JAKI: Super-app Jakarta Menuju Kompetisi ASEAN

JSC | 20 days ago

Rasa suka cita dan bangga tengah menghinggapi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berhasil mendulang kemenangan di kompetisi nasional Indonesia Entrepreneur TIK (IdenTIK). Pada ajang yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika itu, aplikasi milik Pemprov DKI, Jakarta Kini atau JAKI, terpilih sebagai karya terbaik untuk kategori public sector. 

[JAKI Juara IdenTIK 2020]

Dengan menjadi yang terbaik di kategori tersebut, maka JAKI dinilai telah menjadi sebuah terobosan inovatif yang mampu membantu kinerja pemerintahan untuk lebih efisien, efektif, transparan, dan memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. Di balik kesuksesan ini adalah kerja keras dari segenap tim Jakarta Smart City sebagai pengembang, beserta kolaborasi dan kerja sama dengan warga Jakarta. 

Proses seleksi berlangsung ketat. Setiap peserta kompetisi harus memenuhi kriteria dan faktor penilaian yang menjadi pertimbangan para dewan juri. Kira-kira, keunggulan apa yang berhasil mengantarkan JAKI sebagai pemenang di IdenTIK?

Keunggulan JAKI di Mata Juri

Konsep aplikasi super atau super-app sudah diusung oleh Pemprov DKI sejak awal pengembangan JAKI. Demi mewujudkan hal tersebut, JAKI juga berperan sebagai integrator dan menjadi sebuah platform yang dapat dimanfaatkan oleh para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov DKI Jakarta untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Hasilnya, aplikasi yang sebelumnya tersebar secara terpisah, terkumpul menjadi satu untuk menghadirkan satu aplikasi lengkap yang dapat memenuhi beragam kebutuhan warga Jakarta.

“Aplikasi yang kami cari adalah aplikasi yang dapat membuat perubahan secara sistemik,” ungkap Shita Laskmi dari TIFA Foundation yang juga merupakan juri untuk kategori public sector pada kompetisi IdenTIK. “Jadi bukan secara anekdotal [kurang menyeluruh], melainkan sistemik untuk perubahan proses kerja dari public sector agar menjadi lebih efektif dan efisien.”

Menurut Shita, fitur lengkap yang dimiliki JAKI menjadi keunggulan tersendiri di kategori ini. Ia mengambil contoh bagaimana fitur JakLapor telah membantu akuntabilitas Pemprov DKI Jakarta dalam menerima dan menindaklanjuti laporan dari warga. Begitu pula dengan fitur-fitur pendukung lain seperti JakWarta yang membantu aliran informasi dari OPD setiap hari serta Jejaki untuk menanggapi isu seputar penyebaran pandemi Covid-19.

“Jadi JAKI memang cukup lengkap, dan yang kami lihat banyak fitur-fitur dalam JAKI yang sudah ikut mempengaruhi proses pengambilan keputusan di Jakarta,” lanjutnya.

Untuk menjadi pemenang, JAKI harus bersaing dengan kompetitor lain di kategori public sector. Namun, Shita menjelaskan dari total jam kerja yang sama atau bahkan lebih besar, lingkup perbaikan yang dihasilkan dari proyek lain masih lebih kecil dibandingkan apa yang dicapai oleh JAKI. 

“Sementara kompetitor lain mungkin mereka hanya memperbaiki bagian persuratannya saja, atau hanya memperbaiki bagian customer relation-nya saja,” tambah Shita.

Tantangan Menuju Kompetisi ASEAN

Kemenangan Jakarta dan JAKI dalam kompetisi nasional memang belum seharusnya menjadi titik puncak pencapaian. Setelah menjadi salah satu pemenang di IdenTIK, itu berarti JAKI akan mewakili dan sekaligus membawa bendera Indonesia dalam persaingan yang lebih tinggi di kompetisi ASEAN ICT Award 2020 di Malaysia.

Dengan tantangan yang lebih berat menanti, Shita pun tidak ketinggalan memberikan beberapa masukan berharga yang bisa menjadi pertimbangan bagi Jakarta untuk mempersiapkan JAKI lebih baik lagi. 

