Kaleidoskop Satu Tahun JAKI Layani Jakarta

JSC | 2 months ago

Smartcitizen, tahukah kamu? Sudah setahun lebih JAKI menemani aktivitas sehari-hari warga Jakarta. Ya, aplikasi super kembangan Badan Layanan Umum Daerah Jakarta Smart City (BLUD JSC) ini dikenalkan di hadapan jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk kali pertama pada 27 September 2019. 

Proses tercipta JAKI punya kisah tersendiri lho. Waktu itu, Pemprov DKI Jakarta menyadari perkembangan pesat teknologi informasi, disertai dengan konsumsi digital masyarakat Jakarta yang tinggi. Untuk mewujudkan kota yang cerdas (smart city), dibutuhkan aplikasi pelayanan publik yang cerdas.

Fakta banyak warga yang bergantung kepada internet juga nggak bisa dihiraukan. Pada awal 2019 saja, data WeAreSocial menunjukkan, 150 juta orang Indonesia sudah memiliki akses untuk menjelajahi dunia internet. Itu berarti 56 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dari angka tersebut, 60 persen di antaranya terkoneksi melalui ponsel pintar (smartphone).

Melihat tren inovasi teknologi yang sedang berlangsung, tentu bukan tak mungkin jika angka tersebut akan terus bertambah pada masa mendatang. Bagaimana tidak, segala kebutuhan yang dulu hanya bisa dilakukan dengan datang ke tempat (on-site) kini bisa diselesaikan dari genggaman tangan saja. Nah, perkembangan seperti ini yang kemudian menjadi salah satu faktor di balik kehadiran JAKI. 

Awal Pengembangan JAKI

Dengan motto ‘Satu Aplikasi untuk Beragam Kebutuhan’, JAKI dirancang sejak awal sebagai one-stop service untuk membantu masyarakat Ibu Kota dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan memecahkan permasalahan yang mereka temui sehari-hari.

Bila kamu membuka JAKI sekarang, maka kamu akan bertemu dengan begitu banyak fitur yang siap melayani permintaanmu. Tapi, tahukah kamu, ada suatu masa di mana jumlah fitur JAKI masih bisa dihitung dengan jari. Ya, itu terjadi ketika JAKI masih menjalani tahap perkembangan awal (early-development).

Gambar di atas merupakan salah satu draf rancangan pertama JAKI yang ternyata sudah dibuat sejak 2018! Jadi kebayang kan sudah berapa lama masa pengembangan JAKI? Seperti yang bisa kamu lihat, pada versi ini, fitur-fitur yang sekarang sudah biasa kita pakai seperti JakPantau belum tersedia di JAKI. Namun, seiring perjalanan waktu, perlahan fitur-fitur baru ikut meramaikan JAKI.

Sebuah Aplikasi Kolaborasi 

Penambahan fitur JAKI nggak semuanya dibuat dari awal atau scratch. Sebelum JAKI ada, sejumlah dinas yang bergerak di bawah Pemprov DKI Jakarta lebih dulu memiliki aplikasi atau situs pusat informasi masing-masing. PD Pasar Jaya, misalnya, yang mengelola informasi harga pangan melalui situs Info Pangan Jakarta. Karena JAKI juga mengemban tugas sebagai integrator, layanan tersebut kemudian diintegrasikan menjadi fitur baru bernama JakPangan yang sekarang bisa kamu pakai sebelum berbelanja.

Kolaborasi tidak hanya dilakukan di dalam lingkungan Pemprov DKI saja lho, Smartcitizen. Sebagai bagian dari upaya mewujudkan Jakarta 4.0, pemerintah juga menggandeng beberapa perusahaan teknologi untuk berkolaborasi membangun Jakarta. Dengan kolaborasi, fungsi JAKI pun semakin luas, mulai dari pendidikan lewat JakSekolahmu hingga keamanan bersama melalui JakAman.

Ujian Bernama Covid-19

Kolaborasi yang terjalin di JAKI ini akhirnya terbukti penting ketika wabah pandemi Covid-19 melanda Jakarta pada awal 2020. Waktu itu, belum ada fitur JAKI yang benar-benar bisa mempersiapkan warga Jakarta untuk menghadapi dampak penyebaran virus yang juga terjadi di berbagai negara. 

