Stigma COVID-19: Apa yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengatasinya?

JSC | 18 days ago

Smartcitizen, merebaknya pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Jakarta telah menyebabkan ketakutan dan kecemasan yang kini dialami sebagian masyarakat. Jangan salah Smartcitizen, rasa takut memang merupakan hal yang biasa, bahkan bisa membantu kita agar tidak lengah dan tetap waspada. Sayangnya, perasaan takut yang berlebihan justru bisa memunculkan stigma sosial terhadap orang atau tempat yang dianggap memiliki hubungan dengan wabah tersebut. 

Stigma sosial tidak hanya dirasakan oleh para penderita tapi juga pekerja medis, termasuk yang saat ini sedang berjuang tanpa kenal lelah di garis terdepan. Mereka yang belum tentu terjangkit tapi menunjukkan gejala mirip COVID-19 juga terkadang mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan. Stigma itu bisa berupa penolakan sosial atau social rejection hingga kekerasan fisik. Jika ini dibiarkan begitu saja dan tidak diatasi, stigma sosial bisa berbahaya dan membuat orang:

  • Menyembunyikan penyakit agar tidak terkena diskriminasi

  • Terhalang saat mencari bantuan kesehatan

  • Tidak menjalankan gaya hidup sehat

Mereka yang merasa punya gejala tetapi akhirnya menolak memeriksakan diri ke fasilitas medis lantaran takut akan stigma, tentunya bisa memperbesar risiko penularan dan mempercepat laju penyebaran virus. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita membantu mereka yang terstigma dengan melakukan beberapa hal berikut.

Menyebarkan Fakta

Stigma sosial bisa diperparah dengan adanya disinformasi atau berita-berita hoaks seputar penularan atau penanganan penyakit COVID-19. Kamu bisa mencegahnya dengan membantu menyebarkan fakta yang didapat dari sumber-sumber informasi terpercaya misalnya dengan:

  • Tidak mengaitkan virus dengan etnis atau lokasi tertentu. Sesuai arahan dari World Health Organization, nama resmi penyakit ini bukanlah “virus Wuhan” ataupun “virus China” melainkan COVID-19. “CO” adalah kependekan dari Corona atau Korona dalam bahasa  Indonesia, “VI” yang berarti virus, huruf “D” untuk disease atau penyakit, dan 19 karena pertama kali muncul pada tahun 2019.

  • Menyebut orang yang terjangkit virus korona sebagai “pasien” dan bukan “korban” dari penyebaran COVID-19

  • Membagikan informasi akurat seputar risiko COVID-19 yang berlandaskan penelitian ilmiah serta rilis resmi dari badan kesehatan pemerintah seperti situs corona.jakarta.go.id milik Pemprov DKI Jakarta.

[Menjaring Disinformasi tentang Virus Korona melalui JalaHoaks]

Berkolaborasi

Di tengah kesulitan yang diakibatkan oleh COVID-19, wabah ini secara tidak kita sadari juga mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi semangat gotong royong. Jadi ketimbang larut dalam kecemasan, lebih baik kamu ikut berkolaborasi ya Smartcitizen. Kamu bisa memulainya dari lingkungan terdekatmu. Kita bisa mengambil contoh dari solidaritas warga RT 05/RW 10, Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ketika mengetahui ada tetangga yang kesulitan mendapatkan makanan, mereka berinisiatif membuka donasi sampai akhirnya terkumpul sejumlah uang dan beras sebanyak 25 kg.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah membuat program Kolaborasi Tanggap Corona melalui jaringan Jakarta Development Collaboration Network (JDCN). Selain menjadi wadah untuk menerima sumbangan seperti bahan pangan dan peralatan medis, di sana kamu bisa mendaftarkan diri sebagai relawan untuk membantu upaya pemerintah dalam memutuskan rantai penyebaran pandemi.

[JDCN: Membangun Kota Kolaborasi]

Dukungan Moral

Smartcitizen, jika kamu kenal dengan orang atau keluarga yang terdampak oleh wabah COVID-19, bantu mereka dengan memberikan dukungan moral. Kamu bisa melakukannya dengan mengirimkan pesan-pesan positif yang bisa menjadi penyemangat, terutama di saat mereka sedang menjalani isolasi mandiri atau dalam perawatan.

Sebarkan juga pengalaman seseorang yang berhasil sembuh dari penyakit COVID-19. Karena dengan cara tersebut kita juga bisa mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa sebagian besar penderita berhasil pulih dari wabah ini. 

[Kita Tak Sendiri Saat Menghadapi Pandemi]

Beri Apresiasi

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemprov DKI Jakarta juga mencakup imbauan untuk bekerja dari rumah. Tapi tahukah kamu, kalau masih ada 11 sektor yang masih beroperasi demi menopang Jakarta? Ya, mereka yang bergerak di bidang kesehatan, energi, kebutuhan sehari-hari, komunikasi, dan pelayanan dasar misalnya, masih bekerja di luar agar kamu bisa tetap beraktivitas #DiRumahAja. Yuk, kita bantu hargai kerja keras mereka dengan membuat kampanye-kampanye positif agar mereka terhindar dari stigma sosial.

[Bang Iki, Tukang Sayur yang Tak Mau Takluk oleh Korona]

Stigma tidak hanya menyakitkan perasaan seseorang, tetapi juga bisa menjadi ancaman untuk kesehatan masyarakat secara luas. Jadi, mari kita bersatu dan bersama-sama meluruskan segala informasi yang berkaitan dengan COVID-19 demi percepatan terwujudnya kota Jakarta yang bebas korona dan kembali seperti semula.

 

Sumber:
Unicef
CDC
American Psychological Association

 

 

------

Aditya Gagat Hanggara

Artikel lainnya

Jelajahi Kota Jakarta Hingga Malam Hari

Mulai Sabtu (21/5), warga Jakarta dan para wisatawan bisa naik Bus Wisata "City Tour" Jakarta dari pagi hingga malam hari karena Transjakarta telah resmi meluncurkan bus wisata malam. ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City