Magang di Jakarta Smart City: Dedikasi, Deduksi, dan Diskusi untuk Jakarta yang Lebih Baik

JSC | 2 years ago

Jakarta Smart City (JSC) adalah penerapan konsep kota cerdas dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mewujudkan pelayanan masyarakat yang lebih baik. Konsep Smart City akan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam memanfaatkan data, aplikasi, memberikan masukan, maupun kritikan secara lebih mudah.

Jakarta Smart City memiliki 6 indikator yaitu Smart Governance (pemerintahan transparan, informatif dan responsif), Smart Economy (menumbukan produktivitas dengan kewirausahaan dan semangat inovasi), Smart People (peningkatan kualitas SDM dan fasilitas hidup layak), Smart Mobility (penyediaan sistem transportasi dan infrastruktur), Smart Environment (manajemen sumber daya alam yang ramah lingkungan), dan Smart Living (mewujudkan kota sehat dan layak huni).

Unit Pelaksana Jakarta Smart City membuka program magang untuk para lulusan baru, profesional,  atau mahasiswa tingkat akhir. Kesempatan ini terbuka bagi mereka yang ingin mendapatkan pengalaman langsung atau ikut serta dalam program-program yang terkait konsep Jakarta Smart City sesuai keahlian. minat, dan disiplin ilmunya masing-masing.

Jakarta Smart City telah melakukan wawancara dengan Nadia Yosefina Nugroho (Nad) dari University of Washington, Seattle dan Nikolaus Herjuno Sapto Dwi Atmojo (Nik) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dua mahasiswa magang yang terlibat di Divisi Data and Analytics Jakarta Smart City. Berikut adalah petikan wawancaranya:

Mengapa Anda memilih Jakarta Smart City sebagai tempat magang?

Nad: Sebagai pilot project penerapan konsep kota cerdas dari Pemprov DKI Jakarta, terdapat segudang kesempatan untuk belajar dari para Tenaga Ahli yang mendedikasikan waktunya untuk Jakarta yang lebih baik. Dengan magang di JSC, mata saya terbuka pada hal-hal tentang Jakarta yang belum pernah saya pikirkan ataupun hadapi sebelumnya; dan merupakan suatu kehormatan sekaligus tantangan bagi saya untuk menjadi bagian dalam proses pencarian akar masalah dan tentunya, solusinya.

Nik: Karena awalnya saya ingin memperdalam ilmu dan pengetahuan saya dalam bidang pengembangan serta pemanfaatan data. Di kampus juga saya sedang memperdalam mengenai bidang Akuisisi Data dan Diseminasi Informasi. Memang selain di JSC juga sebelumnya ditawari untuk magang di tempat lain, namun untuk bidang Data, tidak ada. Jadi saya memilih JSC. Sebelum memutuskan untuk mengirim ke JSC pun, saya juga cari review atau suasana kerja di sana seperti apa, buka channel youtube JSC, karena kantornya sendiri juga open space, jadi saya lebih suka karena antar satu sama lain lebih terjalin komunikasinya. Jadi selain karena faktor bidang ilmu, karena suasana dan kebetulan suasana kerja mirip dengan ekosistem startup jadi emang cocok sama saya.

Apa yang Anda kerjakan selama magang di Jakarta Smart City?

Nad: Melakukan bimbingan teknis tentang kualitas data kepada lebih dari 70 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari berbagai dinas dan badan di pemprov DKI Jakarta, pengambilan data dari database (contohnya: sms gubernur dan qlue untuk mengetahui pengaduan-pengaduan masyarakat, waze untuk data kemacetan di Jakarta), cleansing berbagai macam data dari dinas-dinas di DKI Jakarta sesuai yang diperlukan untuk memastikan kualitas data dan analisis dan visualisasi data untuk dipresentasikan dalam rapat pimpinan.

Nik: Selama magang 3 bulan ini, mulai dari hal-hal paling kecil seperti cleansing data untuk meningkatkan kualitas data sehingga bisa diolah dan dianalisa, membuat visualisasi analisa mengenai fenomena-fenomena di DKI Jakarta. Membuat pengembangan Named Entity Recognition yang digunakan untuk mempermudah dalam ekstraksi informasi yang berkaitan dengan lokasi-lokasi, kecamatan, kelurahan dan nama jalan di DKI Jakarta jadi bisa sedikit membantu proses analisa.

Bagaimana Jakarta Smart City menambah pengetahuan dan pengalaman Anda?

Nad: Pertama, lewat berbagai diskusi langsung dengan dinas-dinas di pemprov DKI dan pihak ketiga yang membantu pembangunan Jakarta menjadi smart city, saya menjadi paham mengenai masalah-masalah yang sering dan berpotensi akan timbul di Jakarta. Kedua, dengan bantuan para tenaga ahli Tim Data JSC, saya mendapatkan banyak eksposur terhadap teknologi-teknologi baru yang dapat saya gunakan untuk mengoptimalkan proses pengolahan dan analisis data untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Dengan hal ini tentunya, saya bukan saja berkesempatan untuk menajamkan skill-skill teknis saya, tetapi juga skill-skill lain seperti skill menganalisa, komunikasi dan presentasi.

Nik: Dengan tantangan yang nyata. Kalau di kuliah rasanya gak pernah sangat menantang seperti ini, ada studi kasus nyata, terjun di environment yang nyata. Di samping itu juga belajar dan sharing dengan rekan-rekan kerja juga kalau ada ilmu atau hal baru yang belum pernah didapatkan selalu diajari. Di samping itu ini kali pertama juga ikut audiensi atau meeting dengan vendor teknologi ternama. Bertemu dan bertukar pikiran praktisi di bidangnya.

Bagaimana kesan Anda magang di Jakarta Smart City?

Nad: Salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Meskipun saya hanya seorang pemagang di JSC, saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide dan melakukan analisis-analisis masalah yang pastinya belum tentu saya dapatkan di tempat lain.

Nik: Hal yang akan saya ingat selepas dari sini adalah teman dan keluarga. Walau cuma 3 bulan di sini, Tapi hal yang lebih menyenangkan di samping belajar adalah mendapat teman baru. Bagi saya, kekeluargaan yang dirasakan selama bekerja itu nilai tambah banget. Belajar hal-hal dan pengetahuhan baru.

Apa saran Anda untuk Jakarta Smart City ke depannya?

Nad: Terus semangat untuk membangun Jakarta. Terus semangat mencari akar dari segala permasalahan di Jakarta. Terus semangat menjadi bagian dari solusi permasalahan di Jakarta. And most importantly, don’t forget to have fun with the process because it’s going to be a long-long ride ahead.

Nik: Dapat semakin menunjang kemudahan dan daya guna public information untuk mendukung kehidupan warga DKI serta menunjang perkembangan smart city di DKI Jakarta.

Artikel lainnya

Ketuk Pintu Layani dengan Hati, Layanan Kesehatan Gratis dari Rumah ke Rumah

Masalah Jakarta yang kompleks salah satunya disebabkan oleh kepadatan penduduk yang makin tinggi. Menurut WHO, rekomendasi kepadatan penduduk adalah 9.600 orang per km2. Sedangkan di Jakarta, ...

Hak cipta © oleh Jakarta Smart City