Penerapan Mesin Parkir Meter di Jalan Sabang

JSC | 5 years ago

Dikutip dari hasil penelitian Desvira Natasya yang berjudul “Penerapan Sistem Elektronik Parkir Meter dalam Upaya Manajemen Parkir yang Efisien di Kota Jakarta”, penerapan sistem parkir on street di Jakarta timbul akibat adanya permintaan masyarakat pada lokasi-lokasi tertentu seperti tempat perdagangan, perkantoran, pendidikan, pusat perbelanjaan dan tempat lain yang belum didukung ketersediaan parkir off street. Hal ini tentunya akan menimbulkan kemacetan jika kondisi jalan di depannya memiliki volume lalu lintas yang tinggi.

Dalam upaya menangani masalah parkir, Pemprov DKI Jakarta membentuk Unit Pengelola Perparkiran di bawah Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, melalui Pergub No. 110 tahun 2010. Studi masalah parkir di Jakarta yang dilakukan oleh Unit Pengelola Perparkiran bersama konsultan independen, menunjukkan bahwa parkir on street rawan terjadi kebocoran pendapatan akibat cara pembayaran langsung yang tidak transparan dan akuntabel.

Berangkat dari hal tersebut, Unit Pengelola Perparkiran memberlakukan perencanaan pengelolaan parkir dengan menggunakan basis teknologi informasi, yaitu alat parkir meter. Parkir meter telah lama digunakan oleh kota-kota besar dunia sebagai alat pengelolaan parkir on street. Saat ini, di Indonesia alat tersebut telah diterapkan salah satunya di Jakarta. Di Jakarta, alat parkir meter telah dipasang di Jalan Agus Salim-jalan Sabang, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

"Pertama, pemilik kendaraan harus memilih sendiri jenis kendaraannya, apakah mobil, motor, bus, atau truk," kata Direktur PT Mata Biru sebagai penyedia mesin parkir, Wahyu Ramadhan kepada Kompas.com di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, Kamis (25/9/2014) malam.

Wahyu mengatakan, isian parkir meter ini tergantung pada pengisian data dari para pengendara kendaraan bermotor. Pada layar halaman muka alat itu tertulis "Pilih jenis kendaraan di bawah untuk mendapatkan tarif yang benar". Tombol kuning yang berderet di bawah tulisan "motor", "mobil", "bus/truk", dapat ditekan sebagai pilihan.

Usai memilih jenis kendaraan, pengguna harus menekan tombol hijau bercentang hitam sebagai konfirmasi. Sesudahnya, lanjut Wahyu, pengendara diminta memasukkan nomor polisi kendaraan. "Itu sambil pilih durasi parkir berapa lama, yaitu per jam. Pemilik kendaraan harus bisa estimasi waktunya. Misal mau makan ya satu jam saja," tutur dia.

"Sebenarnya ini untuk persiapan masuk ke terminal parkir elektronik (TPE) yang dikenal sebagai parkir meter. Nanti semua jalan akan pasang seperti itu," kata Ahok kepada CNN Indonesia ketika ditemui di Balai Kota, Senin (3/8)

Pemberlakuan tarif baru ini dilakukan sejak tanggal 1 Agustus 2015. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 179 Tahun 2013 tentang tarif layanan parkir, pemberlakuan tarif parkir untuk mobil adalah Rp 5 ribu dan untuk sepeda motor Rp 2 ribu.  Tarif tersebut berlaku untuk satu kali parkir dan merupakan tarif flat, bukan progresif. 

Pengubahan sistem parkir ibu kota dan penerapan tarif baru dilakukan untuk menyeragamkan tarif parkir. Pasalnya, juru parkir tidak resmi terkadang mematok harga yang lebih tinggi.  Hingga kini, TPE baru berlaku di beberapa wilayah saja, antara lain Jalan Agus Salim, yaitu kawasan Sabang, Jalan Falatehan, dan Jalan Buolevard Kelapa Gading. Tarif parkir di TPE berlaku per jam. Untuk mobil sebesar Rp 5 ribu dan untuk sepeda motor Rp 2 ribu. (jsc-shg)

Artikel lainnya

Menggiatkan Transaksi Non Tunai dengan Pembayaran Menggunakan QR Code

Pembayaran digital tanpa menggunakan uang tunai makin diminati di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sebagai kota pintar yang menggalakkan terwujudnya cashless society, Jakarta tentu mendukung ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City