Cara Baru Pengaplikasian Sensor Kualitas Udara di Smart City

JSC | 2 years ago

Polusi udara adalah masalah sehari-hari yang harus dihadapi warga Ibukota. Berbagai macam polusi udara seperti asap kendaraan bermotor dan limbah udara yang dihasilkan sektor industri, bisa bertahan lama di lingkungan dan terbawa jauh dari lokasi sumber polusi. Jika terakumulasi di udara, polusi yang ditimbulkannya bisa membahayakan kesehatan manusia dan kelangsungan hidup organisme lain di lingkungan.

Polutan dan Akibatnya untuk Manusia

Polutan atau zat pencemar yang lazim ditemukan di wilayah perkotaan termasuk Jakarta antara lain karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida dari hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. Selain itu, ada banyak polutan udara lain yang berbahaya seperti benzena, merkuri, dan dioksin. Zat-zat tersebut diketahui merupakan penyebab kanker, gangguan pernafasan, keguguran, dan gangguan kesehatan serius lainnya.

Ozon yang berada di permukaan bumi juga termasuk polutan berbahaya. Tidak seperti ozon di lapisan atmosfer yang melindungi dari radiasi sinar ultraviolet matahari, ozon yang terbentuk di muka bumi dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Polutan tersebut merupakan emisi dari kegiatan industri dan asap kendaraan bermotor.

Sensor Pendeteksi Jenis Pencemar dan Kualitas Udara

Perangkat penting yang perlu tersedia untuk mengatasi masalah tersebut adalah sensor kualitas udara. Dengan mengetahui jenis pencemar atau polutan di suatu tempat, maka diharapkan penyebabnya dapat ditelusuri dan diatasi. Berkat kemajuan teknologi saat ini, sensor kualitas udara telah tersedia dengan harga yang relatif terjangkau.

Setiap negara dan kota punya cara tersendiri untuk memaksimalkan pemanfaatan sensor kualitas udara. United States Environmental Protection Agency (EPA) mengadakan Smart City Air Challenge untuk menggiatkan peran komunitas warga. Kompetisi tersebut bertujuan untuk mengetahui cara penyebaran sensor pemantau kualitas udara yang efektif sekaligus cara pengumpulan dan pemanfaatan data kualitas udara di dua kota pionir yaitu Baltimore dan Lafayette, Louisiana.

Di London, sebuah perusahan marketing dan pembiak merpati bekerja sama untuk memasang sensor pemantau polutan udara yang telah dilengkapi dengan Internet of Things (IoT) di burung merpati. Proyek yang dinamakan Pigeon Air Patrol tersebut merupakan bagian dari program pengembangan smart city. Warga dapat mengetahui kondisi udara di kawasannya dengan mengirimkan pertanyaan dan lokasi melalui media sosial Twitter, ditujukan kepada akun @PigeonAir.

Untuk mewujudkan kota sehat dan layak huni, inovasi penerapan sensor kualitas udara mutlak perlu dilakukan. Sebagai langkah awal, pemerintah bisa bekerja sama dengan perusahaan atau organisasi lain untuk memasang sensor yang dilengkapi dengan teknologi IoT. Dengan demikian, kondisi kualitas udara dapat diakses melalui aplikasi di perangkat eletronik yang terhubung dengan internet secara real time.

Artikel lainnya

Perpanjangan Masa Uji Coba OK-OTrip

Masa uji coba OK-OTrip diperpanjang selama tiga bulan hingga Juli 2018 mendatang. Awalnya, rencana masa uji coba program tersebut adalah tiga bulan mulai dari 15 Januari hingga 15 April 2018. Hal ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City