Teknologi yang Paling Mendefinisikan Smart City (Bagian I)

JSC | 2 years ago

Meskipun dianggap canggih dan populer, teknologi virtual reality (VR) atau kendaraan otonom yang menggunakan kemudi otomatis ternyata bukan kunci keberhasilan sebuah kota pintar. Frase smart city yang identik dengan infrastruktur modern dan command center futuristik, juga tidak sepenuhnya benar. Teknologi yang tampaknya sederhana berikut ini, menurut David Gilford di artikel yang dimuat technical.ly, ternyata paling penting untuk mewujudkan kota pintar.

 

Teknologi Pengenalan Individu

Jika suatu kota telah menerapkan teknologi yang memungkinkan setiap individu dikenali oleh sistem dengan mudah dan cepat, maka tempat tersebut bisa jadi telah menjadi smart city yang sesungguhnya. Sistem pengenalan dianggap penting untuk berbagai hal seperti keamanan, kemudahan pembayaran, bahkan untuk penyediaan fasilitas publik yang tepat sasaran.

Sebagai contoh, dengan pengenalan biometrik, setiap orang bisa meminjam sepeda dari halte atau stasiun kereta dan mengembalikannya di tempat lain sesuai kebutuhan. Warga mendapatkan alat transportasi yang praktis, sedangkan pihak penyedia juga tidak perlu takut kehilangan aset karena setiap penggunaan tercatat dalam sistem.

 

Informasi Berbasis Lokasi dan Pergerakan Individu

Pelacakan pergerakan warga tiap jam dan tiap hari yang diolah otomatis oleh suatu sistem, akan menyediakan informasi penting, salah satunya untuk mengatasi kemacetan. Dengan memahami lokasi dan pergerakan manusia dari tempat tinggalnya menuju tempat beraktivitas sehari-hari, akan membantu pemerintah menentukan kebijakan penyediaan transportasi umum. Tersedianya fasilitas transportasi yang sesuai kebutuhan warga, tentu akan menarik minat lebih banyak orang untuk beralih ke angkutan umum.

 

Teknologi untuk Mengobservasi dan Memahami Lingkungan

Sensor untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan penting untuk memastikan setiap orang hidup di lingkungan dengan kondisi optimal. Sensor yang terhubung dengan suatu sistem untuk menganalisis kualitas udara dan air, lengkap dengan kadar zat pencemar dan sumber pencemar, akan memudahkan pemegang kebijakan dalam menentukan aspek-aspek lingkungan yang perlu diperbaiki dari suatu kota. Kualitas lingkungan memang tidak dapat dipungkiri akan berpengaruh terhadap kualitas hidup warga dan lebih jauh lagi akan mempengaruhi anggaran pertanggungan jaminan kesehatan yang perlu dikeluarkan pemerintah. Selain “memasang mata” untuk kualitas lingkungan, kota pintar juga harus dilengkapi dengan sensor iklim dan kondisi lingkungan tertentu seperti sensor pergerakan lapisan tanah, kenaikan permukaan air laut, atau tinggi air sungai agar ancaman bencana alam dapat dideteksi sedini mungkin.

Artikel lainnya

Trotoar Ramah Disabilitas di Jakarta

Sebelumnya, trotoar yang ada di Jakarta belum cukup ramah bagi penyandang disabilitas, bahkan pejalan kaki secara keseluruhan. Lahan di pinggir jalan bagi pejalan kaki seringkali tak terawat, ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City