Big Data Menurut Bank Indonesia, Teknologi yang Harus Diaplikasikan untuk Seluruh Negeri

JSC | 1 year ago

Teknologi Big Data diyakini kelak akan sangat berguna. Big Data mendukung proses pengolahan data yang jumlahnya makin banyak, beragam, dan sering kali tidak terstruktur. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) akan memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu cara untuk mengendalikan inflasi dan mendukung stabilitas keuangan.

Bank Indonesia sebagai bank sentral, menjadi pengawas ekonomi makro dari daerah-daerah di Indonesia. Lembaga ini juga merupakan penghubung ekonomi daerah dengan pusat. Gubernur BI, Agus Martowardojo, menyatakan bahwa Big Data mampu diaplikasikan pemerintah daerah untuk mewujudkan konsep kota pintar. Tidak hanya dari sisi peningkatan pelayanan publik, melainkan juga sektor pendidikan, kesehatan, transportasi, dan keamanan kota. Dengan data-data yang terintegrasi, pemerintah daerah juga akan lebih mudah menentukan kebijakan.

Apabila data yang diolah dengan Big Data dari setiap smart city dapat terhubung, maka bisa jadi suatu masalah yang ada di suatu kota, ditemukan solusinya di kota lain. BI juga akan lebih mudah memperoleh informasi di sektor keuangan, perbankan, non perbankan dan pasar modal dari seluruh penjuru negeri.

Meskipun demikian, Agus Martowardojo mengakui kalau ada tiga tantangan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan Big Data. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data. Data yang diperlukan kadang tidak dapat diakses terkait dengan faktor kerahasiaannya atau akses real-time belum memungkinkan karena faktor teknologi yang belum mendukung.

Tantangan kedua yaitu masalah kualitas data. Data yang masuk ke dalam sistem harus benar dan valid. Selain itu, data mentah yang akan diolah harus sesuai dengan spesifikasi tertentu agar menghasilkan output analisis yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, proses data cleansing atau pembersihan data menjadi hal yang penting.

Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan sumber daya manusia. Orang yang ahli dalam pengolahan data atau data scientist masih tergolong langka di Indonesia. Untuk itu, diperlukan kolaborasi dengan dunia pendidikan agar semakin banyak ahli pengolah data yang bisa dihasilkan dari sistem pendidikan dalam negeri. Terlepas dari masih banyaknya tantangan untuk pengaplikasian Big Data, BI optimis jika Indonesia akan mampu mengimbangi perkembangan teknologi pengolahan data tersebut.

Artikel lainnya

Layanan Pesan Antar dan Transaksi Non Tunai di Jakarta Fair 2017

Jakarta Fair 2017 akan kembali digelar di Arena JIExpo Kemayoran, 8 Juni – 16 Juli mendatang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga akan berpartisipasi ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City