Kita Tak Sendiri Saat Menghadapi Pandemi

JSC | 8 months ago

Pandemi Putih

Lantai Bandara Soekarno-Hatta menyambut langkahku dengan dingin. Awalnya semua terlihat normal. Namun semakin dekat diperhatikan, kejanggalan-kejanggalan itu mulai bermunculan. Sepi. Hiruk pikuk wisatawan dan pelaku perjalanan dengan koper-koper mereka kini digantikan dengan langkah sunyi sosok-sosok berseragam putih yang berkeliaran, bagaikan hantu yang membayangi perjalanan kami menuju imigrasi. Wajah-wajah mereka terhalangi oleh masker bedah. Pasti petugas kesehatan, pikirku. Mereka menyuruh kami berbaris.

Sarung tangan karet mereka menggenggam sebuah alat yang mirip pistol. Aku berjalan langkah demi langkah, dan menengok ke depan untuk mengecek panjang antrean. Pistol-pistolan itu diarahkan ke kening seorang wanita di depan antrean dan mengeluarkan bunyi, lalu wanita itu dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Sejumlah petugas lain membagikan kartu berwarna kuning yang harus diisi. Data diri, alamat rumah, tanggal keberangkatan dan kedatangan, dan seterusnya. Di bawahnya tertera checklist yang berlabel ‘demam’, ‘radang tenggorokan’, ‘batuk’, ‘pilek’, dan ‘sesak napas’. Semuanya aku kosongkan.

Tak lama kemudian, aku berada di depan antrean. Alat “pistol” diarahkan ke keningku dan mengeluarkan bunyi. Petugas mengecek layar yang terletak di belakang alatnya.

“38.2℃. Sedikit panas nih, Pak. Bisa ikut kami sebentar?” tanya sang petugas dengan terus terang.

“Lah, kenapa? Saya nggak ada gejala apa-apa, kok.”

“Iya, Pak, tapi suhu badan Bapak melebihi batas demam, jadi harus dicek. Cuma mau ditanya-tanya aja sebentar.”

Sang petugas memanggil salah satu kawannya dan aku diantar menjauh dari kerumunan orang. Aku didudukkan di sebuah ruangan putih. Seorang petugas berdiri jauh di seberang ruangan, tangannya menggenggam beberapa lembar kertas.

“Oke, Pak, saya hanya perlu menanyakan beberapa hal. Tolong dijawab dengan jujur, ya,” ujarnya. Aku mengangguk. Sang petugas mulai bertanya, “Bapak baru kembali dari Tiongkok, ya?”

“Iya, Mas. Urusan pekerjaan. Beberapa hari aja, nggak sampai seminggu.”

“Bapak berkontak sama berapa orang selama di sana?”

“Waduh, saya kurang ingat. Sering meeting, jadi ya cukup banyak.”

“Setahu Bapak, apakah ada orang yang bapak kontak yang merupakan suspect atau terkonfirmasi positif COVID-19?”

“Nggak ada, Mas,” aku menggeleng.

“Ada gejala selain demam? Batuk? Pilek? Radang tenggorokan?”

“Nggak ada. Rasanya sehat-sehat aja.”

“Bagus, bagus,” sang petugas mengangguk-angguk sambil mencatat sesuatu, “Nah, jadi Bapak akan kami kategorikan sebagai Orang Dalam Pemantauan atau ODP. Ini berlaku untuk semua pelaku perjalanan dari negara terjangkit. Bapak sekarang harus self-isolation, dilarang keluar rumah selama dua minggu, ya. Bapak ada siapa di rumah?”

“Di rumah cuma saya aja, Mas,” jawabku. Dikurung dua minggu? Serius?

“Oke. Jangan ada tamu ke rumah, jangan dekat-dekat dengan orang lain, jarak minimal satu meter. Info kontak Bapak sudah kami ambil dari Health Alert Card yang diisi tadi, alamat rumah juga.”

“Alamat rumah juga perlu?”

“Iya, Pak, namanya kita harus siap untuk skenario terburuk. Tapi selama Bapak nggak ke mana-mana, rajin cuci tangan, dan makannya bener, seharusnya nggak ada masalah kok, Pak. Nggak bakal kerasa dua minggu.”

 

Muncul Gejala dalam Karantina

Tidak terasa sudah seminggu aku tak keluar rumah, walaupun tidak selancar yang aku kira. Beberapa hari yang lalu hanya pilek. Sekarang nafasku pendek dan suaraku serak. Padahal aku sudah berencana beraktivitas selama terkurung di rumah. Baca buku, nonton serial TV yang sampai sekarang belum aku lanjutkan, senam-senam kecil, bahkan aku mau coba belajar bahasa baru. 

