Telusuri Jakarta Lewat Jalur Sepeda Permanen

JSC | 6 days ago

Kita boleh bermimpi bahwa suatu saat nanti Jakarta akan menjadi kota yang tumbuh dalam keharmonisan alam dan teknologi. Menjadi kota berkelanjutan yang ramah untuk disinggahi pada masa tua kita dan masa depan anak-anak kita kelak. Dimulai dengan membayangkan bersepeda santai di jalan-jalan Jakarta, sepertinya bukanlah hal yang muluk. Saat ini Jakarta tengah melakukan pembangunan jalur sepeda permanen di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Suatu saat nanti mungkin Jakarta akan memiliki jalan tol khusus sepeda, seperti Bicycle Superhighway di Jerman atau Belanda.

Jalur Sepeda Terproteksi Sambut Antusiasme Pesepeda

Antusiasme masyarakat terhadap penggunaan sepeda memang tidak perlu diragukan. Menurut survei ITDP (Institute for Transportation and Development Policy), sejak November 2019 hingga Juni 2020, terjadi peningkatan pesepeda di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin hingga 1.000%.

Lonjakan antusiasme pesepeda tentu disambut hangat Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Jika sebelumnya dilakukan pembuatan pop up bike lane (jalur sepeda terproteksi sementara), kini jalur sepeda terproteksi dibuat permanen di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia hingga Bundaran Senayan. Selain untuk mengapresiasi para pesepeda, pembangunan jalur sepeda permanen juga dilakukan untuk mendukung penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memprioritaskan pejalan kaki dan pesepeda melalui Pergub DKI Jakarta No. 88 Tahun 2020.

Saat ini Jakarta telah memiliki 63 km jalur sepeda yang dibangun di ruas-ruas jalan ibu kota. Jakarta merencanakan pembangunan jalur sepeda terproteksi sepanjang 500 km, dimulai dari Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin Jakarta akan memiliki Bicycle Superhighway versinya sendiri.

Dilengkapi Planter Box Hingga Fasilitas Bike Rack

Ada yang menarik dari pembangunan jalur sepeda permanen di Jalan Sudirman-Thamrin. Nantinya, jalur sepeda yang memiliki panjang 11,2 km dan lebar 2 meter tersebut, akan dihiasi planter box atau pot tanaman sebagai pembatas antara jalur transportasi kendaraan bermotor dan jalur transportasi kendaraan ramah lingkungan. Planter box kelak dibentuk seperti rantai yang saling terikat. Selain memperindah pemandangan, penggunaan planter box juga menambah suasana hijau di jalan Jakarta.

Fasilitas lain yang disediakan di jalur sepeda permanen Jalan Sudirman-Thamrin adalah pemasangan wayfinding atau petunjuk jalan. Ada juga pijakan kaki di kaki simpang dalam lintasan jalur sepeda, serta rest area atau tempat beristirahat berupa bike rack di trotoar. Pembangunan jalur sepeda permanen Sudirman-Thamrin juga akan diikuti dengan pembangunan bicycle artwork, berisi ornamen yang kelak menjadi landmark Jakarta sebagai kota ramah sepeda.

First Mile dan Last Mile dengan Jalur Sepeda Terintegrasi

Menikmati kemudahan layanan transportasi yang terintegrasi adalah hak setiap warga Jakarta. Rupanya, jalur sepeda permanen Jalan Sudirman-Thamrin tidak mau ketinggalan untuk ikut memanjakan warga Jakarta. Jalur sepeda tersebut setidaknya telah terintegrasi dengan sembilan halte Transjakarta, enam stasiun MRT, dan jaringan LRT. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan first mile dan last mile dengan bersepeda.

First mile adalah perjalanan dari tempat asal menuju tempat transit transportasi umum. Sedangkan last mile adalah perjalanan dari tempat transit transportasi umum ke tempat tujuan. Jika kita melakukan first mile dan last mile dengan berjalan kaki atau bersepeda, kepadatan di jalan dan kesemrawutan di sekitar stasiun kereta atau halte bus bisa terurai. Apalagi, saat ini tersedia banyak fasilitas peminjaman sepeda seperti Gowes yang akan memudahkan kita melakukan first mile dan last mile dengan bersepeda.

Mendukung Transportasi Berkelanjutan

Dari sekian banyak transportasi yang ada di Jakarta, mengapa harus memilih bersepeda? Kamu pasti tahu, jika bersepeda memiliki banyak manfaat. Di Belanda, misalnya, budaya bersepeda membuat negeri ini berpotensi besar untuk keluar dari ketergantungan terhadap minyak bumi.  Dengan pengurangan emisi gas buang akibat kendaraan bermotor yang digantikan oleh sepeda, kualitas udara di Belanda lebih baik, sehingga masyarakatnya lebih sehat dan bahagia.

Karena itu, Pemprov DKI Jakarta merasa perlu mengubah paradigma prioritas penanganan transportasi di ibu kota, sebagai salah satu bentuk kampanye budaya bersepeda. Jika digambarkan dalam bentuk piramida terbalik, sepeda atau kendaraan ramah lingkungan menjadi prioritas kedua, setelah pejalan kaki. Baru kemudian disusul dengan angkutan umum dan kendaraan pribadi sebagai prioritas ketiga serta keempat. Dengan begitu, jumlah pejalan kaki dan pesepeda di Jakarta diharapkan dapat terus meningkat, sehingga masyarakat memiliki mobilitas aktif yang dapat meningkatkan kesehatan, mengurangi pencemaran udara, dan tentunya menghemat biaya transportasi.

Jika budaya bersepeda benar-benar diterapkan di Jakarta, apa yang kita impikan di awal artikel ini tentu bisa jadi kenyataan. Tidak harus selalu diawali dengan langkah besar untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota cerdas yang berkelanjutan. Kamu bisa memulainya dengan bersepeda menelusuri Jakarta, Smartcitizen.

 

 

------

Mike Nafizahni

Artikel lainnya

Halte Ramah Difabel dan Transjakarta Cares untuk Warga dengan Disabilitas

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berusaha meningkatan pelayanan bagi warga dengan disabilitas atau difabel. Salah satunya dengan penyediaan halte Transjakarta yang ramah difabel. Saat ini, sedang ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City