Hingga akhirnya, sekumpulan mahasiswa Harvard University dan ilmuwan data terbaik yang dimiliki Indonesia memaparkan ide pembuatan tes uji risiko mandiri Covid-19 kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mereka adalah Harvard CLM Team, tim di balik pengembangan alat uji risiko mandiri yang berbasiskan teknologi machine learning dan sekarang kita kenal dengan JakCLM.

[Jakarta X Harvard CLM Team: Kolaborasi Ciptakan Cek Mandiri COVID-19]

Setelah JakCLM, terjalin pula kolaborasi-kolaborasi lain yang berbagi misi serupa untuk melindungi kesehatan warga Jakarta. Seperti kerja sama antara Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat dengan mengintegrasikan aplikasi besutan Kementerian Komunikasi dan Informatika, PeduliLindungi, yang menyediakan fitur pelacakan kontak erat atau Contact Tracing. Begitu juga dengan inovator-inovator lain seperti Jejak dan Nodeflux yang membantu Jakarta dalam memantau mobilitas selama masa pandemi.

Tumbuh Bersama Jakarta

Melalui inovasi berkelanjutan, JAKI terus berevolusi dan tumbuh bersama Jakarta. Pada pertengahan Juni lalu, Jakarta Smart City memperbesar basis pengguna dengan menghadirkan aplikasi JAKI di gerai digital Apple, App Store, untuk warga Jakarta yang menggunakan gawai berbasis iOS. 

Ditambah dengan fitur-fitur yang menarik dan bermanfaat serta berkat bukti efektivitas JAKI dalam menindaklanjuti permasalahan yang dikirimkan oleh masyarakat, jumlah pengguna JAKI pun meningkat cukup signifikan.

Data yang terhimpun pada Januari 2020 memperlihatkan total unduhan JAKI masih berada di bawah kisaran 100 ribu. Namun, dengan pertumbuhan yang konsisten, jumlah unduhan terus bertambah dan saat ini lebih dari 750.000 perangkat digital terpasang aktif dengan aplikasi JAKI. 

Kolaborasi erat antara pemerintah dan warga melalui JAKI inilah yang akhirnya mengantarkan JAKI ke capaian gemilang di ajang kontes nasional IdenTIK 2020. Setelah melewati proses seleksi dan penilaian yang ketat oleh dewan juri, JAKI akhirnya terpilih sebagai karya terbaik di kategori pelayanan publik (public sector) dalam kompetisi yang diadakan Kemenkominfo ini. Raihan ini juga menjadikan JAKI sebagai wakil Indonesia di ajang kompetisi yang lebih tinggi, yakni ASEAN ICT Awards.

[JAKI: Super-app Jakarta Menuju Kompetisi ASEAN]

Tampilan Baru untuk Semangat Baru

Walau trofi penghargaan menjadi prestasi yang membanggakan, Jakarta Smart City selaku pengembang JAKI akan tetap mengutamakan kepuasan warga Jakarta sebagai pengguna. Untuk itu, JAKI terus berbenah, berkembang, dan mengikuti perubahan. Mendekati penghujung 2020, JAKI kembali berevolusi dalam wujud logo dan tampilan baru yang lebih segar. 

Tidak hanya aspek visual dari segi warna, JAKI juga mengubah filosofi aplikasi guna identifikasi fitur yang lebih cepat dan mudah. Fitur-fitur cerdas pun terus dihadirkan untuk menjawab segala tantangan baru yang bermunculan. 

Dengan tampilan baru yang menyulut semangat baru, JAKI diharapkan tidak hanya menjadi alat pemecah solusi bagi warga Jakarta, tetapi sebagai contoh pula untuk diterapkan di daerah lain di Indonesia atau bahkan di negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, terus dukung JAKI dengan rajin memakai fitur-fiturnya. Buat yang belum punya, kamu bisa bergabung dengan segera mengunduh JAKI yang tersedia di Google Play Store dan Apple App Store!

 

 

------

Aditya Gagat Hanggara

Artikel lainnya

Efisien Mengolah Sampah dengan Intermediate Treatment Facility (ITF)

Rencana pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) akan segera terwujud. Pasalnya, fasilitas tersebut akan memulai tahap konstruksi pada Desember 2018 mendatang. Inovasi teknologi ini diklaim ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City