Tanya Jawab Bersama dr. Verry: Yang Harus Dilakukan Jika Kerabatmu Positif Covid-19

JSC | 4 months ago

Jumlah kasus positif Covid-19 di Jakarta masih terus bertambah setiap hari. Karena itu rasa khawatir terhadap kesehatan pribadi serta keluarga tercinta tak pernah luput dari pikiran. Muncullah beragam pertanyaan atas berbagai kontingensi: Hal apa yang perlu dilakukan jika ada warga RT yang positif? Apa langkah selanjutnya untuk anggota rumah tangga yang tertular Covid-19? Bagaimana kalau diri sendiri yang positif? Pertanyaan-pertanyaan Smartcitizen semacam ini sering dijumpai dalam komentar-komentar media sosial. Untungnya, Jakarta Smart City mendapat kesempatan untuk bertanya jawab langsung dengan dr. Verry Adrian, Kepala Informasi dan Hubungan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Ayo kita simak wawancara penting seputar Covid-19 tersebut!

Apa saja gejala-gejala awal yang perlu diperhatikan agar bisa melakukan pencegahan dari waktu dini?

dr. Verry: “Ada berbagai macam gejala Covid-19, tapi secara umum gejala awal dapat berupa batuk atau demam. Jika salah satu anggota keluarga kita ada yang mengalami hal tersebut, khususnya bila juga ada riwayat kontak langsung dengan kasus probable atau confirmed, disarankan agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebisa mungkin dilakukan pemisahan kamar tidur dan alat makan serta anggota keluarga yang sakit wajib menggunakan masker dalam rumah.”

Apa yang harus dilakukan jika dalam 14 hari terakhir berkontak langsung dengan pasien positif Covid-19?

dr. Verry: “Jika seseorang dalam 14 hari terakhir melakukan kontak langsung dengan pasien positif Covid-19, maka langkah-langkah yang perlu dilakukan pertama-tama adalah jangan panik, namun tetap waspada. Dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, agar dokter dapat melakukan pemeriksaan dengan seksama dan bila perlu dokter akan meminta dilakukan pengambilan sampel swab untuk dilakukan tes PCR. Sesuai pedoman, yang bersangkutan juga akan diminta untuk melaksanakan isolasi mandiri selama minimal 10 hari. Warga juga dapat berkonsultasi dengan Tim Tanggap Covid-19 Dinas Kesehatan di nomor 081112112112 baik via telepon atau pesan Whatsapp.”

Apa yang harus dilakukan jika dalam 14 hari terakhir berada di satu ruangan atau gedung dengan pasien positif?

dr. Verry: “Secara prinsip tidak jauh berbeda ketika kita kontak langsung dengan pasien positif Covid-19. Tetap waspada, jangan panik. Berada dalam satu ruangan atau gedung belum tentu menjadikan yang bersangkutan berstatus sebagai kontak erat.

Definisi kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi Covid-19. Riwayat kontak yang dimaksud di antaranya kontak tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih, sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain) dan situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko.

Dalam kondisi in, disarankan agar yang bersangkutan melapor kepada pimpinan kantor atau pengelola gedung, untuk kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas Kecamatan setempat. Petugas Kesehatan akan memberikan arahan langkah-langkah terbaik sesuai dengan situasi dan kondisinya. Bila perlu, akan dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium, dan mereka yang memiliki riwayat kontak akan diminta untuk menjalani isolasi mandiri. Masyarakat dapat juga menghubungi Tim Tanggap Covid-19 Dinas Kesehatan, untuk melapor dan mendapatkan arahan lebih lanjut.”

Apa yang harus dilakukan jika salah seorang anggota keluarga yang tinggal di rumah yang sama positif Covid-19?

dr. Verry: “Jika kita memiliki anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien positif Covid-19, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melapor pada Puskesmas Kecamatan setempat. Tim Kesehatan akan melakukan pemeriksaan dan penilaian, apakah pasien Covid-19 dapat melaksanakan isolasi mandiri di rumah tersebut, atau harus dirujuk ke rumah sakit atau lokasi isolasi mandiri yang telah disediakan.

Bila isolasi mandiri dapat dilaksanakan di rumah, maka Puskesmas akan melakukan pemantauan kondisi harian dan pemeriksaan berkala kepada pasien Covid-19. Pasien juga diwajibkan untuk selalu memakai masker. Isolasi mandiri selama 10-14 hari dan dilakukan pemisahan kamar tidur dan alat makan.”

Berapa lama karantina perlu dilakukan? Dan apakah masih perlu dilanjutkan setelah mendapat hasil negatif?

dr. Verry: “Dalam pedoman Kementerian Kesehatan yang terbaru, karantina wajib dilakukan selama 10-14 hari setelah keluar hasil positif. Jika hasil pemeriksaan berikutnya masih positif, tidak perlu melakukan karantina. Karena berdasarkan hasil penelitian terbaru, virus Covid-19 yang berusia lebih dari 10 hari tidak menular kepada orang lain.”