Sebagai informasi, untuk kategori public sector, kompetisi AICTA akan melibatkan sekitar 30 proyek atau program yang diajukan dari sepuluh negara peserta. Oleh karena itu, Shita berharap JAKI bisa melakukan persiapan yang lebih matang, terutama dalam hal presentasi dan pembuatan video yang bagus agar dapat lolos dari proses kurasi yang akan berjalan ketat.

“Pertama yang menjadi catatan penting dan tidak boleh disepelekan adalah format penulisan formulir dan pembuatan video yang baik karena itu akan menjadi saringan pertama,” ungkap Shita

Apabila JAKI berhasil lolos dari saringan pertama dan melewati proses pertimbangan akhir dari dewan juri, maka tantangan berikutnya adalah membawakan presentasi di hadapan semua juri secara langsung. 

“Di sana, JAKI harus bisa memperlihatkan perubahan yang lebih jelas, apakah benar-benar membuat efisien, efektif, dan seperti apa dampak dan skala perubahannya. Kemudian JAKI juga perlu menunjukkan bahwa solusi ini berpotensi untuk direplikasi oleh negara-negara lain yang relevan.”

Sementara, berbicara tentang pesaing terberat, Shita menyebut Singapura yang tidak jarang menyabet gelar juara pertama atau kedua di ajang AICTA. “Kalau saya melihat mereka [Singapura] biasanya lebih sistemik dan perubahannya lebih dalam dibandingkan negara-negara lain. Dari soal peta yang kemudian masuk ke dalam pengambilan keputusan, masuk juga ke dalam efisiensi pekerjaannya dan laporannya ke publik. Jadi aplikasi-aplikasi mereka lebih rounded dari awal hingga akhir dan tidak setengah-setengah.”

Apa yang Perlu Ditingkatkan?

Selain persiapan administratif yang matang, Shita kemudian melanjutkan perhatiannya pada peningkatan yang berkaitan dengan fitur-fitur pada JAKI. Menurut Shita, ragam fungsi yang tersemat pada JAKI sudah cukup lengkap. Namun, karena JAKI adalah sebuah super-app yang mengintegrasikan aplikasi-aplikasi berbeda, maka dibutuhkan penjelasan yang lebih baik lagi mengenai keamanan saat terjadi pertukaran data.

“Karena JAKI mengumpulkan data-data dan kemudian dipakai di berbagai macam aplikasi berbeda, maka harus ada akuntabilitas yang jelas dalam proses itu. Dengan kata lain, perlu ada kebijakan privasi yang lebih jelas lagi. Setelah itu, perlu dipisahkan mana yang menjadi tanggung jawab pihak ketiga dan mana yang menjadi tanggung jawab pihak Jakarta Smart City,” tuturnya.

Ia berharap, bila peningkatan ini bisa diwujudkan, maka JAKI akan bisa menjadi tolak ukur yang baik bagi daerah-daerah lain untuk mereplikasi konsep aplikasi super yang diusung Pemprov DKI Jakarta.

“Yang saya kagumi dari JAKI adalah bagaimana mereka mengajak pihak lain untuk bergabung dan berkolaborasi. Jadi sekarang tinggal bagaimana JAKI membuat proses-proses tadi menjadi lebih akuntabel dan transparan, serta memperjelas peraturan dan pertanggungjawabannya,” pungkas Shita.

Sebagai Smartcitizen, kamu juga bisa ikut mendukung JAKI. Caranya, dengan aktif memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia, seperti melaporkan pelanggaran PSBB dengan JakLapor untuk mempercepat pemulihan Jakarta dari pandemi Covid-19. Karena berapapun kontribusimu akan membawa perubahan yang besar!

 

 

------

Aditya Gagat Hanggara

Artikel lainnya

Contact Tracing dan Check-Point Monitoring: Apa dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Jakarta masih belum lepas dari pandemi Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti pada masa awal pandemi pun kini berlaku lagi sebagai kebijakan rem darurat (emergency brake policy). ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City