingga di pinggir pantai pernah ia jalani.

Selain Alya, ada lagi satu Content Writer yang senang bekerja di berbagai tempat, yaitu Amira. Tempat favorit Amira untuk bekerja adalah kafe, karena nyaman dan biasanya memberikan akses internet serta colokan listrik untuk mengisi daya laptopnya. Tapi, sebagai pekerja yang harus siap menerima pekerjaan dari mana saja, Amira juga bisa mengerjakan pekerjaannya di tengah perjalanan. Biasanya, ia berhenti di rest area untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus dikerjakan saat itu juga.

Berbeda dengan Alya dan Amira, Dafi yang bekerja sebagai Social Media Officer lebih senang bekerja di daerah pegunungan yang sejuk. Pilihan favoritnya jatuh ke Kota Bandung. Ia merasa bisa berpikir dengan lebih jernih dan kreatif ketika dapat menghirup udara sejuk atau dingin. Biasanya ia mencari tempat yang cozy, seperti kafe, yang letaknya di area yang banyak pepohonan.

Meskipun tempat favorit mereka bekerja berbeda-beda, ketiganya sepakat bahwa bekerja dari mana saja itu lebih produktif dan kondusif. Terlebih untuk jenis pekerjaan kreatif seperti yang mereka kerjakan, di mana inspirasi menjadi bahan bakar utama untuk menyelesaikan pekerjaan. Bekerja dari tempat-tempat berbeda memungkinkan para digital nomad ini untuk mendapatkan suasana berbeda, melihat aktivitas warga yang berbeda, serta memperkaya sudut pandang yang berguna buat pekerjaan mereka.

[Baca juga: 5 Rekomendasi Spot WFA Seru di Jakarta]

Tantangan Work from Anywhere

Pengalaman Alya, Amira, dan Dafi ketika WFA tentunya juga menemukan tantangan-tantangan tersendiri, dari koneksi internet yang lambat, tempat yang tidak menyediakan colokan listrik untuk mengisi daya peralatan elektronik, hingga sinyal handphone yang kurang mendukung.

Menghadapi tantangan tersebut, ketiganya sudah terbiasa menyiapkan diri sebelumnya. Mereka mengisi daya listrik peralatan bekerja, seperti laptop dan handphone hingga penuh ketika di rumah atau di penginapan. Selain itu, mereka juga menyiapkan kuota internet di handphone, yang kemudian digunakan untuk berinternet di laptop jika ternyata tak tersedia Wi-Fi di lokasi tempat mereka bekerja. Jika sinyal tidak mendukung, mereka biasanya akan mencari tempat yang sinyalnya baik pada jam kerja, agar tetap bisa memenuhi tanggung jawab pekerjaan.

Di samping tantangan internal tersebut, ada lagi tantangan dari eksternal untuk para digital nomad. Alya misalnya bercerita, saat bekerja dari mana saja, banyak orang menganggapnya bersantai-santai dan liburan saja. Padahal, ketika bekerja dari mana saja, setiap pekerja tetap harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya masing-masing. Bekerja dari tempat wisata tidak berarti pekerjaan terabaikan. Tanggung jawab pekerjaan tetap akan menjadi prioritas para digital nomad ini.

Keinginan untuk Bekerja di Digital Nomad Island

Mendengar Jakarta akan mengembangkan digital nomad island di Kepulauan Seribu, Alya, Amira, dan Dafi sangat bersemangat untuk mencicipi bekerja di tengah pulau yang letaknya tidak jauh dari Jakarta. Bayangan tentang bekerja ditemani pemandangan pantai dan dapat belajar menyelam di laut sewaktu rehat dari bekerja tentunya terlintas dalam pikiran ketiga digital nomad ini. Amira berharap, kelak Kepulauan Seribu dapat dikembangkan menjadi tempat ramah digital nomad dengan menyediakan titik-titik akses listrik dan Wi-Fi yang dapat mendukung pekerjaannya. “Semoga harganya juga terjangkau,” pungkas Amira.

Apakah kamu juga tertarik dengan digital nomad island? Kamu bisa mengintip pemandangan Kepulauan Seribu di smartcity.jakarta.go.id/id/digital-xperience/ ya!

Artikel Digital Xperience Lainnya

Intip cerita para digital nomad yang membumikan work from anywhere hingga jadi budaya baru.

Mau suasana kerja dekat pantai tapi masih di sekitaran Jakarta? Nah, kenalan dulu yuk sama program Digital Nomad Island.

Tren bekerja dari pulau ternyata sudah difasilitasi di beberapa negara. Ada di mana saja, ya?

Mau kerja dari pinggir pantai tapi Bali terlalu jauh? Melipir ke Kepulauan Seribu yang ramah digital nomad, yuk!