Jenis Tes Covid-19 yang Wajib Kamu Tahu

JSC | 25 days ago

Smartcitizen, sudahkah kamu menjalani tes Covid-19? Kalau kamu merasa tidak enak badan, atau mengalami gejala seperti demam, batuk, serta bersin, ada baiknya kamu mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mengikuti tes Covid-19. Tapi tes mana yang perlu dijalani? Mungkin kamu bingung karena banyaknya sebutan untuk tes yang berbeda-beda. Rapid test? Swab test? Antibodi? Antigen? Apa bedanya? Nah, daripada bingung, ayo kita pelajari satu per satu jenis tes Covid-19 yang bisa kamu lakukan di Jakarta beserta perbedaannya.

Rapid Test Antibodi

Sebelumnya, saat orang menyebut rapid test, yang mereka maksud adalah jenis tes ini. Namun, baru-baru ini muncul juga rapid test antigen yang menjadi salah satu syarat keluar masuk Jakarta. Tapi itu akan kita bahas selanjutnya. Untuk yang pertama, mari kita bicara tentang rapid test antibodi.

Rapid test antibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk diuji. Yang dicari dalam sampel darah ini adalah aktif atau tidaknya antibodi imunoglobulin yang muncul ketika tubuh terinfeksi virus. Bila terdeteksi antibodi aktif, berarti kemungkinan kamu terpapar Covid-19. Walaupun begitu, hasil tes ini bisa dianggap tidak terlalu akurat, karena antibodi tetap muncul jika tubuh terinfeksi virus corona jenis lain yang tidak menyebabkan Covid-19. Keunggulan rapid test antibodi adalah hasilnya yang cepat (hanya 10-20 menit) serta biayanya yang relatif terjangkau (harga maksimal Rp150 ribu).

[Yang harus dilakukan kalau kerabatmu positif Covid-19]

Rapid Test Antigen

Selain jenis antibodi, ada juga jenis rapid test antigen. Hasil dari tes inilah yang menjadi persyaratan keluar masuk wilayah Jakarta sejak 18 Desember 2020 lalu. Sampel yang diambil dalam tes ini adalah lendir dari hidung dan tenggorokan dengan mengusap (swab). Tetapi, jangan keliru ya dengan swab test PCR. 

Antigen merupakan molekul yang mampu merangsang respons daya tahan tubuh. Setiap antigen memiliki permukaan protein yang berbeda-beda. Rapid test antigen bertujuan mendeteksi ada atau tidaknya protein spesifik yang dimiliki oleh virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dalam tubuh. Tes ini bisa dianggap lebih akurat daripada rapid test antibodi, namun masih belum seakurat tes PCR. Hasil akan muncul dalam 15-30 menit atau paling lama satu jam, dengan biaya lebih dari Rp200 ribu (bisa bervariasi berdasarkan lokasi dan laboratorium).

Polymerase Chain Reaction Test (Tes PCR)

Tes PCR sering disebut swab test. Sama dengan tes antigen, tes PCR juga mengambil sampel lendir dari hidung dan tenggorokan mengusap (swab). Namun, yang dicari dari sampel tersebut sangat berbeda. Bila tes antigen mencari protein spesifik yang dimiliki oleh virus Corona, tes PCR mencari materi genetik yang disebut asam ribonukleat atau RNA. Bahan genetik inilah yang memberikan instruksi kepada virus untuk membangun protein tersebut.

[Yang harus dilakukan kalau kamu harus tes PCR]

Karena proses pengujian yang rumit dalam laboratorium, hasil tes PCR bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Biaya tes ini juga cukup mahal, hingga mencapai Rp900 ribu. Tapi, terlepas dari jangka waktu dan biaya yang besar ini, tes PCR-lah yang dianggap paling akurat dalam mendeteksi Covid-19 dan menjadi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Corona Likelihood Metric (Tes CLM)

Berbeda dengan tes-tes di atas, tes yang pertama kali dikembangkan oleh Harvard CLM Team ini bersifat mandiri. Artinya, bisa kamu lakukan sendiri melalui perangkat telepon selulermu,  tanpa perlu pergi ke rumah sakit atau puskesmas. Kamu bisa mengakses tes ini dari aplikasi JAKI (Jakarta Kini) yang dapat diunduh dari App Store atau Google Play Store. Sebagai salah satu fitur Jakarta Tanggap Covid-19, tes ini dapat merekomendasikan jika kamu berisiko terpapar Covid-19 dan perlu mendatangi fasilitas kesehatan untuk mengikuti tes lebih lanjut. Tes ini tidak memberikan hasil positif atau negatif Covid-19, hanya tingkat risiko dan rekomendasi tindak lanjut.

[Ngobrolin CLM bareng Harvard CLM Team dan Klakklik.id]

Kamu perlu mengisi data diri secara lengkap serta menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar gejala yang kamu alami dengan jujur. Setelah semua dilengkapi, aplikasi akan memberitahu seberapa besar risiko kamu terpapar Covid-19 dan apakah kamu perlu melapor ke rumah sakit. Semuanya berdasarkan jawaban yang kamu sendiri berikan. Ketika mengisi data diri, kamu juga harus memasukkan nomor KTP. Setiap pemegang KTP hanya boleh melakukan tes ini sekali dalam seminggu, untuk menghindari pengambilan tes berulang-ulang. Jika kamu direkomendasikan untuk melapor ke rumah sakit, jangan lupa untuk mengambil screenshot hasil tes CLM-mu sebagai bukti yang bisa ditunjukkan ke petugas kesehatan.

Itulah jenis-jenis tes Covid-19 yang bisa kamu jalani di Jakarta beserta perbedaannya, selain kelebihan dan kekurangannya. Pelajari semuanya baik-baik bila kamu merasa perlu mengikuti salah satu tes di atas atau membutuhkannya sebagai persyaratan keluar masuk Jakarta. Tapi ingat, jika kamu merasa tidak enak badan atau bahkan sudah menerima hasil tes positif, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah tetap di rumah saja. Jika kita selalu waspada terhadap kesehatan pribadi, keluarga,  teman, dan sesama warga Jakarta pun akan tetap sehat dan aman.

 

 

-----

Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

Revolusi Penilaian Lurah dan Camat

Para Lurah dan Camat di Jakarta harus bersiap menerima tantangan baru. Setelah Gubernur Basuki Tjahaja Purnama memberikan tantangan untuk menjadi manajer wilayah, saat ini penilaian kinerja mereka ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City