Mengupas KIPI dan Efek Samping Vaksin Covid-19

JSC | 3 months ago

Sudahkah kamu mendapat dosis vaksin Covid-19? Kalau sudah, selamat dan terima kasih karena telah turut membantu negara kita untuk pulih. Seperti vaksin pada umumnya, vaksin Covid-19 berpotensi mengakibatkan efek samping bagi penerimanya. Coba sekarang tanya ayah, ibu, atau keluarga yang pernah membawamu untuk imunisasi ketika masih kecil. Tanyakan kepada mereka, “Apa yang terjadi setelah aku diimunisasi?” Jawaban mereka mungkin kira-kira akan seperti ini, “Nangis terus sepanjang malam. Rewel, gelisah. Badanmu panas.”

Itu adalah reaksi normal yang dirasakan anak-anak setelah imunisasi. Lihatlah sekarang, bertahun-tahun setelahnya, kita tetap sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit berkat imunisasi. Sama halnya dengan vaksin Covid-19. Efek samping seperti lengan pegal, meriang, mual, dan sebagainya sangat wajar dialami setelah menerima vaksin. Ini pertanda bahwa vaksin sedang bekerja dan tubuh kita sedang membangun antibodi untuk melawan virus yang mungkin akan menginfeksi di masa depan. Efek samping biasanya berlangsung selama beberapa hari saja dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, untuk beberapa kasus, vaksin dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan seperti Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI berbeda dengan efek samping biasa, jadi perlu penanganan khusus bagi yang mengalaminya.

Mengenal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan yang terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan sebab akibat dengan vaksin. KIPI diklasifikasikan dalam lima kategori berdasarkan penyebabnya:

  1. Reaksi KIPI terkait komponen vaksin

KIPI yang terjadi dalam kategori ini disebabkan oleh satu atau beberapa komponen yang terkandung di dalam vaksin. Komponen-komponen vaksin antara lain antigen, adjuvan, antibiotik, dan bahan pengawet (stabilizer dan preservatives).

  1. Reaksi KIPI terkait dengan cacat mutu vaksin

KIPI dengan kategori ini disebabkan adanya cacat mutu dalam produk vaksin, termasuk penggunaan alat untuk pemberian vaksin yang disediakan produsen.

  1. Reaksi KIPI akibat kesalahan prosedur

Cara pelarutan vaksin dan pemberian vaksin yang salah menjadi penyebab KIPI kategori ini. Contohnya jarum yang masuk ke dalam vial untuk mengambil vaksin tidak steril.

  1. Reaksi KIPI akibat kecemasan karena takut disuntik

KIPI ini terjadi karena kecemasan yang dirasakan penerima vaksin saat atau sesudah pemberian vaksin.

  1. Kejadian Koinsiden

Semua reaksi KIPI yang terjadi di luar hal-hal yang sudah dijelaskan sebelumnya masuk ke dalam kategori ini. Contohnya, demam yang sudah terjadi sebelum atau pada saat pemberian imunisasi. Situasi ini disebut sebagai asosiasi temporal, yaitu dua atau lebih kejadian yang terjadi bersamaan. Kejadian pertama bisa jadi berhubungan atau tidak berhubungan dengan kejadian berikutnya.

KIPI Vaksin Covid-19 yang Mungkin Terjadi dan Antisipasinya

Setelah kamu divaksin, petugas kesehatan akan mempersilakan kamu beristirahat terlebih dahulu untuk observasi. Hal ini dilakukan untuk meninjau apakah ada gejala berat yang terjadi pascavaksinasi. Tiap orang mengalami reaksi berbeda-beda, sehingga kita perlu mempelajari reaksi-reaksi yang berpotensi muncul. Reaksi terhadap vaksin bisa dibagi menjadi dua, yakni reaksi ringan dan reaksi berat.

Reaksi Ringan

Reaksi ini bisa sembuh sendiri dan hampir tidak memerlukan perawatan khusus. Reaksi ringan terbagi menjadi dua:

  1. Reaksi lokal adalah reaksi yang terjadi pada area tubuh tertentu seperti nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan. Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis. Antisipasi: kompres dingin pada titik yang bermasalah dan konsumsi paracetamol.

  2. Reaksi sistemik yang berhubungan dengan sistem atau keseluruhan tubuh. Reaksi sistemik berupa demam, nyeri otot seluruh tubuh (myalgia), nyeri sendi (atralgia), badan lemah, atau sakit kepala. Antisipasi: minum yang banyak, gunakan pakaian yang nyaman, kompres dingin di bagian yang terasa nyeri, dan konsumsi paracetamol.

Reaksi Berat

KIPI jenis ini memang jarang terjadi, namun perlu dipantau apabila penerima vaksin mengalami gejala-gejala tertentu setelah divaksin. Yang termasuk reaksi berat adalah kejang, trombositopenia (penurunan hebat jumlah trombosit), Hypotonic Hyporesponsive Episode (kehilangan rasa sensorik akut atau penurunan kesadaran disertai dengan pucat dan kelemahan otot), serta menangis terus-menerus. Bila mengalami KIPI ini, hubungi kontak fasilitas kesehatan tempat mendapatkan vaksin Covid-19. Nomor kontak biasanya tertulis di kartu vaksinasi yang diberikan setelah vaksinasi.

[Perhatikan Hal-hal Berikut Ini Setelah Divaksin Covid-19]

Mengapa Tiap Orang Mengalami Reaksi yang Berbeda Terhadap Vaksin?

Memang tidak semua orang mengalami efek samping setelah mendapat vaksin Covid-19. Hal ini disebabkan sistem imun tiap orang berbeda-beda. Perbedaan sistem imun bisa dipengaruhi faktor genetik, gender, diet, lingkungan sekitar, hingga kondisi-kondisi terdahulu yang telah melatih sistem imun kita untuk merespons keadaan tertentu. Satu hal yang perlu diingat, walaupun vaksin bisa memperkuat sistem imun, vaksin tidak menjamin perlindungan 100% terhadap virus. Makanya, setelah vaksinasi, kita masih wajib memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak agar tidak terinfeksi virus Corona.

Vaksinasi jelas efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Angka kejadian yang tidak diinginkan akibat vaksinasi sangatlah rendah jika dibandingkan risiko terkena PD3I. Dengan mengikuti vaksinasi, kita bisa menghemat biaya perawatan, pengobatan penyakit, dan bahkan menyelamatkan jiwa.  Intinya, dampak positif yang diberikan vaksin jauh lebih besar dibandingkan dampak negatif yang ditimbulkan. Jadi, kalau masih ada yang belum divaksin, segeralah ambil kesempatan yang ada agar kita semua bisa kembali sehat! Oh iya, supaya pendaftaran vaksinasimu lebih gampang, daftar saja lewat aplikasi JAKI atau corona.jakarta.go.id/vaksinasi! Aplikasi JAKI bisa kamu dapatkan di Play Store atau App Store.

 

 

------

Teresa Simorangkir

Artikel lainnya

Pantau Kasus Covid-19 di Sekitarmu dengan Fitur Zonasi

Smartcitizen, tidak terasa sudah tujuh bulan kita melewati masa pandemi Covid-19. Di tengah keterbatasan, kita dituntut untuk beradaptasi dan mengalihkan berbagai kegiatan ke rumah. Mulai dari ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City