Sistem Dilatasi pada Retakan Struktur Jalan Layang Tendean-Ciledug

JSC | 5 months ago

Baru-baru ini beredar foto yang memperlihatkan retakan di bagian bawah struktur Jalan Layang Tendean-Ciledug. Tak ayal, berita tentang jalan yang diperuntukkan khusus bagi jalur bus Transjakarta tersebut menimbulkan kekhawatiran. Meski demikian, Dinas Bina Marga DKI Jakarta memastikan bahwa celah yang terlihat di bawah struktur Jalan Layang Transjakarta Koridor XIII Tendean-Ciledug tidak membahayakan.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial itu keliru. Garis yang dianggap sebagai retakan, merupakan tapi celah sambungan dilatasi. Celah tersebut harus ada dan kedua struktur bangunan jembatan tersebut memang tidak menyatu.

"Dari awal sudah seperti itu. Ada celah. Intinya kontruksi Jalan Layang Tendean-Ciledug sangat aman untuk dioperasikan. Jangan khawatir naik Transjakarta dan melintas di bawah jalan layang itu," ujarnya saat dihubungi oleh tim Berita Jakarta, Sabtu (10/2).

Sistem dilatasi bangunan sejak lama telah diterapkan untuk menghindari kerusakan akibat gempa atau pergeseran tanah. Sistem ini juga kerap digunakan untuk membagi pusat massa bangunan agar lebih stabil.

Jalan layang Tendean-Ciledug diresmikan pada 16 Agustus 2017, setelah sebelumnya dilakukan proses uji coba. Pengerjaan jalan layang khusus bus Transjakarta ini dimulai pada 10 Maret 2015. Selama lebih dari dua tahun pengerjaannya, Dinas Bina Marga DKI Jakarta kerap menginformasikan perkembangan pembangunan jalan layang Tendean-Ciledug melalui akun media sosial twitter.com/jalanlayangcmt.

Artikel lainnya

Inovasi Transportasi Umum Jakarta, Rute Alternatif Transjakarta Hingga Aplikasi Program OK-OTRIP

Demi menambah kenyamanan pengguna angkutan publik, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memberlakukan rute alternatif. Rute-rute baru merupakan inovasi untuk mengatasi kemacetan akibat pembangunan ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City