Dibalik Cita-cita Cashless Society, Kenapa Harus Non Tunai?

JSC | 17 days ago

Mewujudkan cashless society memang tidak mudah. Laporan dari hasil survei yang dilakukan oleh ING International Survey Mobile Banking 2017 di 15 negara termasuk Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara di Eropa menunjukkan bahwa hanya 1% peserta survei yang menyatakan telah menjalani gaya hidup tanpa uang cash selama setahun terakhir.

Sebanyak 34% responden menyatakan ingin benar-benar melakukan transaksi tanpa uang tunai dan 78% menyatakan jika mereka ingin mengurangi penggunaan instrumen pembayaran tunai. Meskipun demikian, lebih dari tiga per empat orang percaya jika mereka tidak mungkin dapat sepenuhnya bertransaksi tanpa uang tunai.

Angka tersebut menunjukkan jika transaksi non tunai mungkin masih sulit diterapkan, namun tetap memiliki masa depan yang cerah. Apalagi jika menyoroti keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggiatkan transaksi tanpa uang fisik. Berikut beberapa diantaranya.

 

Kemudahan dan Keamanan Bertransaksi

Membawa alat pembayaran dalam bentuk kartu tentu lebih aman dan nyaman daripada membawa uang tunai. Selain praktis, jika kehilangan kartu atau instrumen pembayaran non tunai lain, kita tinggal meminta pihak bank atau pengelola jasa keuangan yang mengeluarkannya untuk memblokir transaksi dari instrumen tersebut. Lain halnya jika kehilangan dompet yang berisi uang tunai. Tentu sulit untuk melacak apalagi mendapatkan uang tersebut kembali, bukan?

 

Memudahkan Pelacakan Transaksi

Untuk kepentingan pribadi, pelacakan transaksi yang dilakukan tanpa uang tunai akan sangat berguna. Salah satunya untuk mengendalikan pengeluaran. Setiap rupiah yang dihabiskan akan tercatat dan dengan mudah diakses untuk mendapatkan informasi keuangan pribadi. Sedangkan untuk skala yang lebih besar, pencatatan transaksi non tunai akan memudahkan pemerintah daerah maupun nasional untuk mengetahui berbagai aspek-aspek perekonomian seperti jumlah transaksi jual beli yang terjadi di wilayah pemerintahannya, mengawasi transaksi-transaksi keuangan vital untuk pembangunan, hingga lelang pengadaan barang. Pengawasan yang mudah tersebut tentu akan berpengaruh untuk menekan angka penyelewangan dana dan transaksi ilegal.

 

Penyaluran Bantuan Sosial yang Tepat Sasaran

Bantuan sosial untuk warga kurang mampu dan subsidi pendidikan rawan disalahgunakan jika pemerintah menyalurkannya secara tunai. Praktik pemotongan dana oleh oknum juga kerap terjadi saat bantuan disalurkan dalam bentuk cash. Oleh karena itu, penggunaan instrumen keuangan non tunai dianggap tepat untuk menyalurkan dana bantuan sosial. Dengan kartu khusus, pemerintah juga bisa mengendalikan barang-barang atau kebutuhan apa saja yang bisa dibeli warga dengan dana bantuan tersebut. Sehingga subsidi yang dialokasikan untuk meningkatkan aspek-aspek tertentu, seperti Kartu Jakarta Pintar untuk meningkatkan taraf pendidikan warga, dapat digunakan sesuai peruntukkannya.

Artikel lainnya

Sudirman, Berjuang Tanpa Batas

Jenderal Besar Raden Sudirman, salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan dan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City