Apa Saja Fasilitas Difabel di Wisma Atlet Asian Para Games?

JSC | 1 month ago

Wisma Atlet tentunya sudah tidak asing lagi di telinga. Betul, tempat yang sering disorot media ini adalah kawasan tempat tinggal para atlet selama Asian Games 2018 berlangsung. Setelah perhelatan olahraga tersebut selesai, Wisma Atlet kembali digunakan untuk Asian Para Games dan disulap menjadi kawasan yang ramah untuk penyandang disabilitas. Bahkan sebagian orang menyebutnya dengan nama baru, yakni Para Village.

Apa saja yang spesial dari Para Village? Mari intip fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya, seperti dilansir dari megapolitan.kompas.com.

 

1000 Kamar Direnovasi

INAPGOC (Indonesia Asian Para Games 2018 Official Committee) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan renovasi yang tidak tanggung-tanggung, yakni 1000 kamar yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas. Renovasi itu meliputi perluasan kamar supaya orang dengan kursi roda bisa lebih leluasa, penambahan hand railing, serta toilet ramah difabel.

 

Ramp dan Guding Block di dalam Wisma Atlet. Foto: Megapolitan Kompas

Guiding Block Kuning dan Silver

Fasilitas yang satu ini wajib ada untuk tuna netra. Guiding block adalah tekstur di ubin atau lantai untuk memandu penyandang disabilitas tersebut. Tekstur garis lurus berarti memandu tuna netra untuk terus maju dengan tongkat pemandu, sementara tekstur bulat-bulat menandakan mereka harus berhenti. Di jalan pedestrian sekitar gedung Para Village tersedia guiding block berwarna kuning seperti halnya banyak kita temukan di trotoar-trotoar Jakarta. Sementara di dalam gedung guiding block itu berwarna silver sehingga menambah estetika interior gedung yang didominasi oleh warna monokrom.

 

Ramp

Ramp yang dikhususkan bagi pengguna kursi roda ini juga tentunya tersedia di Para Village. Ramp adalah bidang miring supaya difabel berkursi roda bisa menaiki tempat yang lebih tinggi. Sudah banyak gedung-gedung dan fasilitas umum ibukota yang menggunakan ramp, lho. Makanya jangan heran apabila saat akan menaiki tangga di sampingnya terdapat permukaan landai yang tak lain dan tak bukan adalah ramp. Di Para Village, ramp dipasang agar kursi roda dapat menaiki lift.

 

Penambahan Lift

Akan repot kalau harus menaiki ramp untuk naik ke setiap lantai, apalagi jika kamar para atlet berada di lantai yang tinggi. Oleh karena itu pemanfaatan lift dimaksimalkan. Ada total enam lift yang ditambahkan di lima gedung tempat atlet Asian Para Games menginap. Lift yang ditambahkan memiliki kapasitas lebih besar dari lift pada umumnya, bahkan bisa menampung hingga tiga kursi roda sekaligus. Namun lift-lift tersebut hanya dapat naik ke lantai 10. Selain itu terdapat tombol lift yang memiliki aksara braille untuk tuna netra.

 

foto: suara.com

Bagaimana pendapatmu dengan fasilitas-fasilitas tersebut, Smartcitizens? Semoga dengan berbagai fasilitas tersebut Asian Para Games 2018 akan berlangsung sukses, ya. Dan sebagai smart people, mari kita suarakan hak-hak para penyandang disabilitas dan jaga fasilitas bersama agar Jakarta jadi kota pintar yang ramah difabel.

 

Artikel lainnya

Underpass Matraman Menjadi Underpass Bercabang Pertama di Indonesia

Uji coba underpass Matraman diberlakukan pada Selasa (10/4). Berbeda dengan underpass lain, terowongan bawah tanah tersebut menjadi underpass pertama yang bercabang di Jakarta bahkan Indonesia. Dari ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City