Gatot Subroto, Pejuang Tiga Zaman

JSC | 2 years ago

Di sudut Kota Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah terdapat makam Jenderal Gatot Subroto. Namanya populer karena dipakai untuk nama jalan protokol di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Pengabdiannya dalam sebuah nama jalan mengartikan bahwa Gatot Subroto adalah seseorang yang patut dikenang jasanya. Sosok yang pemberani, tegas, dan pantang akan kesewenang-wenangan sudah terlihat sejak masih kecil.

Ketika masih bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Gatot berkelahi dengan seorang anak Belanda sehingga dikeluarkan dari sekolah. Di saat tidak ada seorang anak pun berani menantang anak-anak Belanda karena derajatnya dianggap lebih tinggi dari kaum pribumi, Gatot tanpa gentar sedikit pun maju menantang.

Dikeluarkan dari sekolah ELS, Gatot kemudian masuk ke Holands Inlandse School (HIS). Dari sana, dia akhirnya menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun setamat HIS, Gatot memilih tidak meneruskan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi, tetapi bekerja sebagai pegawai. Pilihannya menjadi pegawai ternyata tidak cocok dengan jiwanya. Gatot kemudian keluar dari pekerjaannya dan masuk sekolah militer di Magelang pada tahun 1923.

Gatot hidup di tiga zaman berbeda. Dia pernah menjadi Tentara Hindia Belanda (KNIL), anggota Pembela Tanah Air (PETA) di masa pendudukan Jepang, dan bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada masa setelah kemerdekaan Indonesia.

Karirnya di bidang militer tidak bisa dianggap biasa saja. Dengan pangkat Sersan Kelas II KNIL, Gatot ditugaskan di Padang Panjang, Sumatera Barat. Lima tahun kemudian dia dikirim ke Sukabumi, Jawa Barat untuk mengikuti pendidikan marsose (kesatuan militer dengan tugas-tugas khusus dan menuntut keberanian lebih dari kesatuan lain).

Seorang anggota KNIL, terlebih lagi pasukan marsose, dikenakan peraturan-peraturan yang cukup keras. Mereka dilarang bergaul dengan rakyat. Hal itu sengaja diterapkan pemerintah kolonial agar mereka tidak berpihak kepada bangsanya. Tapi Gatot tidak sepenuhnya menaati.

Dengan caranya sendiri, Gatot berusaha membantu keluarga orang-orang yang terpaksa ditangkap dan dihukum. Baginya pelaksanaan tugas dan perasaan kemanusiaan adalah dua hal berbeda. Gatot kemudian menyisihkan sebagian gajinya agar digunakan sebagai modal usaha bagi rakyat  kecil. Hal tersebut menjadikan Gatot dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat, meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda maupun Jepang.

Setelah kemerdekaan, pemerintah memerintahkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada  1945-1950, Gatot dipercaya mengemban jabatan penting, yakni menjadi Panglima Korps Polisi Militer, Panglima Divisi II, dan juga menjabat sebagai Gubernur Militer dari daerah Surakarta. Keberhasilannya kemudian membuat Presiden Sukarno menunjuknya sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T & T)  IV Diponegoro.

Puncak karir Gatot Subroto yakni ketika diangkat menjadi Wakil Kepala Staff Angkatan Darat (Wakasad) pada tahun 1956. Dia juga dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar  terhadap pembinaan perwira muda.  Menurutnya, pembinaan perwira dapat berjalan maksimal jika akademi militer setiap angkatan menyatu yakni Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Berkat gagasannya, akhirnya terbentuklah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1965.

Gatot Subroto meninggal di usia 55 tahun pada tanggal  11 Juni 1962.  Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Letnan Jenderal. Atas jasa-jasanya yang begitu besar, Jenderal Gatot Subroto dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikuatkan dengan SK Presiden RI No.222 Tahun 1962, tgl 18 Juni 1962. (jsc-sy)

 

--- dari berbagai sumber –

Artikel lainnya

Mengajukan Izin Penelitian Jadi Lebih Mudah dengan Tanda Tangan Elektronik

Suatu kota pintar perlu terus berkembang. Baik untuk penerapan teknologi sehingga makin memudahkan warganya, juga perkembangan dalam hal lain seperti penyediaan fasilitas publik dan penanganan masalah ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City