Smart Change Online Conference 2020: Urban Data

JSC | 25 days ago

Pada 16 Desember, Smart Change Online Conference 2020 akhirnya terlaksana melalui platform virtual event Airmeet. Pembicara dan partisipan dari seluruh dunia berkumpul untuk konferensi perdana ini, menjangkau hingga lebih dari 100 peserta. Bagi kamu yang mungkin belum tahu, konferensi online ini lahir dari proyek Smart Change, yaitu upaya kolaborasi yang didanai oleh Uni Eropa (UE) antara kota kembar Berlin dan Jakarta. Pada saat pandemi, tim Smart Change memutuskan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk mengadakan pertemuan virtual yang membahas tantangan dan solusi dari masalah saat ini serta masa depan yang akan dihadapi oleh kedua kota. Meskipun hubungan antara Indonesia dan Jerman menjadi fokus utama, beberapa pembicara tamu serta audiens acara ini datang dari berbagai negara.

Pembukaan Acara

Setelah diperkenalkan oleh pembawa acara, Mira Zakaria, konferensi ini dibuka Kepala Jakarta Smart City, Yudhistira Nugraha. Usai mengucapkan terima kasih, Pak Yudhis melontarkan pertanyaan, “Apa itu Smart City?” Ia menjelaskan bahwa Smart City atau kota cerdas merupakan istilah yang didefinisikan secara longgar, sehingga artinya bisa berbeda bagi setiap orang. Banyak yang menyamakan Smart City sebagai kota yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan infrastruktur dan pelayanan publik. Di  Jakarta, kita memilih untuk mendefinisikan kota cerdas secara lebih luas, yakni meningkatkan kebahagiaan warga melalui solusi inovatif baru, seperti moto “maju kotanya, bahagia warganya”.

“Smart City bukan tentang teknologi. Smart City bukan tentang ketergantungan anggaran daerah. Smart City itu tentang ekosistem,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan presentasi singkat Smart Change Project Manager, Helen Franke, mengenai konteks topik diskusi konferensi ini. Ia mengawali dengan menjelaskan latar belakang Smart Change dari kemitraan Berlin-Jakarta serta pendanaan dari UE. Kemudian ia mengungkapkan tujuan utama konferensi ini, yaitu meningkatkan kapasitas tata kelola perkotaan. Ia juga mengajukan akar pertanyaan dari topik utama, yakni bagaimana data perkotaan dapat membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi, serta meluncurkan dialog untuk tantangan terkait pemahaman yang lebih luas tentang topik kota cerdas.

Presentasi berikutnya dipimpin oleh Dr. Haris Piplas dan Dr. Christian Gebhardt dari Drees & Sommer Blue City Development Integrated Urban Solutions, dengan fokus pada Analisis Kota Cerdas dan Inovasi Perkotaan. Dr. Gebhardt membuka dengan menunjukkan dinamisme Jakarta dan bagaimana Jakarta berada di jalur yang benar untuk menjadi kota yang cerdas dan berkelanjutan. Melalui studinya, mereka dapat belajar tentang ekosistem Jakarta, dengan pendekatan quadruple helix yang memetakannya ke dalam kuadran mencakup pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan industri.

Setelah presentasi Dr. Gebhardt, Dr. Piplas menjelaskan secara singkat bagaimana mereka menggunakan Indikator Kinerja Utama PBB sebagai kerangka metodologi penanganan dalam mengeksplorasi ekosistem Jakarta dan indeks kota pintar, serta bagaimana pendekatan tersebut dapat lebih ditingkatkan.

Topik Menghubungkan Kecerdasan dengan Keberlanjutan dalam Kebijakan dan Manajemen Data Perkotaan dikemukakan tiga narasumber yang mempresentasikan kasusnya masing-masing. Dimulai dengan Founding Partner SDGx, Christian Walter. Sebagai perwakilan dari perusahaan investasi, Christian telah memiliki banyak pengalaman dengan perusahaan startup berbasis teknologi di Eropa serta Australia, dan kini memperluas wawasannya ke negara-negara Asia Tenggara. Dia merinci pengalaman sebelumnya dalam mempromosikan Green Marine Technology di pelabuhan Singapura dan mendirikan Living Lab di Newcastle, Australia.

