Biopori: Solusi untuk Mencegah Banjir dan Kekeringan

JSC | 7 months ago

Salah satu masalah di Jakarta yang mungkin tidak disadari banyak orang adalah air tanah. Semakin hari ketersediaan air tanah semakin menipis, disebabkan oleh banyaknya penduduk yang mengonsumsi air tanah tersebut namun air yang masuk kembali ke tanah hanya sedikit karena banyaknya permukaan tanah yang diaspal serta semakin berkurangnya jumlah tanaman yang membantu mengaliri air masuk ke dalam tanah. Apabila dibiarkan, bukan hanya kekeringan yang dapat melanda Jakarta namun juga penurunan permukaan tanah dan banjir.

Namun sebagai Smartcitizens kita dapat membantu memberikan solusi dari permasalahan tersebut yakni dengan Biopori. Menurut ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network) dan Mercy Corps Indonesia, lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke tanah. Ketika hujan maka air hujan akan melalui lubang tersebut untuk diteruskan ke dalam tanah.

 

Bagaimana Cara Membuat Biopori?

Membuat lubang resapan biopori dapat dilakukan sendiri di lingkungan rumah. Berikut langkah-langkahnya:

 

1. Persiapan

Untuk membuat lubang biopori kamu harus menyiapkan beberapa peralatan, di antaranya alat bor atau sekop untuk membuat lubang, pipa yang panjang dan diameternya disesuaikan dengan lubang yang akan dibuat, penutup lubang biopori yang ukurannya sama dengan diameter pipa, semen dan pasir jika diperlukan, serta sampah organik seperti tumbuhan, ranting, atau dedaunan (bukan sampah makanan).

Selain itu, carilah juga tempat yang kira-kira sesuai untuk dibuat lubang biopori. Biopori bisa dibuat di sekitar pekarangan rumah, kantor, atau di lahan dekat rumah sehingga mudah untuk merawatnya. Sebaiknya tanah yang digunakan tidak lempung dan cadas agar air meresap dengan baik. Akan lebih baik lagi jika terdapat pohon di dekat lubang.

 

2. Buat Lubang Biopori

Mulailah membuat lubang vertikal berdiameter 10-25 cm dengan kedalaman 1 meter. Kemudian masukkan pipa ke lubang tersebut. Taruhlah sampah organik ke dalam pipa, kemudian tutuplah dengan penutup lubang di atas pipa. Kamu dapat memperkuat tepi lubang di permukaan dengan adukan semen dan pasir.

Gambar: alamendah.org

3. Pemeliharaan

Biopori harus dirawat secara rutin. Sampah organik yang ditaruh di dalam lubang biopori akan terurai selama 2-3 bulan, lalu sampah organik tersebut harus diambil lagi dan diganti dengan yang baru. Sampah organik yang telah terurai dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Selain itu pastikan juga lubang biopori di permukaan tetap terbuka sehingga air selalu bisa masuk ke sana.

 

Beragam manfaat biopori adalah dapat mengurangi genangan dan potensi banjir, memasok persediaan air tanah, meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan pupuk kompos, serta mengurangi jumlah sampah organik. Berbagai kalangan sudah mulai menerapkan program ramah lingkungan tersebut. Dilansir dari beritajakarta.id, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan bahkan menargetkan akan membuat satu juta lubang resapan biopori di Jakarta Selatan, dan mengimbau warga untuk berpartisipasi aktif dalam mencapai target tersebut.

Sekarang giliran kamu sebagai Smartcitizens untuk turut membuat biopori di lingkunganmu agar Jakarta menjadi kota yang semakin ramah lingkungan.

Artikel lainnya

BPMPKB Sosialisasikan Aplikasi Keluarga Berencana

Untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi Keluarga Berencana (KB), Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) DKI Jakarta melakukan sosialisasi aplikasi ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City