Kalau 100 Orang Bepergian, Bagaimana Potensi Polusi Udara yang Dihasilkan?

JSC | 1 year ago

Jumlah kendaraan bermotor di Ibu Kota terus membengkak. Bahkan, jumlah motor yang terdaftar di wilayah Jakarta lebih banyak daripada jumlah penduduknya. Kondisi ini tidak hanya menambah angka kemacetan, namun juga membawa dampak lain yang mungkin tidak terlalu kita sadari.

Emisi dari proses pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor menghasilkan banyak senyawa berbahaya yang mengancam kesehatan tubuh. Beberapa diantaranya adalah nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), karbon monoksida (CO) dan particulate  matter (PM) yang merupakan partikel-partikel polutan di udara yang kita hirup.

Emisi Kendaraan Bermotor di Jakarta

Tabel di atas menunjukkan perbandingan kandungan partikel, nitrogen oksida, dan karbon monoksida yang dihasilkan oleh masing-masing jenis kendaraan bermotor. Jika ada 100 orang yang masing-masing bepergian menggunakan motor, maka akan ada 24 g/km partikel polutan yang dihasilkan, 29 g/km NOX, dan 1400 g/km gas CO yang mencemari lingkungan. Jika 100 orang tersebut menggunakan dua bus Transjakarta yang berbahan bakar gas alam, maka tidak ada partikel polutan yang dilepaskan ke udara, hanya 2,4 g/km NOX, dan 9,6 g/km gas CO yang dihasilkan.

Dampak Emisi Kendaraan Bermotor

Perbedaan angka yang cukup signifikan tersebut akan berdampak banyak untuk manusia dan lingkungan. Karena particulate  matter atau partikel polutan di udara dalam wujud padat yang berdiameter kurang dari 10 µm, diyakini sebagai  pemicu  timbulnya  infeksi  saluran pernafasan. Rambut di dalam hidung hanya dapat menyaring debu yang berukuran lebih besar dari 10 µm, sehingga partikel yang lebih kecil dari ukuran tersebut akan masuk ke dalam saluran  pernafasan, bahkan bisa mengendap di dalam paru-paru.

Selain itu, gas polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor juga mengandung nitrogen oksida (NOx). Salah satu bentuk nitrogen oksida yang sangat berbahaya bagi manusia adalah NO2. Senyawa berbentuk gas ini bersifat racun bagi  manusia  dan  menimbulkan gangguan sistem pernapasan. NO2 bisa masuk ke paru-paru, merusak jaringan mukosa yang melindungi organ tersebut, lalu menyebabkan kanker atau kerusakan paru-paru. Jika 100 ppm NO2 terhirup oleh manusia, maka dapat menimbulkan kematian mendadak.

Gas lain yang tak kalah berbahaya adalah karbon monoksida (CO). Keracunan gas ini ditandai  dengan gejala pusing, mual, gerak  tubuh terganggu, serangan  jantung, hingga  kematian.  Hal tersebut disebabkan karena CO mampu berikatan dengan  haemoglobin atau pigmen  sel  darah  merah  yang  mengangkut oksigen. Sehingga, sel darah merah kita tidak mampu mengangkut oksigen yang dibutuhkan tubuh. CO juga bisa  mempengaruhi janin karena menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ibu  hamil yang berakibat pada menurunnya  tekanan  oksigen  di dalam plasenta dan juga pada janin. Kondisi ini dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.

Untuk mengurangi polusi udara, setiap orang yang beraktivitas di Jakarta memang harus sadar diri. Cermat menghitung untung ruginya dari alat transportasi yang dipilih. Sementara itu, pemerintah juga mengambil peran sebagai penentu kebijakan. Menetapkan aturan-aturan penggunaan kendaraan bermotor di wilayah kewenangannya untuk menjadikan Jakarta kota pintar, dengan memperhatikan ketercapaian indikator smart transportation dan smart environment.

Artikel lainnya

Pengurusan Izin Semakin Mudah dengan Layanan Mobil AJIB

Layanan Antar Jemput Izin Bermotor (AJIB) yang merupakan terobosan dari Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP) kini melengkapi layanannya untuk masyarakat dengan armada baru berupa mobil. ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City