Selanjutnya, Dino Fitriza, Climate Reality Leader dan Sekretariat Sustainable Development Goals (SDG) Jakarta, memaparkan tentang tujuan pembangunan berkelanjutan di Jakarta. Ia membahas 253 indikator SDG Jakarta. Setiap tahun mereka memantau indikator-indikator tersebut, kegiatan pemerintah, kegiatan aktor non-negara, serta pencapaian apa pun yang dilakukan Jakarta untuk dimuat dalam laporan tahunan. Terakhir, Manajer ICLEI Local Governments for Sustainability, Ari Mochamad memaparkan pentingnya kecerdasan dan keberlanjutan kota terkait dengan perubahan iklim serta perencanaan kota. Melalui pembahasan berlatar belakang penelitian serta tantangan dan peluang, Ari Mochamad memberikan gambaran bagaimana pengambilan kebijakan dan pengelolaan data perkotaan dapat mengurangi risiko dampak lingkungan kota.

Paruh pertama konferensi ditutup dengan penandatanganan Dokumen Kesepakatan (MoU) oleh perwakilan Delegasi Negara Berlin, Sawsan Chebli, dan Pejabat Plt. Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta, Dr. Sri Haryati. Sebelum penandatanganan, kedua belah pihak menyampaikan pidato tentang hasil apa yang dapat diharapkan dari konferensi serta bagaimana kedua kota dapat saling belajar dengan bertukar pengalaman dan solusi.

Diskusi Enam Indikator Smart City

Beralih ke bagian kedua dari konferensi virtual, kita memasuki diskusi mendalam tentang enam indikator Kota Cerdas: Smart Government, Smart People, Smart Living, Smart Environment, Smart Economy, dan Smart Mobility. Sesi-sesi ini disajikan secara berpasangan, dengan dua presentasi yang berlangsung secara bersamaan, sehingga audiens dapat memilih topik mana yang mereka anggap paling menarik atau berpindah-pindah di antara keduanya. Pasangan pertama adalah tentang Smart Government dan Smart People.

Smart Government dan Smart People

Sesi Smart Government dimulai oleh Ulrich Ahle, CEO FIWARE Foundation, yang menjelaskan bagaimana sebagai perusahaan teknologi open source, mereka berjuang untuk masa depan digital melalui data perkotaan dan solusi untuk kesejahteraan warga. Melanjutkan topik sebelumnya, Arthur Glenn Maail dari Web Foundations & Open Data Labs Jakarta berbicara tentang pentingnya data terbuka dan tantangan yang dihadapi dalam bekerja menuju tata kelola yang didorong oleh permintaan. Terakhir, Dr. Mulya Amri, Direktur Riset katadata, yang memberikan sudut pandang unik tentang data. Dr. Amri mengusulkan untuk mengumpulkan semua data yang terkumpul dan menyampaikannya dalam sebuah portal online yang dapat diakses. Ini dilakukan oleh katadata melalui databoks.id yang pada dasarnya berfungsi sebagai mesin pencari berbagai data di Indonesia.

Sedangkan sesi Smart People yang dibawakan oleh Nisa Johan membahas bagaimana data, kebijakan, dan edukasi dapat membantu kita menangkal kesenjangan digital. Goldy Fariz Dharmawan dari Lembaga Penelitian SMERU melaporkan temuannya berdasarkan survei sosial ekonomi 2019 sebelum pandemi melanda. Ia membandingkan data khusus siswa dengan status sosial ekonomi (SES) rendah dan siswa dengan SES tinggi, untuk melihat bagaimana pandemi serta proses pembelajaran daring menciptakan kesenjangan pendidikan yang lebih besar di antara kedua kelompok tersebut. Presentasi berikutnya dari Senior Policy Analyst Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Ade Chandra, dan Co-Founder Learn Education, Tannin Timtong. Ade Chandra menekankan digitalisasi pendidikan untuk mencegah kesenjangan digital yang semakin besar antar lapisan masyarakat yang berbeda, terutama selama pandemi Covid-19. Sedangkan Tannin Timtong membeberkan bagaimana pembelajaran digital progresif dapat meningkatkan kualitas pendidikan di negara asalnya, Thailand.

