Jakarta Juara Sustainable Transport Awards 2021

JSC | 25 days ago

Smartcitizen mungkin sulit merasakan kegembiraan pada 2020 ini, tersebab pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia kini. Tapi, pada Jumat, 30 Oktober 2020 lalu, kita patut bangga dan berbahagia mendapat kabar dari New York, Amerika Serikat, karena Jakarta meraih Sustainable Transport Award (STA) 2021. STA merupakan ajang yang diadakan oleh Institute for Transportation and Development (ITDP) dan Komite Sustainable Transport Award untuk memberikan penghargaan kepada satu kota di dunia yang telah berhasil mengimplementasikan inovasi transportasi berkelanjutan pada tahun sebelumnya. 

Apa itu Sustainable Transport? 

Menurut Uni Eropa, untuk bertransisi menuju transportasi berkelanjutan, sebuah kota perlu menyediakan moda kendaraan alternatif yang lebih terjangkau, mudah diakses, sehat, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, strategi-strategi terkait dengan transportasi kota yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup penduduk, mengurangi emisi gas penyebab polusi dan efek rumah kaca, serta meningkatkan keamanan di jalan raya berhak untuk dinobatkan sebagai juara STA. Seoul, London, Paris, Rio de Janeiro, dan San Francisco merupakan sejumlah kota yang pernah menjadi pemenang STA tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Jakarta berhasil mengalahkan 27 kota lain yang dinominasikan, termasuk Auckland, Selandia Baru; Buenos Aires, Argentina; Frankfurt, Jerman; dan Moskow, Rusia. Sebelumnya, ibu kota kita pun sempat mendapatkan Honorable Mention pada ajang STA 2020 lalu yang dimenangkan oleh Kota Pune, India. Menurut situs resmi STA, inilah yang membuat sistem transportasi di Jakarta  memenangkan STA 2021.

[Jakarta dapat Honorable Mention di STA 2020]

Sistem Bus Rapid Transit, Penghubung Ibu Kota yang Terpercaya

Seperti ketika mendapat Honorable Mention di STA 2020, Jakarta kembali mendapat pujian untuk sistem Bus Rapid Transit atau BRT pada STA 2021. Diluncurkan pada 2004, Transjakarta adalah sistem BRT pertama di Asia Tenggara dan telah berkembang pesat menjadi moda transportasi umum tercepat dan paling memudahkan di ibu kota. Berkat jalur khusus, warga Jakarta bisa bepergian dengan murah dan cepat, tanpa perlu mengkhawatirkan macet. 

Mengintegrasikan BRT dengan bus biasa dan kendaraan umum lokal lainnya seperti JakLingko, kita dapat mencapai wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh bus Transjakarta. Jumlah pengguna Transjakarta juga terus meningkat pada tahun 2018 hingga awal 2020, mencapai satu juta penumpang per hari pada Februari 2020, sebelum menurun karena pandemi Covid-19. BRT pun terus berkembang melalui pengintegrasian Transjakarta dengan LRT (Light Rail Transit) dan MRT (Mass Rapid Transit), sehingga jaringan transportasi umum Jakarta akan semakin luas dan terhubung.

Melawan Polusi dan Pandemi dengan Bersepeda

Smartcitizen pasti sudah kenal baik dengan Car Free Day (CFD). Setiap hari Minggu, warga Jakarta berbondong-bondong meninggalkan kendaraan bermotor untuk digantikan dengan alternatif yang lebih sehat dan ramah lingkungan: bersepeda. Meskipun pelaksanaannya identik dengan Jalan Sudirman dan MH Thamrin, CFD sebenarnya dilaksanakan secara massal di berbagai wilayah Jakarta. STA menyebut Car Free Day sebagai salah satu contoh pengutamaan bersepeda yang sudah terlaksana. Walau sering dijuluki sebagai kota yang rawan macet karena jumlah pengguna mobil yang banyak, inisiatif untuk mengubah pola hidup warga inilah yang menjadi satu poin krusial atas kemenangan Jakarta di STA 2021.

Sejak pandemi Covid-19, pengutamaan sepeda sebagai moda transportasi alternatif kian jelas. Untuk mempermudah akses pengendara sepeda, Pergub No. 51 Tahun 2020 mewajibkan seluruh jalan untuk menyisihkan sebagian ruas yang dijadikan jalur khusus sepeda dan pejalan kaki. Perkantoran, pusat belanja, dan stasiun juga diimbau untuk menggunakan sebagian lahan lapangan parkir sebagai parkir khusus sepeda. Jalur sepeda sepanjang 500 km yang akan melintasi Jakarta juga telah direncanakan, 63 km di antaranya sudah selesai dibangun. Selain menjadi opsi yang sehat dan bebas biaya, warga juga memilih bersepeda untuk menghindari risiko penularan Covid-19 yang lebih riskan di transportasi umum. Berkat semua kebijakan tersebut, jumlah pengguna sepeda di Jakarta naik 500%. Di kawasan padat seperti Jalan Sudirman dan Stasiun Dukuh Atas, kenaikan ini bahkan mencapai 1.000%.

“Antusiasme masyarakat untuk bersepeda di Jakarta harus menjadi panggilan bagi pemerintah kota-kota dunia bahwa pembangunan untuk mobil saja tidak lagi cukup,” tutur Heather Thompson, CEO ITDP, “Walau dihadang pandemi, perubahan iklim, atau krisis kualitas udara, keberhasilan Jakarta menunjukkan kepada kita betapa penting membuka semua alternatif angkutan yang tersedia, agar kota terus bergerak.”

Jelas bersepeda patut menjadi moda transportasi utama di sebuah kota cerdas, terutama di tengah masa pandemi yang serba berjarak. Belum lagi dengan hujan pujian dari STA, sistem BRT Jakarta juga sudah terbukti kualitasnya. Tidak hanya cepat, terjangkau, dan ramah lingkungan, kemacetan di jalan raya pun akan teratasi jika lebih banyak orang menggunakan kedua alternatif ini dibanding kendaraan pribadi,  Ayo, Smartcitizen, jadikan kemenangan yang membanggakan ini sebagai motivasi untuk lebih sering lagi kita bersepeda dan berkendaraan umum, demi Jakarta yang lebih baik.

 

 

------

Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

Petya Ransomware: Serangan Cyber Global Setelah WannaCry

Pekan lalu, negara-negara di Eropa dan Amerika kembali melaporkan serangan ransomware bernama Petya. Software berbahaya tersebut dikabarkan menyerang komputer-komputer di beberapa perusahaan besar di ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City