‘Flatten the Curve’: Apa Maksudnya dan Kenapa Perlu Dilakukan?

JSC | 5 months ago

Menjelang akhir bulan ketiga 2020, pola-pola penyebaran penyakit COVID-19 mulai terlihat jelas. Meskipun peningkatan jumlah kasus sudah pasti terjadi, yang mengkhawatirkan adalah fakta bahwa kenaikan ini cukup curam. Jumlah kasus baru minggu ini lebih banyak daripada minggu lalu, dan kemungkinan besar akan berlipat ganda lagi dalam pekan-pekan mendatang. Kenaikan eksponensial ini dapat dilihat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dua kasus pertama yang terdeteksi di Depok, Jawa Barat dilaporkan pada awal Maret, sedangkan pada pertengahan Maret kasus positif sudah mencapai 96. Pada minggu keempat Maret, jumlah yang positif melebihi 1000 kasus.

Angka yang terus menanjak ini dapat dilihat pada grafik di atas (credit: katadata.co.id)

 

Bila tindak pencegahan tidak diterapkan, grafik di atas akan semakin curam seiring jumlah kasus COVID-19 yang terus bertambah dan akan berakibat kekurangan fasilitas kesehatan. Untuk mencegah terjadinya hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan semua orang untuk mempraktikkan physical distancing atau jaga jarak secara fisik dengan tidak keluar rumah, menjauhi area publik, dan mengurangi kontak dekat dengan orang lain. Dengan melakukan physical distancing, diharapkan jumlah yang sebelumnya menanjak akan mulai menurun kembali, sehingga membuat grafik yang berbentuk kurva. Namun, jika kurva ini terlalu curam, ketika jumlah kasus mencapai puncak, dikhawatirkan fasilitas kesehatan tidak akan mencukupi, sehingga banyak pasien yang tidak terselamatkan. Dari sinilah munculnya istilah ‘flatten the curve’. Mungkin kata-kata ini sudah sering dilihat di internet atau media sosial. ‘Flatten the curve’ yang berarti meratakan kurva mengilustrasikan bahwa kita perlu berusaha untuk mengurangi kecuraman naiknya jumlah penularan. Dengan menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh serta menghindari keluar rumah, kita dapat membantu mengurangi penyebaran virus. Dengan berkurangnya penularan, grafik kurva akan semakin landai. Jadi, walaupun jumlah kasus akan tetap naik, kenaikan tersebut akan lebih pelan dan lebih mudah untuk ditangani oleh dokter, perawat, serta rumah sakit.

Simulasi Penekanan Laju Penyebaran COVID-19

Untuk membuktikan hal ini, situs berita The Washington Post membuat simulasi digital yang menunjukkan efek sejumlah tindak pencegahan terhadap penyebaran virus. Grafik berikut merupakan hasil simulasi tersebut dan menunjukkan kenaikan serta penurunan jumlah kasus ketika tidak ada tindak pencegahan. Warna biru melambangkan orang sehat, warna coklat melambangkan orang sakit, dan warna ungu melambangkan orang yang sudah sembuh. Perhatikan kecuraman kurvanya.

Dapat dilihat dari kurva berwarna coklat, puncak jumlah orang yang tertular virus cukup tinggi, sebelum pada akhirnya menurun kembali ketika pasien-pasien mulai sembuh. Ketika kurva mencapai puncak, fasilitas kesehatan belum tentu bisa menangani jumlah kasus sebanyak itu. Simulasi ini tidak menunjukkan jumlah orang yang meninggal, sehingga jika ingin lebih realistis warna ungu tidak hanya melambangkan jumlah pasien sembuh, tapi juga jumlah korban jiwa. Grafik berikutnya menunjukkan kurva penularan ketika forced quarantine diberlakukan, seperti situasi di Provinsi Hubei, Cina.

Jelas kurvanya lebih landai daripada grafik sebelumnya. Dengan ‘mengurung’ sebagian populasi di wilayah tertentu, lebih sedikit jumlah orang sehat yang tertular. Tetapi, menurut ahli kesehatan, metode ini terbukti kurang efektif dan memisahkan populasi sakit dari populasi sehat hampir mustahil. Banyak orang yang tetap harus bepergian maupun bekerja atau keperluan lainnya, sehingga pemberlakuan karantina paksa cukup bermasalah.

Hal yang Bisa Kita Lakukan: Physical Distancing

Untungnya ada metode pencegahan lain yang lebih efektif, yaitu physical distancing. Dengan menganjurkan warga untuk di rumah saja dan tidak mengunjungi area publik, risiko penularan akan menurun karena kontak dekat akan lebih jarang terjadi. Pastinya masih akan ada orang yang akan keluar rumah untuk bekerja atau untuk keperluan lain. Oleh karena itu, physical distancing perlu ditemani oleh pemberlakuan remote working atau membolehkan pegawai untuk bekerja dari rumah. Selain itu, lokasi-lokasi umum seperti area wisata atau restoran perlu ditutup, untuk menghilangkan alasan pergi keluar rumah dan mengurangi kerumunan orang. Tentunya banyak jenis pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan dari rumah, tapi jika sebagian dari kita menerapkan physical distancing, ini pun sangat membantu untuk meratakan kurva. Grafik berikut menunjukkan hasil simulasi di mana tujuh dari setiap delapan orang melakukan physical distancing dan tidak keluar dari rumah.

Lihat bagaimana sebagian besar grafiknya berwarna biru. Artinya, sebagian besar orang tetap sehat karena physical distancing. Bahkan kurva berwarna coklat sudah tidak terlihat seperti kurva dan bentuknya sangat rata. Ini menunjukkan bahwa penularan virus tetap rendah dan fasilitas kesehatan dapat menanganinya dengan baik. Itulah pentingnya physical distancing dan kenapa kita perlu meratakan kurva. 

 

Sekarang pun Pemprov DKI Jakarta bersama Kementerian Kesehatan RI menganjurkan semua warga Jakarta untuk tidak meninggalkan rumah serta mengurangi alasan keluar rumah dengan menutup sejumlah pusat keramaian seperti area-area wisata. Dengan ini diharapkan angka kasus COVID-19 di Indonesia yang kian meningkat akan mulai berkurang. Kita juga sebagai Smartcitizen perlu membantu flatten the curve dengan selalu menjaga kebersihan diri dan tinggal di rumah saja.

 

Artikel ini disadur dari Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and how to “flatten the curve” terbitan The Washington Post

 

 

-----

Penulis: Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

Cara Mudah Lapor Masalah Pakai Qlue

Sebagai ibu kota, Jakarta masih punya banyak tantangan untuk dihadapi. Mulai dari masalah sampah, parkir liar, fasilitas umum yang rusak, dan lain-lain. Terbayang repotnya petugas pemerintah kalau ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City