Penerapan Kebijakan Ganjil-Genap di Jakarta

JSC | 2 years ago

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan dan Transportasi terus berupaya mengurai kemacetan yang terjadi di Jakarta. Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan memberlakukan kebijakan 3 in 1 di beberapa ruas jalan protokol di Jakarta. Namun seiring dengan perkembangannya, kebijakan 3 in 1 sudah tidak relevan dengan kondisi di Ibukota. Berbagai dampak negatif dari kebijakan ini mulai terlihat, khususnya dalam aspek sosial dan ekonomi.

Untuk menyiasati hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta menerapkan kebijakan baru pengganti 3 in 1, yaitu pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan plat nomor ganjil-genap. Uji coba kebijakan ini sudah berjalan sejak tanggal 27 Juli sampai dengan 26 Agustus 2016, dan rencananya akan diberlakukan tanggal 30 Agustus 2016. Kebijakan diterapkan Senin sampai Jumat, pukul 07.00 – 10.00 dan pukul 16.00 – 20.00, dan tidak berlaku pada Sabtu-Minggu dan libur nasional.

Mekanisme kebijakan ini yaitu kendaraan dengan plat nomor belakang ganjil beroperasi di tanggal ganjil, dan nomor genap beroperasi di tanggal genap. Kebijakan tidak berlaku bagi sepeda motor, mobil aparatur pemerintahan, mobil angkutan umum, pemadam kebakaran, kendaraan dinas (termasuk plat CD) dan angkutan barang dengan dispensasi khusus. Titik lokasi penerapan kebijakan ganjil-genap adalah di Jalan MH Thamrin, Jenderal Sudirman, dan Gatot Subroto, yang merupakan ruas jalan yang dulunya menjadi lokasi penerapan 3 in 1.

Kebijakan ganjil-genap ini bukan hanya diterapkan di Jakarta, tetapi juga di beberapa Negara, salah satunya di Kolombia, lebih tepatnya di Bogota. Bogota mengimplementasikan pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap sejak tahun 2000. Program ini diberi nama Pico y Placa. Berbeda dengan kota-kota lain yang menerapkan kebijakan ini, Bogota memiliki sistem yang lebih kompleks. Sistem di Bogota mengacak digit terakhir plat nomor setiap tahunnya, sehingga hal ini menyulitkan warganya untuk mengakali sistem tersebut. Namun penerapan sistem ini diimbangi dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) atau busway yang saat itu sedang berkembang di Bogota.

Penerapan sistem ini di Bogota dinilai berhasil mengurai kemacetan di jalan, dan saat ini mulai dikembangkan di kota-kota selain Bogota. Keberhasilan penerapan sistem ganjil-genap juga dialami Beijing dengan hasil penurunan emisi kendaraan harian hingga 40 persen dan mengurangi jumlah mobil di jalan hingga 700 ribu.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kebijakan ganjil-genap ini? Lalu apa ekspektasi Anda mengenai kebijakan ganjil-genap yang mulai di uji coba di Jakarta? (jsc-shg)

Artikel lainnya

Siaga Musim Hujan dengan Aplikasi Pantau Banjir

Musim hujan tahun 2018-awal 2019 sudah tiba. Menurut data dari Dinas Sumber Daya Air, terdapat total 30 lokasi yang rawan banjir dan genangan di lima wilayah DKI Jakarta. Hal tersebut perlu diwaspadai ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City