Mewujudkan Smart Environment dengan Turut Mengelola Air Bersih

JSC | 1 year ago

Hari ini, 22 Maret 2018, merupakan hari air sedunia. Sayangnya, di Jakarta, air merupakan salah satu permasalahan yang krusial. Banyak yang mengira persediaan air di Jakarta melimpah sehingga masih banyak orang yang menggunakan air secara berlebihan. Padahal, jumlah air tanah di ibu kota mengalami banyak penurunan yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah 7,5 sampai 10 sentimeter per tahun. Sedangkan air hujan yang turun tidak terserap baik ke tanah karena banyaknya permukaan tanah yang diaspal serta air yang mengalir ke sungai tidak layak untuk dikonsumsi. Jika keadaan ini berlanjut, bukan tidak mungkin Jakarta akan mengalami krisis air.

Oleh karena itu, pengelolaan air yang baik dimulai dari rumah-rumah harus dilakukan demi tercapainya indikator smart environment dan masyarakat Jakarta yang mendapatkan konsumsi air yang layak. Berikut beberapa hal kecil yang dapat dilakukan dan dimulai dari diri sendiri.

 

Kurangi atau Bahkan Hentikan Penggunaan Air Tanah Secara Ilegal

Salah satu penyebab menurunnya jumlah air tanah di ibu kota adalah pengambilan air tanah yang tidak sebanding dengan air masuk untuk mengembalikan cadangan air tanah tersebut. Banyak pengambilan air tanah yang tidak tercatat sehingga junlahnya tidak terkontrol. Wakil Gubernur Jakarta, Sandiaga Uno, turut mengajak warga Jakarta untuk berhenti mengambil air dari yang bersumber dari tanah. "Kita mau seluruh masyarakat mengingatkan ke tetangga-tetangga akan gerakan setop menggunakan air tanah," ujarnya, Selasa (13/3).

Sebagai solusi, beliau mendukung Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI PAM Jaya untuk memperbanyak jaringan pipa di Jakarta sehingga masyarakat dapat beralih untuk mengonsumsi air PAM.

 

Hemat Gunakan Air

Baik untuk mandi, berwudhu, mencuci mobil, atau menyiram kloset, air harus digunakan sehemat mungkin. Penggunaan air yang boros dapat mengurangi stok air bersih, yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan. Sebagai contoh, masih banyak keran di gedung-gedung Jakarta yang mengeluarkan air sampai 23 liter/menit. Oleh karena itu, jangan buka keran terlalu lama jika mungkin apalagi sampai lupa menutupnya, ya.

 

Pakai Peralatan Elektronik yang Ramah Lingkungan

Peralatan elektronik yang kita pakai tanpa sadar mungkin menggunakan air yang terlalu banyak. Salah satu contohnya adalah mesin cuci. Mesin cuci dengan bukaan atas dapat menghabiskan sekitar 150-170 liter sekali beroperasi. Apabila Anda berniat mencari mesin cuci baru, belilah mesin cuci dengan penggunaan air yang lebih hemat, misalnya mesin cuci efisiensi tinggi, yang biasanya memiliki bukaan depan, yang hanya menghabiskan 60 hingga 115 liter air.

 

Kurangi Pembelian Barang-barang Secara Boros

Tahukah kamu? Barang-barang yang kita beli ternyata juga menghabiskan air dalam produksinya. Misalnya, pembuatan 500 lembar kertas membutuhkan sekitar 5000 liter air. Sehelai kaus membutuhkan sekitar 2700 liter air. Maka dengan tidak boros menggunakan barang sehari-hari kita juga dapat menghemat air.

 

Siram Tanaman dan Tanah Terbuka

Jika rumah Anda memiliki halaman atau dekat dengan tanah terbuka yang tidak diaspal, Anda dapat menyiramnya terutama pada musim kemarau ketika hujan jarang turun. Hal ini dimaksudkan agar ikut membantu mengembalikan persediaan air tanah sekaligus menyuburkan tanaman. Anda bisa menggunakan air bekas mencuci agar lebih hemat. Dan jangan lupa untuk menyiramnya pagi-pagi, karena menyiram tanah pada siang hari yang terik dapat menguapkan air tersebut.

 

Ternyata kita juga bisa turut berkontribusi untuk membantu menyelesaikan permasalahan ibu kota dan mewujudkan smart environment dengan pengelolaan air yang baik. Mari bijak gunakan air!

Artikel lainnya

4 Fakta tentang Jak Lingko, Wajah Baru OK OTrip

Senin, 8 Oktober 2018, OK OTRip resmi berganti nama menjadi Jak Lingko. Peluncuran tersebut diresmikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta. Kira-kira apa saja ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City