Sayangnya, hal itu akhirnya tidak terwujudkan. Awalnya hanya batuk pilek. Suhu badanku masih naik, tapi tidak terlalu parah. Lalu tenggorokan mulai gatal dan kepala mulai pusing. Setiap hari aku hanya tidur di kasur, berharap pusingku reda dan demamku turun. Mau beraktivitas, tapi bangun saja sulit.

Aku hanya bisa mengecek berita online yang tidak terlalu menenangkan. Jumlah orang yang tertular COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Namun ada angka lain yang mengenyahkan pikiran negatif itu. Jumlah orang yang selesai melewati proses pemantauan, dan jumlah pasien yang dipulangkan dari rumah sakit dalam keadaan sehat terus bertambah. Hal ini memberiku sedikit harapan.

Pagi ini aku terengah-engah saat berjalan ke kamar mandi. Semakin sulit untuk bernafas. Rasanya seperti paru-paruku dicabut dan digantikan dengan sepasang kantong plastik. 

“Iya, Pak, namanya kita harus siap untuk skenario terburuk,” tiba-tiba suara petugas berpakaian putih di bandara waktu itu terngiang di kepalaku.

Aku bangun dari kasur dan meraih smartphone-ku. Selain data dan statistik, ada satu angka lain yang sering aku jumpai di internet dan media sosial. Angka itu pun ada pada kartu kuning yang dibagikan oleh petugas di bandara. Tanganku menggenggam telepon dan jariku menyentuh angka-angka di layar. Satu-satu-dua.

[Command Center Dinas Kesehatan DKI Jakarta 112]

 

Penelepon Posko

Monitor-monitor berbagai ukuran menghiasi dinding dan meja-meja dalam sebuah ruangan. Monitor yang paling besar terpajang dengan gagah di depan ruangan, menampilkan gambar peta dunia, sejumlah negara terlihat berwarna merah. Dalam ruangan itu, seorang operator berjilbab dan berseragam biru duduk di depan dua layar komputer. Seperangkat telepon berwarna hitam duduk di sebelah tangan kirinya. Sebuah kabel menjalar dari telepon itu, dan menyambung ke sebuah headset yang terpasang di luar jilbab sang operator dengan sebuah mikrofon di depan mulutnya.

Beberapa petugas lainnya menemani wanita itu, semuanya berseragam biru dan mengenakan headset di kepala. Masing-masing sibuk mengetik di komputer atau berbicara ke dalam mikrofon. Di atas setiap meja berdirilah sebuah pilar kecil yang berwarna seperti lampu lalu lintas: merah, kuning, dan hijau. Lampu-lampu menyala hijau, sedang beberapa lampu kuning menyala menandai meja-meja yang kosong. Sesekali, lampu merah akan berpendar ditemani dengan suara sirine. Seorang dokter pun akan secepatnya mendatangi meja berlampu merah.

Sudah lima jam sejak perempuan itu duduk di kursi, dan masih ada tiga jam lagi hingga sifnya selesai. Setelahnya, petugas-petugas lain akan datang dan menggantikan mereka selama delapan jam juga, lalu digantikan lagi dengan sif selanjutnya, hingga gilirannya lagi esok pagi. Total dua puluh empat jam sehari, posko itu bekerja. Ia merasa lelah, namun ia sadar bahwa tanpanya kesehatan warga akan berisiko. Rasa tanggung jawab ini terus mendorongnya untuk bertugas. Segala pikirannya lenyap saat ia mendengar telepon berdering. Secepat kilat, ia menjawab panggilan.

“Halo, Posko COVID-19 Dinas Kesehatan, ada yang bisa dibantu?”

“Ya, halo? Ini saya merasa nggak enak badan. Sepertinya perlu ke dokter, tapi saya nggak bisa keluar rumah,” jawab suara di telepon. Suara pria itu terdengar lemah, nafasnya serak dan pendek.

“Baik, Pak. Gejala apa saja yang Bapak alami?”

“Saya dari kemarin radang tenggorokan, batuk-batuk, pusing. Sekarang sesak napas.”

“Ada riwayat bepergian ke luar negeri dalam 14 hari terakhir, Pak?”