Smart Living dan Smart People

Sesi berikutnya yang dipandu Mike Richardson membahas Smart Living dan bagaimana data dapat meningkatkan kualitas perawatan kesehatan serta pengambilan keputusan medis yang lebih tepat. Elina Ciptadi, Co-founder KawalCovid19.id, menuturkan tentang data medis yang kurang lengkap di Indonesia saat ini dan bagaimana cara memperbaikinya. Dr. Verry Adrian mempresentasikan perspektif Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam transformasi kesehatan digital. Dalam presentasi ketiga, Dr. Supachai Vongbunyong dari King Mongkut's University of Technology Thonburi, memberikan wawasan mengenai robotika dan teknologi artificial intelligence (AI) yang membantu sektor medis di Thailand.

Banjir yang sering terjadi di Jakarta pada musim hujan tentu menjadi topik bahasan penting dalam memajukan Jakarta. Dalam sesi tentang Smart Environment ini, pembicara tamu mengutarakan bagaimana data dapat membantu pengelolaan risiko banjir. Rotterdam, kota di Belanda yang terletak di dekat delta sungai, menghadapi masalah serupa dengan Jakarta terkait banjir. Maka, Vera Konings, Penasihat Senior Rotterdam dalam Banjir dan Manajemen Kota, memberi masukan yang sangat berharga tentang cara-cara mengurangi banjir di kotanya dan seberapa penting pengelolaan data dalam proses ini. Dari perspektif Jerman hingga Indonesia, Kepala Analis Data Jakarta Smart City, Juan Intan Kanggrawan, dan Kepala Pusat Data Departemen Mitigasi Bencana Jakarta, Ir. Moh Insaf, menyediakan metode pengumpulan datanya sendiri serta cara kerjanya dalam mitigasi banjir seperti sistem peringatan dini digital.

Smart Economy dan Smart Mobility

Bagian ketiga yang menjadi penutup sesi diskusi membahas dua indikator terakhir, Smart Economy dan Smart Mobility. Untuk Smart Economy, Sean Baptist dari Graffiquo, perusahaan kecerdasan visual yang berbasis di Singapura, Prasetwa DwiCahya dari Data Science Indonesia, serta Dr. Mediawati dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Jakarta, membahas kemungkinan penggunaan digital twin. Kembaran digital menggunakan replika virtual sebuah kota yang meliputi jalan, gedung, serta tempat umum, lalu menggabungkannya dengan informasi real time yang bersumber dari tempat-tempat tersebut. Graffiquo telah mengambil langkah-langkah dalam mendigitalkan Singapura ke dunia maya, bersama dengan lapisan data yang lebih dalam di luar representasi fisik, termasuk lapisan informasi digital dan lapisan interaksi spasial.

Mengenai Smart Mobility, pembahasannya mencakup aspek apa saja yang dapat membantu membangun mobilitas berkelanjutan dalam hal inovasi perkotaan. Selain itu, bagaimana data dapat mendukung keputusan dalam pembuatan kebijakan serta interaksi antara berbagai pemangku kepentingan dan berbagai instansi pemerintah provinsi. Sesi ini dihadiri oleh Dr. Philippe Crist dari OECD International Transport Forum, Aditya Luhut Sibarani, Peneliti Senior dari Indonesia Transportation Society, dan Irani Handalia dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Sebagai penutup acara, CEO Hukumonline, Jan Ramos Pandia, dan Wicaksono Sarosam, Direktur Ruang Waktu, berbicara tentang rencana masa depan serta hasil dari konferensi online ini. Mereka juga menyiapkan dua dialog yang akan bekerja pada pengembangan inisiatif terkait tata kelola kota cerdas selama dua tahun ke depan. Diharapkan akhir dari pertemuan virtual ini tidak sekaligus menandai berakhirnya kerja sama, melainkan justru memunculkan kolaborasi baru dan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan serta kebahagiaan warga  Jakarta maupun Berlin. Tidak sempat menonton konferensi ini secara langsung? Jangan khawatir, seluruh acaranya terekam dan bisa disaksikan melalui channel Youtube Jakarta Smart City. Sampai jumpa di Smart Change Online Conference berikutnya!

 

 

------

Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

JDCN: Membangun Kota Kolaborasi

Apakah yang mendefinisikan sebuah kota? Warga? Gedung pencakar langit? Pemerintahan? Ekonomi? Mungkin para ahli akan terus memperdebatkan hal ini untuk bertahun-tahun. Namun, apapun definisinya, jelas ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City