Jakarta X Harvard CLM Team: Kolaborasi Ciptakan Cek Mandiri COVID-19

JSC | 6 months ago

Prosedur Rapid Testing merupakan salah satu langkah awal yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengatasi penyebaran pandemi COVID-19. Namun, sepanjang pelaksanaannya, timbul sejumlah tantangan, seperti  penentuan siapa saja yang berhak mendapatkan prioritas lebih dulu untuk menjalani pemeriksaan cepat tersebut. 

Nah, Smartcitizen, demi mengoptimalkan penggunaan perangkat tes yang jumlahnya terbatas, Pemprov menjalin sebuah kolaborasi dengan Harvard CLM Team dan Klakklik.id. Dari kerja sama ini, lahirlah inovasi terbaru bernama COVID-19 Likelihood Meter (CLM)--sebuah aplikasi cek mandiri yang didukung dengan teknologi berbasis machine learning.

Kontribusi Harvard CLM Team Atasi Pandemi

Sesuai namanya, Harvard CLM Team terdiri dari sekumpulan warga negara Indonesia yang menimba ilmu di Harvard University, Amerika Serikat. Kini, mereka kembali ke Tanah Air dan secara sukarela ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam upaya mitigasi virus korona di Indonesia, khususnya di Jakarta. 

“Setiap dari kita merasa terbeban gitu dan ingin membantu negara sendiri buat menangani pandemi ini. Kita juga sadar punya oportunitas lebih--bisa belajar di Harvard, jadi kita juga ingin memanfaatkan apa yang kita pelajari untuk membantu negara sendiri,” ucap Jessica Wijaya yang saat ini sedang menempuh program Master of Science in Data Science.

“Aku merasa, dari apa yang aku sudah pelajari di Data Science, untuk bikin prediksi dari machine learning,  itu penting banget dan impact-nya lumayan besar untuk membantu mengatasi pandemi di negara ini,” tambahnya.

Sementara itu, dr. Nanda Lucky Prasetya merupakan Master of Medical Science (MMSc) dari Harvard Medical School pada 2019. Akhir  Maret lalu, ia memimpin tim Indonesians at Harvard saat bertemu secara langsung dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk memaparkan konsep pemanfaatan Data Science dalam penentuan prioritas Rapid Test. 

Dari pertemuan tersebut, dr. Nanda, yang juga memiliki minat tinggi pada bidang matematika, mengapresiasi sikap terbuka dan komitmen dari Pemprov DKI Jakarta dalam menangani pandemi dengan pendekatan sains.

“Inisiatif-inisiatif yang lebih berarah ke epidemiologi dan sesuatu yang inovatif mendapat sambutan yang baik di Pemprov DKI. Jadi saya bisa mengapresiasi upaya mereka dalam penanggulangan COVID-19 ini, dan punya trust yang bagus kepada Pemprov.” ujarnya.

CLM, COVID-19 Jakarta, JSC, Harvard

(Foto: Indonesians at Harvard)

Mengapa Jakarta Butuh CLM?

Selama wabah virus korona ini, mungkin  ada beberapa di antara kamu yang pernah mencoba telemedicine dan menggunakan layanan self-assessment, untuk mencari tahu apakah gejala yang kamu alami mirip dengan COVID-19 dan perlukah kamu mendatangi fasilitas kesehatan. Tapi tahukah kamu kalau layanan ini belum cukup efisien untuk menjaring siapa saja yang layak untuk mengikuti Rapid Test?

Oleh karena itu, melalui kolaborasi bersama Jakarta Smart City, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Klakklik.id, Harvard CLM Team kemudian mengembangkan CLM dengan beberapa keunggulan di dalamnya.

“Pertama, dibandingkan dengan platform telemedicine pada umumnya, perhitungan perlu tidaknya orang mengikuti tes melalui CLM punya dasar ilmiah. Beberapa telemedicine hanya melakukan pembobotan yang basisnya kurang kuat misalkan kalau gejala A dikasih skor 4, gejala B dikasih skor 2, lalu kalau lewat skor 10 berarti harus tes. CLM tidak seperti itu, model machine learning ini dibuat dari data real sebelumnya yang ada di DKI Jakarta sehingga akurasi perhitungannya lebih saintifik dan presisi,” jelas dr. Nanda.

“Jadi CLM ini, punya basis data atau seperti backup keilmiahan untuk menghitung apakah pasien ini positif atau negatif. Kedua, kita bisa prediksi berapa orang yang positif dari [data] yang kita kirimkan. 

“Ketiga, ini adalah uji mandiri yang komprehensif. Jadi ini tidak hanya mengkategorikan orang sebagai OTG, ODP, PDP, ataupun hanya memberikan orang saran. Tetapi juga memberikan dia skor dan juga memberikan dia langsung fasilitas, kira-kira Rapid Test perlu di mana, karena kita bekerja sama dengan Dinkes. 

“Keempat, CLM ini dinamis. Makin banyak data, maka makin presisi dan akurat. Saya percaya masyarakat DKI dengan jiwa sosialnya yang baik akan mengisi dengan jujur sehingga CLM ini bisa terus dikembangkan ketika data-data baru masuk. Sehingga semakin hari model CLM ini akan bisa menjadi wujud nyata dari masyarakat dan untuk masyarakat.”

Kejujuran Bantu Percepat Pemulihan

Nantinya, kamu bisa menggunakan aplikasi Kalkulator COVID-19 berteknologi CLM melalui JAKI. Dr. Nanda menyebutkan bahwa salah satu kunci keberhasilan program ini akan bergantung pada kejujuran pengguna saat menjawab pertanyaan. Karena selain untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan Rapid Test, ia percaya keakuratan data dari CLM ini nantinya juga akan dapat membantu Dinkes DKI Jakarta dalam melakukan tracing yang lebih baik.

Hal senada juga diutarakan Jessica. Ia meyakini jika setiap pengguna bisa menggunakan aplikasinya dengan bijak, maka secara tidak langsung hal tersebut akan ikut melancarkan proses pemulihan pandemi di Ibu Kota.

“Buat yang nanti mengisi di CLM ini, saya berharap semuanya bisa mengisi dengan jujur. Jangan sengaja memperparah gejala hanya untuk memperbesar peluang mendapat kesempatan tes. Karena dengan membantu masyarakat lain di sekitar kita, itu sebenarnya akan menguntungkan diri kita sendiri,” pungkasnya.

 

 

------

Aditya Gagat Hanggara

Artikel lainnya

Kelebihan Aplikasi Citizen Relation Management (CRM) sebagai Pengganti Cepat Respon Opini Publik (CROP)

Sebagai upaya menyempurnakan aplikasi CROP (Cepat Respon Opini Publik), Pemprov DKI Jakarta mengembangkan aplikasi Citizen Relation Management yang disingkat menjadi CRM. Seperti halnya CROP, CRM ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City