“Ada, Mbak. Saya baru pulang dari Tiongkok seminggu yang lalu. Sekarang saya dalam proses pemantauan dan karantina di rumah. Gimana nih, Mbak? Saya kena corona, ya?”

“Oke sebentar ya, Pak. Akan segera saya hubungkan ke salah satu dokter kami.”

Lampu merah pun menyala, diiringi dengan sirine yang menggema di dalam ruangan. Beberapa detik kemudian, seorang petugas kesehatan sudah berdiri di sebelah sang operator dan menggenggam telepon. Ia duduk dan mendengarkan. Sang dokter menanyakan beberapa pertanyaan medis dan rincian gejala yang dialami. Ia pun mengontak case manager yang sedang bertugas di puskesmas untuk mengkonfirmasi, sebab pengkategorian dan tindak lanjut untuk pasien jatuh di tangannya. Sesaat kemudian, sang dokter kembali ke meja operator, mengangguk, dan menuturkan tiga huruf, “PDP.”

Dengan gesit, sang operator pun menjelaskan ke dalam mikrofon, “Halo, Pak. Sudah kami konfirmasi, Bapak akan kami kategorikan sebagai PDP atau Pasien Dalam Pengawasan. Kami akan mengirim ambulans gawat darurat ke alamat Bapak untuk diantar ke rumah sakit rujukan. Lalu Bapak akan dites apakah benar positif COVID-19, dan kemungkinan besar Bapak akan dirawat dan dikarantina di ruang khusus dalam RS jika benar Bapak positif COVID-19. Sebentar lagi ambulans akan sampai di rumah Bapak, mohon ditunggu.”

“Oke, oke. Baik, Mbak. Saya tunggu. Terima kasih, Mbak,” jawab suara dari telepon dengan lemah.

 

Ambulans Penyelamat

Tak lama setelah aku menutup telepon, sinar merah memancar-mancar di jendela. Suara sirine mendekat lalu berhenti, diikuti dengan suara pintu mobil dibuka. Dokter yang kutelepon berkata bahwa aku akan dibawa ke rumah sakit rujukan, dites, dan kemungkinan besar dirawat. Sepertinya aku pernah baca di sebuah artikel. Kalau sebelumnya aku termasuk kategori ODP, berarti sebentar lagi aku akan menjadi kategori PDP, Pasien Dalam Pengawasan, kalau tidak salah.

Aku terbatuk-batuk dan mengintip keluar jendela. Dua sosok putih keluar dari mobil ambulans yang warnanya putih juga. Petugas berseragam putih yang kutemui di bandara dan kini tidak hanya seragamnya yang putih. Dari kepala hingga kaki, badan mereka diselimuti baju pelindung putih. Di belakang masker dan kacamata pelindung, wajah mereka sama sekali tak terlihat. Hanya mereka yang bisa membantuku sampai bisa sembuh kembali. 

Aku memandangi mereka berjalan mendekati rumah, langkah-langkah sunyi diiringi suara putaran roda tandu ambulans. Terengah-engah aku berjalan untuk membukakan pintu dan menyambut kedatangan para penyelamat. “Semuanya akan baik-baik saja,” tutur mereka sambil memasang masker oksigen pada wajahku. Aku pun berbaring di atas tandu yang mendorongku keluar rumah lalu ke dalam ambulans. Aku ingin mengucapkan terima kasih, namun yang keluar hanya batuk dan napas yang serak. Ambulans mulai berjalan meninggalkan rumahku. 

Kuhirup udara dingin dan mulai kubayangkan angka-angka. Orang-orang yang tertular penyakit ini, ODP, serta PDP. Tapi kubayangkan juga jumlah warga yang sembuh dan pulang dari rumah sakit. Mereka yang berhasil kembali hidup sehat seperti biasa. Aku yakin aku akan menjadi salah satu dari mereka, begitu juga dengan pasien-pasien lainnya. Untuk sekarang aku akan tertidur di belakang ambulans ini dan membiarkan para petugas kesehatan bekerja. Kuhirup udara dingin sekali lagi dan nyanyian sirine menemani perjalananku menuju rumah sakit.

[Informasi penting selama masa pandemi COVID-19]

 

 

-----

Penulis: Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

Menjaga Ruang Terbuka Hijau untuk Keseimbangan Lingkungan Perkotaan

Di tengah padatnya aktivitas manusia di wilayah perkotaan, termasuk di Jakarta, keberadaan makhluk hidup selain manusia penting untuk juga diperhatikan. Agar lingkungan tetap nyaman dan sehat, aman ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City