Mengolah Limbah Rumah Tangga melalui Bank Sampah

JSC | 1 month ago

Populasi warga Jakarta yang besar, menyebabkan Jakarta menjadi salah satu kota penghasil sampah terbesar di Indonesia. Sampah yang cenderung bertambah dari tahun ke tahun ini, menuntut kita untuk ikut mengelola sampah agar tidak membebani lingkungan. Salah satunya adalah dengan bank sampah. Program ini dilakukan berdasarkan Instruksi Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 157 Tahun 2016 tentang Pembinaan dan Pengembangan Bank Sampah. Menurut instruksi gubernur tersebut, bank sampah harus ada di tiap RW dan sekolah.

Fasilitas pengelolaan dianggap penting untuk mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir. Apalagi, beberapa jenis sampah seperti sampah plastik, kertas, dan logam,memiliki nilai ekonomis. Material-material tersebut masih bisa dimanfaatkan dengan melakukan proses daur ulang.

Program bank sampah di DKI Jakarta ini sudah berjalan dari beberapa tahun lalu. Hingga penghujung tahun 2017,terdapat 674 lokasi bank sampah yang tersebar di seluruh Jakarta. Sebanyak 80 bank sampah terdapat di Jakarta Selatan, 146 di Jakarta Pusat, 234 lokasi di Jakarta Barat, 83 di Jakarta Utara, dan 131 lokasi di Jakarta Timur. Dari seluruh lokasi bank sampat tersebut, 8.683.332 kg atau lebih dari 8.000 ton sampah berhasil dikelola selama 2017. Omset bank sampah yang dikelola Pemprov DKI Jakarta selama setahun lalu cukup tinggi, mencapai Rp6.974.361.933.

Warga juga bisa menghasilkan uang dengan berpartisipasi di bank sampah. Caranya, bisa dimulai dengan mengumpulkan dan memilih sampah yang sesuai jenisnya. Misalnya, kertas, logam, kaca, dan plastik.  Setelah mencapai berat minimal 1 kg, warga bisa menyetorkannya ke bank sampah terdekat. Lokasi bank sampah di masing-masing wilayah administrasi bisa dicek melalui bank data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dengan alamat situs web https://lingkunganhidup.jakarta.go.id/bank-data.

Sampah yang disetorkan ke bank sampah akan ditimbang oleh petugas, kemudian dicatat sesuai berat dan jenisnya. Nilai sampah yang disetorkan lalu dicatat di buku tabungan. Penyetor sampah bisa menarik uang tunai sesuai dengan saldo yang tercatat. Sampah tak selalu merugikan, bukan? Dengan sedikit usaha, kita bisa menjadikannya sumber pundi-pundi rupiah. Selain menyetorkan ke bank sampah, warga juga bisa melakukan pengelolaan sampah mandiri. Misalnya, dengan mengolahnya menjadi kompos atau melakukan konsep reduce, reuse, recycle (3R) pada sampah yang dihasilkan sehari-hari.

Artikel lainnya

JSC Lounge: Ruang Kreatif Menuju Smart City

Di penghujung tahun 2015, Unit Pengelola Jakarta Smart City memiliki Jakarta Smart City Lounge (JSC Lounge). JSC Lounge merupakan ruang kreatif untuk mendukung implementasi JSC. Lounge merupakan kata ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City