Jika seorang pasien sudah dirawat dan dinyatakan negatif, apakah masih mungkin tertular kembali?

dr. Verry: “Sampai saat ini virus SARS-CoV2 yang menyebabkan Covid-19 memiliki beberapa tipe strain. Oleh karena itu, jika seorang pasien sudah pernah dirawat dan dinyatakan negatif, masih ada kemungkinan pasien tersebut tertular kembali.”

Sebagai pasien positif, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran ke anggota keluarga lain di rumah?

dr. Verry: “Kalau kondisinya ternyata kita sebagai pasien positif, maka kita harus melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10-14 hari, dengan terus memakai masker dalam rumah, berkoordinasi dengan Puskesmas Kecamatan agar terus dipantau kondisinya oleh Tim Kesehatan Puskesmas. Pasien disarankan untuk meng-install aplikasi Monitoring Isolasi Mandiri yang telah dikembangkan oleh Dinas Kesehatan, agar pasien dapat dengan mudah menginformasikan kondisi hariannya dan dapat berkomunikasi secara langsung melalui fitur chat dengan petugas puskesmas. Aplikasi ini juga memberikan banyak informasi terkait Covid-19.

Pasien harus membatasi kontak dengan anggota keluarga lain dalam rumah, seperti tidur di kamar terpisah dan menggunakan alat makan yang terpisah. Jika mengalami gejala yang bertambah berat, segera hubungi petugas kesehatan melalui aplikasi atau Posko Tanggap Covid-19 Dinas Kesehatan untuk dirujuk ke rumah sakit.”

Sebagai pasien positif, apa yang harus dilakukan hingga bisa mendapat akses rawat di fasilitas kesehatan atau tempat isolasi mandiri seperti Wisma Atlet?

dr. Verry: “Syarat kondisi yang dapat diterima untuk melakukan isolasi di Wisma Atlet adalah pasien tanpa gejala atau gejala ringan, tidak hamil, pasien berusia di bawah 60 tahun, tidak memiliki penyakit bawaan atau komorbid, dan mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Jika tidak memenuhi salah satu kriteria di atas, pasien disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah atau dirawat di rumah sakit.”

Apa yang bisa dilakukan jika ada tetangga yang merupakan pasien positif?

dr. Verry: “Jika kebetulan bertetangga dengan pasien positif, maka kita memiliki kewajiban untuk membantu tetangga kita. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah berkoordinasi dengan perangkat RT/RW atau tokoh agama/masyarakat setempat, agar yang bersangkutan tidak merasa dikucilkan dan untuk tetangga lainnya tidak memiliki stigma negatif terhadap pasien yang positif. Lalu berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 setempat, Tim Kesehatan Puskesmas dapat melakukan kunjungan rumah, untuk memastikan apakah tetangga kita bisa menjalani isolasi mandiri di rumahnya, atau harus dirujuk ke rumah sakit atau lokasi isolasi mandiri yang telah disiapkan oleh pemerintah.

Bila tetangga kita dapat menjalani isolasi mandiri di rumah, tetangga sekitar dapat memberikan dukungan moral dan menyediakan kebutuhan pokok, agar kebutuhan dasar tetangga kita dapat terpenuhi, tanpa dia perlu keluar dari tempat isolasi. Hal ini dapat membantu menurunkan risiko penyebaran virus. Selain itu, kita juga dapat menggiatkan sosialisasi pada warga sekitar terkait bahaya Covid-19 dan cara-cara pencegahannya.”

Bagaimana pelibatan masyarakat terhadap OTG atau sakit ringan, khususnya dengan adanya stigma di masyarakat?

dr. Verry: “Dinas Kesehatan terus melakukan edukasi terhadap masyarakat agar tidak melakukan pemojokan terhadap pasien positif COVID-19. Dengan memberi penjelasan bahwa selama pasien positif Covid-19 dan para tetangga mengikuti protokol kesehatan secara tepat, maka risiko penularan akan sangat kecil. Dengan diberi penjelasan serta edukasi kepada masyarakat, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang melakukan penolakan terhadap tetangganya yang positif Covid-19.”

 

 

------

Nadhif Seto Sanubari

Artikel lainnya

JSC Talks Vol. 2: Fitur dan Data di corona.jakarta.go.id

Wadah diskusi dan pengenalan konsep kota cerdas Jakarta kembali lagi minggu ini, pada episode kedua JSC Talks yang tayang secara langsung di YouTube serta aplikasi Zoom. Kali ini, topik pembicaraannya ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City