JSC Talks Vol. 11: Bersama Siaga Banjir dengan JakPantau di JAKI

JSC | 8 days ago

Smartcitizen, sudah pernahkah kamu menggunakan aplikasi JAKI? Kalau kamu rajin mengikuti media sosial dan segala update dari Jakarta Smart City, tentunya kamu sudah pernah mendengar atau bahkan memanfaatkan JAKI dalam kegiatan sehari-hari. Aplikasi serbaguna ini memang memiliki beragam fitur yang dapat memudahkan aktivitas masyarakat Jakarta, dari mengecek harga bahan pangan hingga memantau jumlah kasus Covid-19 di kelurahan sekitar. Beberapa minggu terakhir, Jakarta mengalami hujan lebat hampir setiap hari. Walaupun ini telah menjadi kejadian tahunan yang biasa, curah hujan yang tinggi bisa berakibat buruk terhadap para warga yang tinggal di dekat sungai, kanal air, atau wilayah rawan banjir lainnya.  

Pada musim hujan akhir tahun ini pun, JAKI tak berhenti membantu kehidupan warga. Bila kamu merupakan salah satu warga yang tinggal di daerah rawan, ada baiknya kamu mengunduh dan menggunakan JAKI. Kenapa? Karena ada JakPantau. Nah, di JSCTalks kali ini, kita berbincang tentang JakPantau, bersama moderator Imam Prasetia (Product Trainer) dan dua narasumber dari JSC, yaitu Abi Maulana (System Analyst) serta Teddy Ariansyah (Technical Support). Mas Abi dan Mas Teddy memperkenalkan JakPantau kepada kita, lengkap dengan kegunaan dan cara kerjanya.

Pertama, Mas Teddy mengenalkan cara memakai JakPantau. Fungsi utama JakPantau adalah untuk memudahkan warga Jakarta dalam mengakses informasi mengenai wilayah-wilayah yang terdampak banjir di ibu kota. Informasi seputar daerah banjir atau tergenang yang tersedia di JakPantau diperbarui setiap jam dan dapat dimonitor secara real-time. Data yang bisa kamu temukan di JakPantau antara lain tentang Pintu Air, Pos Pengamatan, Pompa Air, dan Info Banjir.

Ketika kamu memilih ikon Pintu Air, titik-titik lokasi pintu air di sekitar Jakarta akan muncul pada peta digital yang disediakan oleh JakPantau. Dengan memilih salah satu lokasi, akan muncul jendela yang merincikan nama lokasi, ketinggian air di lokasi tersebut, serta status siaga. Berdasarkan status siaga pintu air, jendela yang muncul akan berbeda warna. Jendela akan berwarna biru jika pintu air berstatus siaga 4 (paling rendah), kuning bila siaga 3, oranye kalau siaga 2, dan merah andai siaga 1 (paling tinggi). Demikian pula halnya jika kamu memilih ikon Pos Pengamatan.

Status siaga pompa air juga bisa dilihat dengan menekan ikon Pompa Air di bawah layar yang akan memunculkan titik-titik lokasi pompa air. Pilih salah satu titik lokasi tersebut untuk mengecek berapa jumlah total pompa air yang ada di lokasi tersebut serta berapa yang dioperasikan atau disiagakan. Selain itu, kamu juga bisa mengetahui cuaca dan daerah kewenangan. Yang terakhir, Info Banjir akan menunjukkan kelurahan-kelurahan yang terdampak banjir di Jakarta. Wilayah yang terdampak diberi warna pada peta sesuai dengan ketinggian air di sana, dari warna biru yang melambangkan ketinggian air 10-30 cm hingga warna merah yang menunjukkan tinggi air di atas 150 cm. Ditambah lagi rincian mengenai setiap kelurahan terdampak, seperti jumlah korban, lokasi pengungsian, dapur umum, dan bantuan yang dibutuhkan.
 

JakPantau bermula dari ide untuk menampilkan data dan informasi dari website Pantau Banjir dalam bentuk aplikasi mobile yang lebih mudah diakses. Melalui riset dan survei mengenai kebutuhan informasi, setelah banyak proses penyesuaian user interface (UI) dan user experience (UX), JakPantau bisa dikembangkan hingga akhirnya dirilis sebagai fitur JAKI. Menurut Mas Abi yang berkontribusi besar dalam pengembangan JakPantau, tantangan paling utama adalah dalam sinkronisasi penyajian informasi dari Pantau Banjir. Data yang ditampilkan di JakPantau cenderung bersifat umum dan sederhana, supaya mudah dimengerti oleh semua pengguna yang mengaksesnya. 

Fitur JAKI yang berguna saat banjir bukan hanya JakPantau. Kamu juga bisa berkontribusi dalam penanganan banjir menggunakan fitur JakLapor. Laporan yang terkirim dari JakLapor akan masuk ke sistem pelaporan CRM dan segera diterima oleh kelurahan atau SKPD berwenang. Kamu cukup menekan tombol kamera yang berada di bawah tengah layar, lalu mengambil foto wilayah yang tergenang atau terdampak banjir. Pilihlah kategori masalah ‘Banjir’ agar laporan bisa ditangani oleh pihak yang sesuai, yakni DSDA atau BPBD. Rincikan juga dengan singkat dan jelas alamat atau lokasi kejadian, sehingga petugas yang turun dapat menemukan lokasi dengan mudah. Laporan yang kamu kirim tidak hanya akan membantu sesama warga yang terdampak banjir, tapi BPBD dan kelurahan setempat akan terbantu pula dalam melakukan pemetaan titik banjir serta mempercepat proses penanganan dan evakuasi.

Jadi, bersama JAKI, kamu bisa tetap aman dan siaga pada musim hujan dengan JakPantau serta membantu penanganan wilayah terdampak banjir dengan JakLapor. Tunggu apa lagi? Kalau kamu belum punya JAKI di perangkatmu, segera unduh dari App Store atau Google Play Store. Jangan lupa untuk terus mengikuti kanal Youtube JSC dan menonton JSC Talks selanjutnya.

 

 

------

Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

Mobile Lab PCR: Upaya Jakarta Maksimalkan Testing Covid-19

Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah kebijakan rem darurat (Emergency Brake Policy) dengan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai Senin, 14 September 2020. Hal ini dilakukan ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City